Belajar Kearifan Dari Raja Silahisabungan

Penulis: Multazam
Fotografer: Narendra

Sepenggal kisah Raja Silahisabungan di Silalahi. Membuka huta (perkampungan) hingga mewariskan beragam nilai budaya. Tugu makam raja menjulang gagah, persis di tepian danau toba nan-indah.

Di Silalahi, ada sensasi berbeda kala memandang Danau Toba.  Lokasi perairan di ujung utara Danau Toba ini memang mempesona. Luasnya perairan bak lautan lepas. Bibir pantainya membentang sekitar 28 kilometer. Wajar jika Danau Toba di Silalahi lazim disebut “Tao Silalahi”.

Tao dalam bahasa lokal berarti danau. Dengan kata lain, perairan danau toba diklaim sebagai “Danau Silalahi”.  Tersendiri, seakan berada di zona terpisah dari danau vulkanik terbesar di dunia itu. Rangkaian perbukitan hijau melengkapi indahnya Silalahi Nabolak. Menambah kekaguman pada Raja Silahisabungan. Sosok leluhur pembuka kampung, yang dalam tulisan ini kisahnya ingin diungkap lebih dalam.

Kami menginap di Desa Silalahi II, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Letaknya agak keperbukitan, namun berhadapan langsung dengan danau.  Kedatangan ke sana tengah malam tadi rupanya memicu tanya Bona Silalahi, pemilik penginapan.

“Kok datang tengah malam dan bukan hari libur?,” tanya Bona.

Mendengar penjelasan kami, Bona tiba-tiba kelihatan semangat. Sebagai warga asli Silalahi, Ia menguraikan silsilah marga miliknya. Asalnya dari Batu Raja, anak paling kecil Raja Silahisabungan dari istri pertama.

“Jadi Oppu Raja Silahisabungan punya delapan anak laki-laki.  Dari istri pertama ada Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Dariba Raja, Debang Raja, dan kami lah Batu Raja yang paling kecil. Dari istri kedua, itulah Tambun Raja” katanya menjelaskan.

Tugu Silahisabungan di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. (Narendra)
Bona menambahkan, kalau dirinya cukup aktif mendorong perkembangan wisata di kampungnya.  Meningkatkan kesadaran warga hingga mempromosikan pariwisata desa. Salah satunya melalui kegiatan tahunan dan pelestarian budaya di Silalahi.
“Silalahi ini unik, mulai dari bahasanya, alat musiknya, ulosnya berbeda dari daerah lain.  Sayang kali kalau tidak didorong menjadi ikon pariwisata,” ungkapnya.
Melalui bantuan Bona, perjalanan menelusuri jejak sejarah Raja Silahisabungan dimulai.
Kami diantarkan menuju Tugu Makam Raja Silahisabungan.  Tidak hanya itu, Ia juga menghubungi Pangaloan Tambunan, satu warga yang menurutnya cukup banyak mengetahui sejarah Raja Silahisabungan.
Setibanya di areal kompleks Tugu Makam, kami melipir ke sisi kiri.  Di sana terdapat rumah yang terasnya digubah menjadi warung.  Kediaman tempat tinggal penjaga kunci.  Para tamu diminta mengisi buku tamu. Bagi yang ingin berziarah, diberi kunci masuk ke ruangan inti Tugu Makam Silahisabungan.
Setiap hari lokasi tugu makam ramai dikunjungi. Baik warga Silalahi maupun pendatang. Ada yang sekadar berfoto, ada pula yang berziarah untuk memanjatkan doa meminta keselamatan dan doa restu. Demikian diungkapkan Marbun, salah satu penghuni rumah tersebut.
Marbun terbilang baru tinggal di sini. Ia adik ipar dari Sidabariba. Abang iparnya yang diamanahkan warga untuk menjaga kunci di seputar areal Kompleks Tugu Makam Silahisabungan.
Marbun kemudian menyeduh kopi untuk kami. Tak lama berselang, seorang lelaki tua berjalan menghampiri. Memakai topi koboi warna hijau, lelaki itu memperkenalkan dirinya.
“Tambunan,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Beliau adalah Pangaloan Tambunan. Orang yang direkomendasikan Bona membantu kami menggali informasi seputar kisah Raja Silahisabungan.
MEMBUKA HUTASILALAHI NABOLAK
Perbincangan diawali dengan mengungkap latar belakang sosok Raja Silahisabungan. Menurut tarombo, Raja Silahisabungan adalah generasi ke lima dari Siraja Batak. Anak Sorba ni Banua, seorang raja yang perkasa di Balige. Sorba ni Banua memiliki dua istri, yaitu anting malela boru pasaribu dan boru basopaet.
“Dari boru pasaribu lahir lima anak laki-laki.  Raja sibagot ni Pohan, Raja Sipaettua, Raja Silahisabungan, Siraja Oloan dan Siraja Hutalima,” Ungkap Tambunan

