Festival Mardoton

 

 

Mardoton, adalah salah satu kekayaan intelektual para penduduk di pinggiran Danau Toba untuk menghidupi keluarganya. Hingga hari ini Mardoton masih menjadi bagian penting dalam mata pencaharian sebagian masyarakat di sana. Ompung Dika Sinaga (65), merupakan seorang dari sekian banyak “pandaram” yang menggantungkan hidup dari Mardoton di Pulau Samosir. Pandaram merupakan sebuah sebutan untuk nelayan tradisional Danau Toba.

Mardoton, tidak saja berhenti pada persoalan menangkap ikan, melainkan proses membuat doton  itu sendiri, hal penting yang harus dipahami para penggiatnya. Bagi Ompung Dika Sinaga, terdapat serangkaian norma dan ketentuan-ketentuan tertentu yang harus dicapai agar pandaram atau pardoton bisa menghasilkan tangkapan ikan yang baik dari Danau Toba. Dimulai dari mempersiapkan doton, yang biasa disebut “pauli doton, mangikkot-ikkot, atau manopong doton“, berarti menghitung mata jaring pada doton. Doton tidak dapat dipasang ke danau bila tidak ada “ramo” (pelampung). Jarak ramo pertama dengan kedua dan selanjutnya tentu diikat berdasarkan jumlah hitungan topongan yang sudah ditentukan. Satu hitungan topongan pun hendaknya tidak ada yang boleh meleset. Bila hitungan lebih ataupun kurang, risiko kerusakan doton tinggi, serta tangkapan ikan tidak berhasil. Hitungan yang tepat mampu menangkap ikan dengan baik. Membalut tanpa mencekik ikan, sehingga ikan mampu bertahan hidup lebih lama. Dan sebaliknya topongan yang tidak tepat, akan mengakibatkan doton mudah terkoyak.

Manopong bagi pandaram atau pardoton, harus membutuhkan konsentrasi penuh. Kesulitan manopong doton bukan hal yang gampang ditangani tanpa keahlian. Ada pengalaman di dalamnya agar mata jaring tak meleset. Doton yang rusak, pada masanya tidak serta merta langsung digantikan oleh doton baru. Dibutuhkan pengetahuan budaya untuk memperbaikinya oleh pandaram. Mangumei yang dalam praktiknya menyatukan kembali yang terpisah, merajut benang – benang yang terkoyak.

Nelayan Tradisional Kawasan Danau Toba dalam kurun waktu 15 tahun belakangan, kian terpuruk. Ketidakseimbangan ekosistem Danau Toba saat ini, termasuk kontribusi limbah lokal, diduga menjadi pemicu minimnya jumlah tangkapan ikan nelayan tradisional.

Bermula dari sini, Komunitas Anak Tao kemudian berinisiatif untuk mengembalikan kejayaan “Pandaram” masa lalu. Pada tanggal 13 Maret 2021 bersama para Nelayan Tradisional komunitas Anak Tao berkolaborasi dalam menyelenggarakan Festival Mardoton, di Pulau Samosir.

Dalam Festival yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara, Drs. Musa Rajeksah, M. Hum para peserta mengajak semua pihak dan pemangku kepentingan untuk menjaga Ekosistem Danau Toba yang berkelanjutan. Mardoton dengan berbasis kearifan lokal, serta menjaga keseimbangan, dengan tujuan untuk meminimalisir tangkapan ikan kecil dengan menerapkan mata jaring yang lebih besar. Melarang pemakaian bom ikan, listrik, ataupun racun.

Selain menangkap ikan dengan ukuran yang terpola, penargetan melakukan penaburan benih secara berkala. Membiasakan syukuran pemujaan terhadap Maha Pencipta melalui “Pasahat Itak Putih Tu Namboru Saniang Naga” yang secara Batak diyakini sebagai Dewi Air pemberi berkat.

Sumber: Anak Tao Official @anaktao_official

Date

13 Mar 2021 - 17 Mar 2021

Next Event