Cerita Kopi Dari Sudut Utara Danau Toba

Penulis : Dinda Marley

DAIRI – Tao Silalahi adalah sudut Utara Danau Toba yang cantik dengan latar belakang gugusan perbukitan dan tebing yang indah. Kalau kita memilih datang dari jalur Laepondom, jalan menurun yang curam dengan tikungan yang tajam sekira 10 kilometer akan memacu adrenalin, meski pemandangan di kanan kiri adalah perbukitan yang menghijau. Kalau mau sedikit landai, pilih jalur dari Tongging di Kabupaten Karo. Kita akan menyusuri kaki-kaki perbukitan, perkampungan lalu tepian danau.

Baiknya menggunakan sepeda motor saja supaya ‘belanja mata’ dengan pemandangan ‘bak lukisan’ terpuaskan. Satu lagi, kondisi jalan yang sempit, berkelok dan berlubang, lebih mudah dihadapi dengan kendaraan roda dua. Saya dan rombongan melakukannya, beberapa waktu lalu. Kami sepakat mendatangi Desa Silalahi, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara dari Laepondom lalu pulang melewati Tongging.

Saya terakhir kali datang ke desa ini awal Desember 2018. Saat itu, digelar Festival Kopi Sidikalang. Tepian danau terbesar di Asia Tenggara dengan rumah-rumah kampung di pinggirannya semerbak oleh wangi ‘si biji hitam’ selama tiga hari. Bagi para pecinta dan penikmat kopi, wajib datang ke acara ini untuk menikmati kopi Sidikalang.

“Ada yang tak pernah dengar kopi Sidikalang?” tanya saya kepada teman-teman, semua menggeleng lalu menjawab, “Siapa yang tak kenal kopi Sidikalang.”

Bagi para pecinta kopi, Sidikalang adalah legendanya. Siapa yang tak kenal biji-biji hitam beraroma khas saat diseduh yang tumbuh di salah satu dataran tinggi Sumatera Utara ini? Kopi Sidikalang pernah merajai seluruh cercapan pengopi di Indonesia, bahkan dunia. Namun itu dulu. Kini, kopi Sidikalang harus berjuang melawan kopi-kopi lain yang juga cukup terkenal seperti kopi Doloksanggul, Mandailing, Karo, Simalungun, Gayo, dan lainnya.

Keinginan untuk mengembalikan masa jaya kopi Sidikalang pun digawangi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindang) Kabupaten Dairi lewat Festival Kopi Sidikalang di Tugu Silalahi, Desa Silalahi. Bertepatan dengan Festival Danau Toba (FDT) 2018, Dairi menjadi tuan rumah. Para petani kopi berdatangan dari berbagai daerah meramaikan acara.

Saat itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dairi Rahmat Syah Munthe. Dia mengatakan, peluang pengembangan industri kopi di dalam negeri cukup besar sebab konsumsi kopi domestik dan permintaan kopi dunia terus naik. Untuk merebut peluang pasar ini, kopi Sidikalang wajib meningkatkan daya saingnya mulai budidaya sampai pengolahan dan pemasaran.

“Festival kopi ini salah satu upayanya, ini ruang berkumpul dan berdiskusi pelaku usaha dalam rantai nilai kopi,” kata Rahmat waktu itu.

Dirinya yakin, festival akan memotivasi petani melakukan yang terbaik. Menjadi sarana promosi untuk membangun citra kopi Sidikalang dan mengedukasi masyarakat tentang cara mengkonsumsi kopi yang baik dengan barista class. Reputasi dan ke-khas-an muncul, terjalin kemitraan antar pelaku usaha dengan pihak luar sehingga mempercepat peningkatan kualitas kopi yang berkelanjutan.

“Pastinya meningkatkan kunjungan wisata kopi,” ujarnya.

Veryanto Sitohang, salah seorang tokoh masyarakat dan pelaku bisnis menambahkan, Dairi dikenal sebagai penghasil kopi terbaik di Indonesia meski beberapa daerah lain juga mengembangkan komoditas serupa. Menurutnya, citarasa kopi Dairi akan tetap dikenang para penikmat kopi, apalagi sekarang. minum kopi menjadi gaya hidup generasi milenial.