Tugu Silahisabungan di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. (Narendra)

Proses pindahnya Raja Silahisabungan hingga membuka perkampungan di Silalahi Nabolak dipicu perselisihan antara dirinya dan abang tertua, Raja Sibagot ni Pohan. Tindakan Raja Sibagot Ni Pohan terhadap adik laki-lakinya dinilai kurang bijak. Puncaknya saat dilaksanakan upacara Horja Sakti tanpa kehadiran adik-adiknya.

Tidak ingin perselisihan jadi lebih tajam, Raja Silahisabungan beserta Raja Sipaettua dan Siraja Oloan memutuskan pindah dari Balige. Setelah menerima jambar (bagian) Horja Sakti, mereka saling merestui.

Dikisahkan, karakter Raja Silahisabungan sebagai seorang yang berpendirian teguh. Sekali terucap kata darinya untuk meninggalkan kampung, maka pantang baginya menarik kembali ucapannya. Bahkan dalam cerita itu, Raja Silahisabungan berikrar bahwa asap apimu (raja Si Bagot Ni Pohan) pun tidak boleh kulihat, dan bila pohon pisangku berbuah mengarah ke kampung ini (balige) maka akan kutebang.

“Begitulah kalau orang-orang tua kita dulu udah berucap, pantang dilanggarnya. Anehnya kuperhatikan, memang tak ada di sini pohon pisang yang tumbuh arahnya ke sana (menunjuk arah balige)” ujar Pangaloan Tambunan sembil tertawa.

Perjalanan Raja Silahisabungan dalam menemukan perkampungan Silalahi Nabolak tidak mudah. Rintangan binatang buas hingga proses pertapaan yang magis telah dialami. Berjalan mulai dari arah timur (porsea sekarang), turun ke Meat, melintasi Janji Raja, Sabulan, Tamba, dan Pangururan.

Raja Silahisabungan lalu meneruskan perjalanan ke utara, tiba di atas Bukit Simandar. Dilihatnya danau amat luas dengan hamparan tanah datar. Lalu turun melalui Lereng Laksabunga. Karena asap api di Balige tidak mungkin lagi kelihatan dari tempat ini, maka Silahisabungan berkenan tinggal disitu. Tempat yang kemudian dikenal jadi Silalahi Nabolak.

MEWARISKAN NILAI-NILAI

Sembari menyeruput kopi, Pangaloan Tambunan meneruskan perbincangan mengenai Raja Silahisabungan. Bona, Marbun dan beberapa peziarah lain ikut nimbrung dalam pembicaraan kami. Masing-masing berbagi kisah, baik mistik maupun filosofis.

Satu hal menarik yakni tentang bagaimana Raja Silahisabungan membangun budaya sendiri, peradaban baru. Silalahi memiliki dialek dan bahasa lokal yang berbeda dari Toba. Percampuran antara Toba, Simalungun dan Karo. Begitupun alat musik dan berbagai ritual lain.  Misal Gondang Silalahi Nabolak yang punya ketukan dan irama khas.

