Eksotisme Pardepur, Persemayaman Abadi Raja Jehutan

Dermaga Muara, akses menuju Pulau Sibandang. (Damai Mendrofa)

Penulis dan Foto: Damai Mendrofa

Oppung Raja Hunsa Rajagukguk tersohor dengan gelar Raja Jehutan. Penguasa Pulau Sibandang di abad ke18. Ada juga kuburan-kuburan lain yang masih satu garis keturunan. Persemayaman abadi yang letaknya dekat Dermaga Sibandang yang dibangun pemerintah ini sudah disemen dan dicat putih, namun masih menonjolkan citra Batak yang kental

—–

Klakson kapal fery yang di lambungnya bertulis KMP Putih Muara 1 mendengung panjang, pertanda kapal akan melepas jangkar. Dari Pelabuhan Muara, Kecamatan Muara di Kabupaten Tapanuli Utara, kapal akan menyeberang ke dermaga di Pulau Pardepur. Pulau yang kini dikenal dengan nama Sibandang.

Isi kapal lengang, sedikit penumpang, di antaranya empat sepeda motor. Melintasi perairan Danau Toba hanya sepuluh menit karena jarak pelabuhan Muara dan dermaga Sibandang sangat dekat. Ongkosnya pun murah, Cuma Rp 5.000 per-orang. Jika membawa sepeda motor, ongkosnya naik menjadi Rp 25.000 dan semakin mahal kalau membawa mobil Rp75.000.

Kapal berlabuh di dermaga yang dikelola swasta. Jalan sudah dibeton saat kami lintasi, sampai ke permukiman penduduk, terutama jalan menuju pusat Desa Sibandang yang menjadi tujuan kedatangan.

Kesan pertama menginjakkan kaki di pulau ini ada sejuk dan tenang. Rumah-rumah warga tersusun berjarak dengan pekarangan yang luas. Tumbuh pohon-pohon rindang yang sebagian menua, terlihat dari batangnya yang penuh lumut.

Partukkoan, kursi tempat pertemuan para raja di Desa Sibandang. (Damai Mendrofa)

Penduduk menyapa dengan senyum ramah dan mimik bersahabat. Sebuah warung terlihat dipenuhi kaum adam yang bercengkerama dalam bahasa Batak. Rumah-rumah setengah permanen kebanyakan pintunya tertutup, mungkin pemiliknya sedang di ladang.

Secara administratif, Pulau Pardepur dibagi menjadi empat desa yakni Sibandang, Sampuran, Papande dan Huta Lottung. Desa Huta Lottung hanya berpenduduk 18 Kepala Keluarga (KK), sedangkan Desa Sibandang ada 312 KK atau sekitar 1.000 jiwa lebih.

Berjalan kaki sekitar 15 menit dari dermaga , di kiri jalan terlihat makam Oppung Raja Hunsa Rajagukguk yang tersohor dengan gelar Raja Jehutan. Penguasa Pulau Sibandang di abad ke-18. Ada juga kuburan-kuburan lain yang masih satu garis keturunan. Persemayaman abadi yang letaknya dekat Dermaga Sibandang yang dibangun pemerintah ini sudah disemen dan dicat putih, namun masih menonjolkan citra Batak yang kental.

Di sisi sebelah jalan, terdapat situs Partukkoan atau kursi-kursi batu tempat raja-raja menggelar pertemuan. Ada tujuh kursi yang tersusun membentuk setengah lingkaran. Di belakangnya, menjulang pohon beringin tua. Sekitar 15 meter ke depan, ditemui rumah bercat hijau muda dibalut ornamen yang lekat dengan rumah-rumah di masa kolonial Belanda.

Jalan kemudian sedikit berbelok. Tampak di tengah permukiman menjulang deretan rumah adat Batak. Satu di antaranya rumah bolon yang menjadi jejak kerajaan Raja Jehutan Rajagukguk dari Sorta Oloan. Rumah penuh gorga di dinding luarnya itu diperkirakan dibangun pada 1806.

“Dia raja, pemilik kampung. Di RPJMDes tanah Sibandang disebut tanah Pardepur. Tujuh anak Raja Jehutan-lah pemiliknya. Kalau antar pulau di Danau Toba, dia diterima baik karena pengetahuan dan kemampuannya. Kalau dibilang, ‘datang Raja Pulo, dialah itu…” kata Kepala Desa Sibandang Pakter T Sinaga saat berbincang di rumahnya.

