Cerita Seruni yang Membatu di Dinding Kaldera Toba

Kapal Pariwisata saat membawa wisatawan melihat Batu Gantung. (Damai Mendrofa)

Penulis dan Foto: Damai Mendrofa

Bagian batu berwarna hitam itu, dikisahkan sebagai rambut panjang Seruni Boru Sinaga Putri Raja Sinaga yang dipaksa menikah dengan pariban-nya
Dalam suku Batak, pariban adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah

———

Semilir dan sejuk bukan main. Angin melintasi permukaan Danau, membawa partikel uap air, lalu menyapa wajah saya. Alogo Toba memang khas…

Jam di pergelangan tangan menunjuk pukul 12:00 WIB, saat tanggal berada di penghujung Oktober. Duduk di emperan tepian Dermaga Atsari di Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon (Girsib), Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dermaga kecil yang di salah satu tepian danau Kaldera Toba.

Beberapa kapal pariwisata sedang parkir, sebagian besar sudah mengangkat jangkar, membawa tamu ke Batu Gantung dan Tomok. Di Batu Gantung kapal hanya sekedar melintas atau berhenti sebentar. Pengunjung diberi waktu mengabadikan batu sarat legenda, lalu kapal melaju menuju Tomok di Pulau Samosir. Di sana, penumpang diberi waktu dua jam untuk berkeliling sebelum kapal kembali menuju dermaga.

Dua lokasi ini memang jadi trayek tetap kapal wisata dari Dermaga Atsari. Ongkosnya Rp 40.000 per orang. Saya hanya ingin ke Batu Gantung, tak ada trayek khusus ke sana kecuali menyewa kapal cepat. Negosiasi harga dengan seorang pemilik kapal bernama Mian Hamonangan Simanjuntak. Sepakat, saya merogoh kocek Rp 300.000 untuk menyewa kapalnya.

Sedikit melompat berhati-hati, saya menaiki kapal. Usai mengisi minyak, pria berusia 67 tahun ini menerabas permukaan air menuju Batu Gantung. Sepanjang perjalanan, di kanan saya tersaji lanskap yang memadu tepian Danau Toba, perbukitan hijau, tebing-tebing batu dan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan Lintas Sumatera yang sudah disulap menjadi usaha, rumah makan atau perhotelan.

Sementara di sisi kiri, tersisir lanskap Pulau Samosir dengan lekukan-lekukan bukit menghijau membentuk guratan artistik. Di perairan danau, terlihat lalu-lintas kapal membawa pelancong, kebanyakan satu tujuan dengan saya.

Batu Gantung di tebing batu yang melegenda di masyarakat di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (Damai Mendrofa)

Sekitar sepuluh menit kapal melaju, saya tiba di tebing Batu Gantung. Mian mengurangi kecepatan, memberi kesempatan kepada saya mengabadikan batu yang penuh kisah rakyat itu. Permukaan danau beriak tenang, air menghijau lumut menandakan kedalaman yang menggetarkan hati, meski di pinggiran.

 

Selama di situ, kami tak sendiri. Seorang ibu asyik mengayuh sampan dan menebar jaring ikan tak jauh dari tepi tebing. Sementara tiga anak muda bertelanjang dada menaiki perahu dan meminta agar saya melempar uang kertas ke air agar mereka berenang dan berebut mendapatkannya. Saya urung mengiyakan permintaan mereka setelah diingatkan Mian.

“Nanti kebiasaan, apalagi mereka suka memaksa,” ucapnya.

Ihwal Nama Parapat

Mian melajukan kapal perlahan mengikut bibir tebing, lalu memutar menjauh sesuai permintaan saya agar dapat beberapa lokasi pengambilan foto. Benarlah, batu itu menggantung di tebing batu dan sekilas menyerupai sosok seorang perempuan.

Panjangnya sekitar dua meter. Di bagian paling bawah batu, menghitam. Bagian hitam itu juga terdapat di bagian belakang batu meski hanya setengahnya. Semakin ke bagian atas kian sedikit membentuk garis-garis lalu menyatu dengan garis di bagian tebing, tempat batu menggantung.

Batu Gantung di tebing batu yang melegenda di masyarakat di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (Damai Mendrofa)

Bagian batu berwarna hitam itu, dikisahkan sebagai rambut panjang Seruni Boru Sinaga, putri Raja Sinaga yang dipaksa menikah dengan pariban-nya. Dalam suku Batak, pariban adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah. Seruni menahan sedih, cintanya dengan lelaki idaman pupus. Sementara ia tak ingin durhaka dengan melawan kehendak orangtua.

Di tengah keputus-asaannya, Seruni berencana bunuh diri dengan melompat ke Danau Toba. Sebelum niatnya terlaksana, dia terperosok dan masuk ke lubang di tebing dan terhimpit batu. Seruni tak sendiri, Toki, anjing peliharaannya juga ikut bersamanya.

Seruni tak dapat bergerak dan memutuskan agar mati dihimpit batu saja. Dia lalu berteriak dalam bahasa Batak: parapat, parapat batu… Artinya, merapat, merapatlah batu… Usai peristiwa itu, bumi diguncang gempa, menyusul munculnya batu menyerupai perempuan yang menggantung di tebing. Batu menyerupai anjing juga muncul dan diyakini merupakan Toki. Kini, kisah itu diceritakan turun-temurun, menjadi asal penyebutan nama Parapat.

“Itulah cerita orangtua-orangtua di sini. Tapi gak ada yang tahu kapan kejadiannya, ceritanya turun temurun. Orangtua saya, yang meninggal dunia umur 80 tahun saja, gak tahu dia kapan kejadiannya. Berarti oppung saya pun gak tahu kapan kejadiannya,” kata Mian.