Relief pada tugu Silahisabungan yang bercerita soal Raja Silahisabungan. (Narendra)

Pangaloan Tambunan menceritakan bagaimana peninggalan Raja Silahisabungan melalui ritual batu Sigadap masih berfungsi dalam penyelesaian sengketa antar masyarakat. Batu Sigadap merupakan batu di Silalahi Nabolak. Letaknya di Dusun Sidabariba Toruan, Desa Silalahi I.

Batu Sigadap terdiri dari dua buah batu. Satu batu dalam posisi terlentang (gadap), satu lagi dalam posisi berdiri tegak (jong-jong). Dikisahkan, dahulu ketika terjadi perselisihan antara anak keturunannya, Raja Silahisabungan bermohon pada Mulajadi Nabolon. Terjadi keajaiban dengan kemunculan dua batu itu.

Bak meja persidangan, masyarakat yang berkonflik akan di bawa ke Batu Sigadap. Masing-masing pihak akan menyatakan kebenaran dan bersumpah pada Mulajadi Nabolon. Barang siapa yang benar, maka hiduplah dia berdiri seperti batu Sijong-jong. Barang siapa yang ingkar, maka mati tergeletaklah ia seperti Batu Sigadap.

“Kalau sekarang sudah tidak ada lagi yang berani menyelesaikan persoalan melalui pengadilan Batu Sigadap.  Dulu seingatku sempat ada, tapi sebelum dilakukan ritual, salah satu pihak sudah minta maaf dan mengaku salah,” ungkap Pangaloan Tambunan

Warisan lain Raja Silahisabungan adalah Poda Sagu-Sagu Marlangan.  Sebuah wasiat untuk anak keturunannya agar selalu sayang menyayangi. Berdasarkan Tarombo, Raja Silahisabungan tercatat memiliki delapan anak laki-laki dari dua orang istri. Istri pertama, Pinggan Matio Boru Padangbatanghari. Istri kedua, Siboru Nailing.

Dari Pinggan Matio, lahir tujuh anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Dariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan si perempuan bernama Deang Namora.

Raja Silahisabungan memiliki banyak ilmu dan gemar berkelana. Saat tiba ke daerah Sibisa untuk manandanghon hadatuon (bertanding ilmu), ia diminta Raja Mangarerak untuk mengobati putri Siboru Nailing yang sedang sakit. Berkat ritualnya, Siboru Nailing sembuh. Perjumpaan antara keduanya memunculkan perasaan cinta. Akhirnya Raja Silahisabungan pun menikah dengan Siboru Nailing.

Dari pernikahan ini, lahir seorang anak laki-laki bernama Tambun Raja. Namun, karena situasi dan kondisi saat itu, Raja Silahisabungan terpaksa meninggalkan Siboru Nailing.

Selamatkanlah dirimu dan anak ini. Sebagai gantinya, kutitipkan sebuah cincin. Kalau Tambun Raja sudah besar, berikan kepadanya. Pertanda kalau aku lah ibu kandungnya,” begitu dikisahkan ketulusan Siboru Nailing melepas kepergian Raja Silahisabungan dan Tambun Raja.

Raja Silahisabungan bergegas pulang menuju kampung halamannya di Silalahi Nabolak. Sesungguhnya beliau menyimpan perasaan ragu. Bagaimana menjelaskan apa yang dialaminya kepada istri pertamanya, Pinggan Matio. Namun yang terjadi diluar dugaan, Pinggan Matio sangat menyayangi Tambun Raja. Bahkan Tambun raja menjadi saudara sepersusuan Batu Raja yang saat itu berusia balita.

Saat Tambun Raja beranjak dewasa, dirinya mulai mengetahui bahwa ia bukan anak kandung Pinggan Matio. Muncul niat mencari ibu kandungnya, Siboru Nailing.  Tambun Raja izin berpamitan kepada orang tua dan saudara-saudaranya lain. Dalam momentum  itulah Raja Silahisabungan mewariskan  Poda Sagu-Sagu Marlangan.