Pakter adalah kepala desa yang sedang menjalani periode keduanya. Dia keturunan keempat dari Boru Situmorang, istri keempat Raja Jehutan. Ibunya adalah Huntala Rajagukguk, keturunan ketiga Raja Jehutan. Huntala, adalah putri kedua dari Padang, keturunan kedua Oppung Harangan yang dikenal sebagai kapala nagari. Oppung Harangan merupakan anak keempat Raja Jehutan.

Sisi kanan rumah bolon terdapat rumah tumpan. Berbentuk rumah adat, fungsinya sebagai tempat menyimpan beragam barang peninggalan raja. Ada hombung yang pernah menjadi tempat persembunyian Sisingamangaraja ketika Belanda datang. Ada juga perlengkapan masak dari tanah seperti hudon panguhatan atau tempat penyimpanan air. Di dinding rumah, terpajang foto-foto Raja Jehutan, para kerabat dan keturunannya.

 

Cat Merah dari Darah?

Ukiran gorga di dinding luar rumah bolon didominasi warna merah, putih dan hitam. Ada yang menggambarkan ujung tombak, ikan, unggas dan binatang berkaki empat. Dua dompak dipasang di sudut rumah bagian depan.

Satu dompak beberapa tahun lalu pernah hilang dicuri namun akhirnya kembali. Sang pencuri, tak berhasil menjualnya. Entah mengapa, dia meninggalkannya di kebun warga.

Cerita menarik lainnya, cat merah di gorga adalah darah manusia. Ihwalnya, Raja Jehutan memerintahkan budaknya mencat rumah bolon, ternyata, cat yang digunakan tidak lengket ke kayu. Secara tak sengaja, tangan budak itu tergores dan darahnya menempel di papan. Peristiwa ini diberitahukan ke raja bahwa hanya darah manusia yang dapat lengket di papan dinding rumah. Raja lalu mengorbankan para budak untuk diambi darahnya, kemudian dijadikan cat.

Kisah ini menjadi cerita turun temurun. Pakter dengan yakin mengatakan, peristiwa sadis itu sungguh terjadi.

“Betul itu, budak-budaknya dipotong, darahnya dijadikan cat. Ajaiblah papannya itu,” tuturnya.

Bolon’s house, a legacy of  Raja Jehutan in Sibandang Village. (Damai of Mendrofa)

Dia semakin menyakinkan dengan bilang, sampel darah pernah diuji seseorang dari Belanda. Hasilnya memang darah.

Parsaulian Rajagukguk, 84 tahun, keturunan ketiga dari Raja Jehutan juga membenarkan cerita berdarah itu. Dia adalah putri ketiga Padang Rajagukguk, saudara Huntala Rajagukguk, ibu dari Pakter.

Sekedar mengingatkan, Padang Rajagukguk merupakan anak kelima dari Oppung Harangan Rajagukguk. Padang Rajagukguk adalah anak keempat Raja Jehutan dengan istri keempatnya Boru Situmorang.

Raja Jehutan punya empat Istri. Selain Boru Situmorang, istrinya yang lain adalah Boru Parhusip, Samosir dan Simare-mare. Dari kempat istrinya, Jehutan mendapat tujuh anak yaitu lima laki-laki dan dua perempuan.

Dompak Rumah Bolon di Desa Sibandang. (Damai Mendrofa)

Saat ditemui, Parsaulian sedang duduk di warungnya. Mengenakan sarung dan membalut kepalanya dengan kain merah maroon bermotif bunga, dia menyambut kami dengan ramah. Perempuan ini menamatkan Sekolah Guru Bantu (SGB) di Balige pada 1953. Pada 1957, dia mendapat tugas menjadi guru sekolah dasar di Pulau Sibandang.

“Hanya gorga ini yang bertahan. Katanya dari dulu gak pernah direnovasi karena darah manusia. Catnya darah itu, dari Hatobannya (pembantu),” katanya sambil berupaya mengingat semua kisah.

Meski telah menjadi kisah klasik yang bertebaran di berbagai tulisan, Paris Rajagukguk menyangkalnya. Saudara bungsu Parsaulian yang lama menetap di Jakarta mengatakan, cerita itu tidak dapat dipastikan. Dia malah khawatir cerita itu akan memunculkan stigma buruk kepada oppung-nya.