 

Seruni Jadi Martir

Kisah Seruni yang melegenda menjadi sarat makna di tengah relasi sosial masyarakat Batak. Seruni dinilai menjadi martir untuk menghentikan keharusan menikah dengan pariban. Persepsi yang memunculkan kesan memaksa. Bagaimana tidak, bagi yang melawan akan dianggap durhaka dan akan membawa malapetaka.

“Ya, sejak itu, harus menikahi pariban sudah tidak dilakukan lagi. Bukan berarti ditiadakan, tapi yang sifatnya memaksa, sudah tidak ada lagi di sebagian besar masyarakat adat di Batak,” kata Irwan Sinaga, warga Parapat.

Kapal Pariwisata saat membawa wisatawan melihat Batu Gantung. (Damai Mendrofa)

Penuturan serupa juga datang dari warga lain, Bona Sinaga. Pria yang kesehariannya sebagai pemandu wisata di Dermaga Atsari ini mengaku, kisah Batu Gantung berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Batak, terutama di Parapat.

“Jadi pesannya memang, tidak ada lagi dipaksa-paksa sekarang, semua berdasarkan suka sama suka. Orangtua, ya ada juga yang menjodohkan, tapi ya kalau cocok dilanjutkan, kalau tidak ya tidak dipaksa,” kata Bona.

 

Bertuah

Tidak saja bernilai filosofis, tapi juga magis. Sebagian orang meyakini ini batu bertuah yang mampu memberi rejeki. Dikuatkan dengan pengalaman Mian. Ia mengaku pernah membawa sepasang suami-istri dari Kabupaten Dairi berziarah ke Batu Gantung, menjelang Natal waktu itu. Mereka membawa beras, sirih dan telur yang diletakkan di piring, lalu menaruhnya di gua yang berada di tebing bagian bawah Batu Gantung, tepatnya di bibir danau.

“Memang asli ku lihat. Setelah dari sana, setahun kemudian, mereka datang lagi dan mencari saya memberitahukan kalau mereka sudah punya anak. Sekarang pun, masing sering ada yang datang berziarah,” ujar Mian.

 

Gua Batu Gantung hingga ke Dolok Sigualon

Tebing di bawah Batu Gantung menyisakan cerita lain, yakni gua yang diyakini memiliki terowongan hingga ke Dolok Sigualon, tak jauh dari Monkey Forest Sibaganding. Penuturan Bona, pada 1998, pernah sepasang suami-istri berkewarganegaraan Belanda memasuki gua sampai ke tengah terowongan. Langkah mereka terhenti karena bertemu seekor ular besar. Mereka akhirnya memutuskan keluar dari gua.

“Mungkin ular penjaga gua, orang Belanda itu katanya percaya. Itulah dibilang mereka agar dijaga gua…” kata Bona.

Mian Hamonangan Simanjuntak saat menunjukkan pintu Gua di kawasan tebing di bawah Batu Gantung. (Damai Mendrofa)

Masa penjajahan, lanjut dia, juga pernah digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang untuk lari dari kejaran Belanda.

“Lari ke dalam gua itu mereka, jadi dicari Belanda gak ketemu,” tukasnya.

Abdul Rahman Manik, akrab disapa Detim Manik dan belakangan populer dengan sebutan Anak Parherek, pengelola Mongkey Forest Sibaganding mengamini dugaan kuat keberadaan gua yang tembus hingga ke Dolok Sigualon, perbukitan.

Detim bahkan memprediksi, Seruni Boru Sinaga dan orangtuanya dulu tinggal di kawasan perbukitan Sibaganding. Dia juga menceritakan, gua tersebut di masa penjajahan Belanda juga sempat digunakan.

“Jadi kalau Belanda dulu mau menurunkan kayu, katanya dimasukkan ke gua itu, barulah di seret sampai ke danau,” ujar Detim.

 

Batuan berumur 250 juta tahun

Cerita rakyat soal Batu Gantung membuat saya semakin penasaran. Penelusuran pun berlanjut. Saya mencoba mencari tahu dari sisi ilmu pengetahuan. Tanpa harus membenturkan sains dan mitologi, Batu Gantung ternyata sudah dikaji dari sudut pandang geologi. Wajar saja jika situs ini menjadi salah satu dari 16 geosite di Kaldera Toba.

Cerita Batu Gantung menjadi legenda tersohor bagi kawasan Danau Toba. (Damai Mendrofa)

Vice Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba Gagarin Sembiring menjelaskan, Batu Gantung merupakan batuan dasar danau. Dalam kajian geologi, masuk ke dalam jenis meta lime stone atau meta batu gamping.

“Itu adalah batuan tua, batuan dasar yang berumur 250 juta tahun. Sangat luas, batuan ini adalah bagian penting untuk konservasi kita karena dia bersifat akuifer,” ujar pakar geologi ini.

Istilah lain, batuan ini disebut karst. Dilansir dari Santosa dan Adji (2004), sifat akuifer (aquifer) adalah lapisan yang dapat menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis.

Gagarin melanjutkan, Batu Gantung adalah manifestasi dari proses pelarutan yang membentuk stalaktit. Biasanya, stalaktit juga ditemukan di dalam gua. Bukan produk letusan Gunung Toba melainkan tinggalan akibat letusan yang merupakan batuan dasar pembentuk dinding kaldera.

“Ini merupakan dinding kaldera dari super volcano,” pungkasnya.

Batu Gantung masih menjadi pilihan utama bagi pengunjung yang datang ke Parapat. Selain menawarkan cerita yang menarik, keindahan alam di sekelilingnya akan memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan.

Tinggalkan Balasan