Raja Silahisabungan meminta istrinya membuat sagu-sagu marlangan berbentuk manusia yang diletakkan dalam bakul. Tikar dibentangkan, Raja Silahisabungan, Pinggan Matio dan anak perempuannya Daeng Namora duduk menghadap bakul berisi Sagu-sagu Marlangan. Disuruhnya seluruh anak lelakinya berkumpul duduk di kiri dan kanan.

Pangaloan Tambunan menunjukkan monumen Poda Sagu-sagu Marlangan di Kompleks Tugu Silahisabungan. (Narendra)

Setelah semuanya berkumpul, Raja Silahisabungan berdiri dan berdoa kepada Mulajadi Nabolon. Menyampaikan wasiat yang berisi:

  1. Ingkon masiholongan ma hamu sama hamu ro di pomparanmu, sisada anak sisada boru na so tupa masiolian, tarlumobi pomparanmu na pitu dohot pmparan ni anggimu si Tambun on. (Kalian harus saling mencintai antara kalian sendiri dan keturunan kalian sebagai satu kesatuan dan tidak boleh saling menikah di antara mereka, terutama keturunan kalian bertujuh dan keturunan Raja Tambun ini)

 

  1. Ingkon humolong rohamu na pitu dohot pomparanmu tu boru pomparan ni anggimu si tambun on, suang songon I nang ho Raja Tambun dohot pomparanmu inkon humolong roham di boru pomparan ni haham na pitu on. (Kalian bertujuh harus lebih menyayangi putera-puteri dari adik kalian si Raja Tambun ini. Begitu juga engkau Raja Tambun dan keturunanmu harus lebih menyayangi puteri dari ketujuh abangmu ini).

 

  1. Tongka dohononmu na ualu na so saama saina hamu tu pudian ni ari (Jangan pernah mengatakan dikemudian hari bahwa kalian berdelapan tidak berasal dari satu ayah)

 

  1. Tongka pungkaon bada manang salisi tu ari na naeng ro (Jangan pernah memulai pertikaian atau selisih paham antar kalian di kemudian hari)

 

  1. Molo adong parbadaan manang parsalisihan di hamu, ingkon sian tonga-tongamu ma si tapi tola, sibahen umum na tingkos na sojadi mardinkan, jala na so tupa halak na hasing pasaehon (Apabila ada pertikaian dan perselisihan di antara kalian, harus dari antar kalian sendiri menjadi hakim yang adil, dan jangan sampai orang lain menyelesaikan pertikaian itu)

Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-anaknya menjamah Sagu-sagu Marlangan. Tanda kesetian dan ikrar yang harus dijunjung tinggi ke delapan anak lelakinya. “Barang siapa melanggar wasiat, seperti Sagu-sagu Marlangan inilah dia, tidak berketurunan,” demikian Raja Silahisabungan berikrar saat itu.

TUGU MAKAM RAJA SILAHISABUNGAN

Menjelang siang, diskusi mulai beralih kepersoalan Tugu Makam Raja Silahisabungan. Dengan tanggap, Pangaloan menyampaikan bahwa informasi lengkap tentang sejarah pembangunan bisa dibaca di buku Memori Tugu Makam Raja Silahisabungan (Tumaras).

“Ada itu bukunya, nanti kukasi fotocopy-nya untuk kalian. Di situ lengkap semua sejarah pembangunan tugu ini,” kata Pangaloan.

Pangaloan Tambunan menunjukkan relief yang menceritakan perjalanan Raja Silahisabungan. (Narendra)

Setelah meminta kunci dari Marbun, Bona dan Pangaloan mengajak kami masuk ke dalam Tugu Makam. Berkeliling melihat karya megah anak-anak cucu keturunan Raja Silahisabungan. Sejak diresmikan tahun 1981, setiap tahun selalu diadakan upacara pesta tahunan.  Hanya tahun ini (2020) tidak diadakan, akibat pandemi COVID-19.