“Saya belum pasti, cerita dulu saya gak tahu. Nanti dibilang pula oppung saya itu yang mbeleh (memotong) orang, setahu saya itu cat. Nanti disebarin oppung si Paris itu mbeleh orang, jadi berdosa. Ya itu pribadi saya, saya gak mau oppung saya disebut tukang bunuh, berdosa nanti, dosa itu tujuh turunan,” urai Paris.

Apalagi menurut dia, Jehutan seorang raja yang bersahabat kepada semua orang. Di masa hidupnya, banyak kebaikan dilakukan. Dia sering menjamu dan mengundang datang ke kerajaan.

“Oppung saya kalau ada orang lewat dari danau ber-solu, dipanggilnya untuk dijamu. Pesta dibuat, udah kenyang baru diberangkatkan. Tak ada tikar selebar halaman ini, oppung saya punya, tikar daun pandan.  Dia juga sering menggelar pesta dengan gondang, datang semua tamu-tamunya,” tuturnya.

 

Menua dimakan usia

Hak waris rumah bolon saat ini adalah Reinhard Rajagukguk, garis keturunan keempat Raja Jehutan. Reinhard adalah anak dari Dolok Rajagukguk di garis keturunan ketiga. Sementara Dolok merupakan anak dari Jittar di garis keturunan kedua dan anak dari Oppung Harangan.

Reinhard tinggal di Jakarta. Rumah bolon tak dihuni, hanya dijaga seorang warga yang diberi kepercayaan merawat dan membersihkan.

Kondisi rumah menua dimakan usia. Dinding sisi kiri rusak, ditutupi triplek usang. Papan dan kayu rumah lapuk. Meski atap sudah diganti seng, tangga di semen serta lantai dikeramik.

Pakter bilang, rumah bolon merupakan kekayaan Desa Sibandang yang sejak 2016 berstatus desa wisata. Sayangnya, pemugaran sampai saat ini belum berhasil karena ahli waris tak berkenan.

“Sedang dilakukan pendekatan kepada agar dapat dipugar lagi,” kata Pakter.

Keberadaan rumah bolon dan rangkaian sejarahnya masih menjadi daya tarik  walau harus diakui, tingkat kunjungan wisatawan jauh dari harapan.

“Kalau lokal, seperti pulang kampunglah, bulan dua belas itu. Kalau turis asing, setahun paling satu orang. Baru-baru ini dari Cekoslovakia, strinya orang Indonesia,” ungkap Pakter

 

Misi Kesakralan

Arkeolog dari Balai Arkeologi Kota Medan Taufiqurrahman Setyawan mengaku belum pernah mendatangi rumah bolon di Pardepur. Namun ia menyebut, pihaknya baru saja menerima laporan agar melakukan peninjauan ke Pulau Sibandang. Taufiq mengaku baru mendengar cerita darah manusia jadikan. Ia menilai, ini misi membangun kesakralan.

“Muncul cerita dari darah, sebetulnya ke aspek membuat rumah jadi lebih sakral. Konsep seperti itu yang saya pandang, mungkin cerita itu dibangun seperti itu,” katanya.

Dia tidak meyakini  darah dapat digunakan sebagai cat. Apalagi digunakan pada media kayu. Menurutnya, darah akan luntur. Dirinya lebih meyakini jika cat merah diperoleh dari bahan alam yang mudah didapatkan.

Makam Oppung Raja Hunsa Rajagukguk atau Raja Jehutan Rajagukguk. (Damai Mendrofa)

 

Taufiq menstudi komparasikan cerita tersebut dengan cerita rakyat yang mengisahkan Candi Borobudur direkatkan dengan putih telur. Padahal, batu-batu di candi direkatkan dengan teknik penguncian.

“Pernah juga cerita di istana Sisingamangaraja, hampir sama, memang merah darah tapi bukan darah. Di rumah adat yang selama ini pernah saya jumpai, yang saya lihat masih relatif original, warna merah bukan dari darah karena pasti luntur,” tukasnya.

