Diskusi Budaya Dalam Rangka Pengembangan Promosi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Danau Toba

Diskusi Budaya Dalam Rangka Pengembangan Promosi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Danau Toba dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2021 di Ruang Rapat Kantor BPODT. Adapun output dalam diskusi adalah terkumpulnya ide-ide atau usulan dalam rangka pengembangan promosi pariwisata dan ekonomi Kreatif Danau Toba.

Diskusi dibuka oleh Kepala Divisi Atraksi dan Daya Tarik Wisata ( Bapak Ristyanto). Nelson Lumbantoruan menjelaskan secara singkat visi misi BPODT, pentingnya Storynomic Tourism. Selanjutnya meminta ide-ide dari seluruh undangan untuk dapat dijadikan sebagai bahan diskusi dalam rangka pengembangan promosi pariwisata dan ekonomi Kreatif Danau Toba. Bapak Thomson menjelaskan telah mengajukan proposal ke BPODT dengan Topik: Ngobrol Budaya dan mengusulkan 10 bahan diskusi.

Bapak Prof Dr. Robert Sibarani memberikan paparan singkat. Dua hal penting yang perlu dibedakan dalam mengangkat potensi seni budaya yang ada di Kawasan Danau Toba yakni: Tradisi Budaya dan Atraksi Budaya. Tradisi Budaya perlu diangkat dengan menjaga keasliannya, tidak boleh diganggu demi untuk menjaga kelestarian budaya tersebut, sedangkan Atraksi Budaya adalah kreasi yang dapat dilakukan terhadap sebuah produk budaya tersebut. Kedua hal ini dapat dimanfaatkan dalm rangka pengembangan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Danau Toba. Selain hal di atas, sangat diperlukan revitalisasi terhadap beberapa warisan seni budaya yang terdapat di Kawasan Danau Toba

Bapak Irwansyah Harahap berpendapat bahwa salah satu tema besar Danau Toba adalah Geopark Kaldera Toba ( Geodiversity, Biodiversity, Culturdiversity). Selain itu beliau berpendapat perlunya membangun panggung–panggung tradisi budaya di setiap Kabupaten. Ada 5 juta orang Batak sebagai market utama Danau Toba yang dapat digait melalui wisata religi dan wisata Bona Pasogit

Bapak Albiner Siagian menjelaskan siap menghidupkan kembali cerita-cerita lokal Danau Toba untuk dijadikan sebagai Storynomic. Bapak Mangatas Pasaribu berpendapat perlunya melakukan rekayasa terhadap pertunjukan seni budaya agar menarik ditonton. Produk budaya harus menjadi Ekonomi Kreatif. Sudah waktunya juga melakukan evaluasi terhadap souvenir-souvenir yang ada di Danau Toba yang mana sekarang ini sudah didatangkan dari luar Danau Toba. Perlu dilakukan Festival Ukir dengan mendatangkan ahli-ahli. Bapak Saragih menyampaikan cenderamata wisata wajib harus berkualitas dan mempunyai latar belakang filosofi Danau Toba. Cinderamata berbasis mitologi. Perlu menggaungkan wisata leluhur, perlu menggiatkan tanaman endemic Danau Toba

Bapak Jonner Hasugian berpendapat perlunya perpustakaan atau pusat informasi yang menyimpan dokumen2 kearifan local. Naskah Kuno. Bapak Gustanto menyampaikan perlunya guide local yang berkualitas yang mampu menjelaskan tentang kearifan local. Mengembangkan Desa Adat dan Desa Wisata. Bapak Maruli Damanik menyampaikan perlunya kemasan yang baik untuk produk UKM Danau Toba. Memperbanyak Event, seperti: Festival Marsuntil. Perlu kalender Event. Manguji Nababan menyampaikan perlunya menyelenggarakan event-event budaya dengan narasi- narasi yang menarik. Ojax Manalu menyampaikan perlunya menggali dan menyelenggarakan atraksi wisata yang berbeda di masing-masing kabupaten. Perlu meningkatkan SDM local, Perlu Data base Tradisi Budaya dan Atraksi budaya. Bapak Jhonny menyampaikan atraksi harus selalu ada di setiap objek2 wisata. Perlu memperbanyak spot -spot foto. Hendara Kaban menyampaikan perlunya pengembangan promosi, tradiri dan atraksi budaya.

 

Kesimpulan dan tindak lanjut dari diskusi ini adalah sebagai berikut :

  1. Pengumpulan ide-ide untuk pengembangan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Danau Toba supaya mengikuti patron yaitu: Tradisi Budaya dan Atraksi Budaya
  2. Hasil diskusi awal ini akan dijadikan sebagai bahan untuk diskusi bulanan tahun 2021
  3. Perlunya menggali terus ide-ide untuk pengembangan promosi pariwisata Danau Toba

 

 

Tinggalkan Balasan