“Setiap tahun bergantian panitianya, digilir dari delapan keturunan anak laki-laki Raja Silahisabungan,” sebut Bona.

Proses pembangunan Tugu Makam Raja Silahisabungan merupakan bagian dari keinginan luhur anak cucu keturunan Raja Silahisabungan demi menghormati keagungan beliau. Selama pembangunan, banyak hal unik sekaligus mistis terjadi. Salah satunya ketika pembuatan relif di sekeliling tugu. Dilakukan berdasarkan petunjuk spiritual.

Relief tugu menggambarkan perjalanan hidup Raja Silahisabungan. Mulai dari Balige hingga membuka kampung di Silalahi Nabolak. Begitupun peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Raja Silahisabungan, semua tergambar dalam relief.

“Jadi yang melukis relief itu orang Siantar, masih keturunan Raja Silahisabungan. Kalau gak sesuai gambarnya dengan kejadian sebenarnya, jatuh itu semennya. Diubah lagi besok, sampai sesuai,” kata Bona Silalahi menambahkan.

Tepat di samping tugu, berdiri Rumah Bolon. Dibangun sekitar 2000-an.  Rumah bolon biasanya digunakan warga untuk bermusyawarah. Jika ada pesta tahunan, tempat ini sekaligus menjadi markas panitia mengadakan rapat-rapat rutin.

Saat kami masih di seputar tugu, Pangaloan menyempatkan pulang ke rumah dan buru-buru kembali sambal menenteng sebuah buku sebagai bahan bacaan untuk kami.

Tugu Silahisabungan di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. (Narendra)

Dari buku karya J. Sihaloho itu, diketahui bahwa pembangunan tugu makam diawali dari musyawarah besar Panitia Pusat Tugu Dan Tarombo Silahisabungan yang dipimpin oleh V. I Silalahi tanggal 9-12 Desember 1967.  Sedangkan proses peletakan batu pertama baru berlangsung pada tanggal 12 april 1969.

Setelah bahan bangunan tiba, mulailah dilaksanakan gotong royong. Masyarakat Desa Silalahi dan Paropo berduyun-duyun membantu membersihkan lahan. Penentuan poros sumbu tugu dan makam tidak dilakukan sembarangan. Melalui petunjuk Pak Sayuta, seorang ahli kebatinan yang konon berhubungan dengan arwah nenek moyang Raja Silahisabungan.

Melewati berbagai kendala dan sempat terhenti, Peresmian Tugu Makam baru dilakukan tanggal 23 November 1981. Artinya pembangunan menghabiskan waktu hampir 12 tahun. Upacara peresmian dilaksanakan dengan menggelar pesta lima hari berturut-turut.

Animo warga diluar dugaan. Acara manortor selalu padat.  Diiringi berbagai jenis alat musik, mulai Gondang Silalahi Nabolak,Gondang Sabangunan dari Parbaba Samosir, musik tiup dari Tambunan, Gondang Simalungun dan Gondang Karo yang dibawa warga Silahisabungan dari daerah masing masing.

Bagi anak cucu keturunan Raja Silahisabungan, tugu makam bukan sekadar bangunan biasa. Lebih dari itu, merupakan simbol semangat persatuan dan kesatuan. Bentuk penghormatan sekaligus mengenang keagungan raja dengan segenap nilai-nilai yang sudah diwariskan.

Mendengar cerita Pangaloan, Bona, Marbun dan peziarah lain, ada perasaan takjub dalam benak kami. Diskusi sederhana, namun penuh hikmah. Karakter, nilai-nilai budaya dan kearifan Raja Silahisabungan mengandung banyak pelajaran. Kisah perjalanan Raja Silahisabungan sungguh memberi kesan mendalam.(*)

 

Tinggalkan Balasan