“Sebagai warga Dairi, kita mendukung promosi membuka pasar global kopi. Semoga petani sejahtera dan kopi dikenal hingga mancanegara,” kata pria yang biasa dipanggil Bang Very ini.

Kami menikmati musik dan kopi yang disuguhkan festival dengan bertenda di tepi danau. Meski hujan asyik menemani perjalanan hari, pemandangan alam, ramah-tamah penduduk dan kopi yang terus direguk melupakannya. Apalagi, ketika itu musim durian. Hujan membawa berkah sama kami, durian dijual murah. Sebelum kembali ke Kota Medan, masih sempat kami memesan ikan nila bakar dengan sambal kemiri yang lezat, makan sampai puas.

“Cuma Rp 100.000-an, biar dimasak inang itu, kita tinggal makan. Pulangnya bawa oleh-oleh seikat bawang merah,” kata saya sambil menghabiskan kopi terakhir.

Kalau tak membawa tenda, di Tao Silalahi banyak tersedia penginapan mulai harga Rp 100.000-an sampai Rp 300.000-an. Fasilitasnya sudah lumayan bagus, minimal ada kamar mandi dan kasur busa. Untuk makan, bagi Muslim harus sedikit jeli, cuma ada beberapa rumah makan yang menyediakan makanan halal. Kalau ragu, bawa bekal dari rumah, dijamin awet karena cuaca sejuk membuat makanan lama basi.

Pulang mengambil jalur tanah Karo, sepanjang jalan saya terus mengucap “Subhanallah…” Punggung-punggung bukit cantiknya tak ketulungan, selain hijau, ada yang orange karena pepohonan yang tumbuh sedang meranggas. Atau coklat kehitaman, sebab ilalangnya dibakar atau terbakar. Kawasan ini memang rawan kebakaran hutan dan lahan. Keindahan alam harus hidup berdampingan dengan terik yang menyengat serta angin yang lumayan kencang, ini yang menyebabkan gesekan antar dahan dan ranting kering, lalu membakar dengan cepat perbukitan.

Tiba di Berastagi, kami mampir ke sebuah cafe yang berada di depan pasar tradisional kota buah dan sayur ini. Dua gelas espresso Arabika Karo saya pesan bersama camilan pisang goreng dan bakwan. Kopi dalam gelas mini lenyap di tenggorokan, kami melanjutkan perjalanan. Meski pasar buah memanggil-manggil untuk sekedar singgah dan cuci mata, kami yang mulai lelah terus berjalan. Namun ketika melintasi Panatapan, kami memarkirkan kendaraan.

 

“Sebentar saja, minum kopi dan jagung rebus, sekalian memastikan bukit dan air terjun Sikulikap masih ada,” kata saya tertawa.

Air terjun Sikulikap berada di Desa Doulu, Kecamatan Berastagi-Martelu, Kabupaten Karo. Panorama alam yang disajikan adalah jejeran pepohonan mengelilingi air terjun setinggi 30-an meter. Perbukitan yang menghijau adalah Bukit Barisan yang masuk kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura), kawasan lindung yang menjadi daerah tangkapan air dan habitat kera. Tak salah kalau Aqua memilih lokasi pabriknya di sini. Setiap hari, truk pengangkut galon-galon berisi air mineral hilir-mudik.

Udara yang adem juga menjadikan destinasi ini paling sering didatangi warga Medan yang kegerahan dengan cuaca kota, atau mereka yang ingin sejenak meninggalkan hiruk-pikuk dan kebisingan. Meski, setiap malam, jejeran kedai-kedai di Panatapan adu bising dengan house musik dan lampu ala diskotik. Satu jam dirasa cukup, kami menuju rumah. Menyusuri aspal yang menurun dan berkelok, seorang teman berteriak agar mematikan mesin motor.

“Biar jalan sendiri, hemat bensin. Jalannya bagus dan turunan terus, jadi seperti naik sepeda,” ucapnya diikuti teman yang lain.

Tinggalkan Balasan