Soal pertanggalan rumah bolon yang menyemat kisah persahabatan Raja Jehutan dengan Sisingamangaraja, Taufiq menyebut masih harus dilakukan penelusuran lebih jauh. Apalagi, pihaknya belum memiliki data arkeologis kehadiran Sisingamangaraja ke Pulau Sibandang, masih berupa data lisan saja.

“Sisingamangaraja berapa? Sepuluh atau sebelas? Rentangnya pendek sekali, yang di Bakkara itu kan Sisingamangaraja kesepuluh atau sebelas, memang leluhurnya di situ semua, tapi yang dimakamkan di situ kan sepuluh dan sebelas,” urai Taufiq.

Diungkapnya, jika ditilik dari jejak rumah adat Batak, paling tua di Sianjur Mula-mula, Pulau Samosir. Di sana, pihaknya menemukan rumah yang ditaksir berusia 600 tahun. Bentuknya juga berbeda, membulat, tidak persegi seperti kebanyakan.

“Masih dalam gambaran, yang kita temukan bekas tiang, bekas umpak, sekarang sudah jadi tanah lapang. Cerita rakyat, di situ asal kampungnya,” ucap dia.

Rumah adat tertua lainnya berada di Pagar Batu, Kecamatan Simanindo. Usianya 200 tahun. Berangkat dari data itu pula, kata Taufiq, akan dilakukan penelitian rumah bolon di Sibandang. Tentunya dengan melihat jejak budaya dan pola pembangunan rumah serta menarik benang merah dengan  jejak Sisingamangaraja.

“Kalau Sisingamangaraja, ke berapanya, kemungkinan kronologi waktunya. Misalnya penggunaan pasak kayu, itu kan jauh dari zaman Belanda. Pasak besi itu di masa kolonial,” ujarnya.

 

Perlu Penyelamatan

Taufiq menuturkan, kondisi rumah-rumah bolon saat ini memang membutuhkan perhatian agar dapat dikembalikan ke kondisi asli. Apalagi mengingat konstruksi rumah yang dirancang tahan gempa. Penggantian material beton menyebabkan rumah tidak tahan gempa, tentu beresiko besar merusak rumah bolon yang masih tersisa.

“Umpak tidak menyatu dengan tanah, konstruksi rumah panggung kayu diganti beton. Sudah rigid, jadi mati dan ketika gempa gampang hancur,” ucap Taufiq.

Gorga Rumah Bolon di Desa Sibandang. (Damai Mendrofa)

Soal pengadaan material pengganti, Taufiq berpendapat masih dapat diperoleh dari hutan di sekitar permukiman di mana rumah bolon berada. Biasanya, material kayu untuk membangun rumah tersedia di dekatnya.

“Mereka punya kearifan itu, sudah jelas itu kayu tua. Di hutan, biasanya masyarakat dahulu mau menunggu dan punya pengetahuan untuk menunggu kayu sampai tua. Misalnya merbau, mereka akan cari dan mereka tunggu sampai bisa digunakan. Sama seperti di Minangkabau, mereka pilih kayu di hutan mereka,” pungkasnya.

 

Mitos adalah Ruh

Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Manguji Nababan melontarkan ucapan yang sama dengan Taufiqurrahman, penggunaan cat dari darah di luar logika. Menurutnya, darah tidak akan bertahan lama dan bukan bahan yang baik untuk mewarnai. Cerita ini hanya mitologi di masyarakat Batak.

“Supaya ada kepedulian menjaga nilai-nilai kesakralan dan spiritualitas,” katanya.

Manguji menilai, mitologi harus dipertahankan dalam semangat mempertahankan nilai-nilai di tengah masyarakat Batak. Menjadi sesuatu yang hidup dan menghidupi perjalanan budaya. Spiritualitas yang harus dijaga sebagai pranata.

Namun, jangan pula mitos menjadi kebenaran yang akhirnya mendiskreditkan masyarakat Batak dalam citra sadis dan kejam. Mitologi harus kembali kepada nilai filosofis penggunaan darah dalam seremoni acara adat seperti tradisi mangalahat horbo. Dalam tradisi ini, kerbau dikurbankan sebagai simbol menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.

“Cerita darah manusia untuk cat, saya lebih melihat sebagai pesan dan ajaran agar jangan ada kebencian terhadap orang lain. Bahwa, ya tidak boleh seperti itu,” ucap Manguji.

 

Eksotisme Rumah Adat di Sosor

Melangkah ke dataran tinggi perbukitan Desa Sibandang, tepatnya di Dusun 1 Sosor Silittong, ada satu rumah adat yang dihuni Boru Pasaribu, 78 tahun. Dia adalah stri dari Jogi B Rajagukguk, keturunan ketiga Raja Jehutan dan anak ketiga dari Oppung Appakiung. Oppung ini adalah anak kedua dari keturunan pertama Raja Jehutan dengan istri Boru Situmorang.

Semakin menanjak, sejuk menghampiri. Pepohonan rindang menjulang tinggi, di antara batang-batangnya, terlihat permukaan Danau Toba beriak dihembus angin sepoi.

Aroma klasik dan tua terasa begitu melihat pagar batu petak besar yang disusun bertingkat. Apik nan artistik, batu-batu ala mini sudah dibalut lumut tipis. Pagar setinggi dua meter mengelilingi rumah. Dedaunan yang gugur menambah dramatis.

Batu-batu besar yang disusun menjadi pagar mengelilingi rumah adat di Dusun Sosor. (Damai Mendrofa)

Apalagi saat melihat pohon bambu yang tumbuh di atas pagar batu, sebagian meranggas. Ujung pohon condong melengkung ke arah jalan dan secara alami membentuk terowongan.

Di antara barisan pagar batu, terdapat jalan masuk ke dalam komplek rumah. Hanya bisa dilewati satu orang dewasa. Ketika melintasinya, seperti diajak masuk ke pintu waktu menuju peradaban Batak tempo lalu.

Benar saja, di tengah lahan seluas satu hektare, berdiri rumah Batak dengan material papan dan batu. Atapnya sudah berganti seng. Di sisi kiri, ada rumah kecil bak paviliun. Suasana asri sangat kentara sebab bebaris pohon berdaun lebat, rindang. Tiba di depan rumah, Boru Pasaribu baru pulang dari kebun.

Rumah itu tidak dicat, masih asli. Tiang-tiang petak berdiri rapi membentuk panggung dengan umpak batu persegi menjaga keseimbangan rumah, menjadikannya gagah perkasa. Br Pasaribu menyebut rumahnya berusia 250 tahun lebih.

Sejumlah ukiran menambah apik lembaran papan yang tersusun artistik. Kian cantik, di depan rumah, batu-batu besar tersusun rapi sebagai pembatas pekarangan dengan pekarangan di tingkat dua.

Losung itak-itak di pekarangan rumah adat di Dusun Sosor.

Di halaman tingkat dua ini, terdapat Losung atau  lesung batu dengan dua lubang berbentuk persegi panjang. Losung  berbentuk pipih, panjang di bagian atas dan mengerucut di bagian bawah. Dulu digunakan untuk menumbuk itak gurgur, kudapan tradisional Batak berbahan beras yang disajikan untuk para tamu. Kini, tidak lagi dipakai.

“Dulu, dari  losung itak-itak ini sering diambil airnya karena dipercaya dapat menyembuhkan,” kata Boru Pasaribu.

Halaman tingkat tiga sekaligus menjadi areal kebun mangga yang juga sudah sepuh. Boru Pasaribu bilang, pohon-pohon mangga ditanam orang Belanda. Di sini, juga ada losung berbentuk persegi empat untuk menumbuk padi. Sekarang pun, sudah tak dipakai lagi.

Sekitar 30 meter di sisi kanan rumah, di antara pagar batu terdapat pintu lain, bentuknya sama dengan pintu masuk pertama. Aura magis menyergap, apalagi saat melirik pohon beringin besar yang tumbuh dekat pintu, akarnya menjulur dan mengular di dua sisi pagar.

Di luar pagar, terhampar areal luas dipenuh rumput dan kurang terawat. Ada makam berbentuk persegi empat dengan lingkaran setengah di atasnya. Di nisan tertulis (OOLOPAN) Pakkiom Sutan Baginda Oloan Rajagukguk. Di dekatnya, kuburan Jogi B Rajagukguk, suami Boru Pasaribu.

Masih di areal makam, ditemukan 14 batu persegi yang letaknya melingkar. Tempat menggelar pertemuan.

“Di sini dulu tempat pertemuan, di sini juga dulu pernah bertempur Belanda dan Raja Sisingamangaraja,” ucap Boru Pasaribu.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan