Harum Tembakau Di Kaki Sinabung

Petani tengah memetik tembakau di Kaki Gunung Sinabung, Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo. (Narendra)

Penulis: Multazam

Fotografer: Narendra

Sinabung masih menunjukkan kegagahannya

Asap putih masih terus membumbung di puncaknya

Latar langit yang biru menambah indah panorama

Di kakinya, masyarakat masih bergantung hidup dengan bertani

Salah satunya, tembakau Desa Batu Karang yang tersohor

 —–

Satu dekade terakhir, penduduk di sekitar kaki Gunung Sinabung menjalani hidup dalam ketidakpastian. Erupsi selalu mengintai. Embusan debu vulkanik, banjir lahar dingin pun sudah menjadi keseharian kala erupsi besar.

Rasa penasaran menceritakan soal kehidupan di kaki Sinabung mendorong kami ke Desa Batukarang. Salah satu desa di Kecamatan Payung, Kabupaten Karo. Dari Desa ini Sinabung bisa ditatap dengan begitu dekat, begitu indah.

Letaknya hanya berada radius 8 Km arah Barat Daya Sinabung. Jika erupsi, Batukarang ikut merasakan dampaknya. Lahan pertanian warga kerap tertutup abu vulkanik. Akibatnya, hasil pertanian menjadi korban. Tidak bisa dipanen. Apalagi untuk tanaman rentan seperti padi dan cabai.

Namun ternyata, Batukarang punya tanaman tembakau. Tanaman ini relatif lebih tahan saat terjadi erupsi.

Ruspida Beru Sebayang tengah menyusun tembakau bersama suaminya yang bertugas mengiris. (Narendra)

Sejak dulu Batukarang sudah dikenal menjadi sentra produksi tembakau di Tanah Karo Simalem. Salah satu komoditas andalan dalam menopang prekonomian masyarakat.

Di kawasan Batu karang, kiri kanan jalan menghampar ladang tembakau milik warga. Di depan rumah, warga menjemur tembakau di atas tatakan kayu berukuran 1×1 meter. Jadi satu pemandangan menarik ketika melintas di Batukarang.

Ada dua warna tembakau yang dijemur. Hijau dan kuning. Tampaknya, tembakau memang menjadi tanaman istimewa di sana.

Penelusuran soal tembakau membawa kami kepada Ruspida beru Sebayang. Saat kami temui, Ruspida Beru Sebayang sedang menyusun irisan tembakau ke atas tatakan kayu. Sambil duduk bersila, tangannya lihai mengatur tembakau di atas tatakan supaya terjemur merata. Disebelahnya, sang suami tampak mengiris daun tembakau dengan cekatan. Sesekali sang suami mengasah pisau irisnya dengan peralatan yang terbilang masih tradisional.

Tembakau sudah menjadi sumber penghasilan keluarga mereka. Bekerja mengumpulkan daun tembakau , mengiris dan menjemurnya hingga kering, lalu kemudian di jual ke distributor atau pengepul.

“Kan banyak juga yang tidak tau cara mengiris, jadi mereka (petani) cuma berladang. Tembakaunya kami yang mengolah” Ujar Ruspida.


Fernando Bangun tengah mengiris tembakau dengan pisau khusus. (Narendra)

Dalam sekali pengambilan ke petani, Ruspida biasanya membawa 2 gulungan besar tembakau. Jika diiris, gulungan itu beratnya bisa mencapai 8 Kilogram.

Dalam seminggu, keluarganya bisa mengolah 40 Kilogram tembakau. Harga bergantung pada kualitas daun tembakau, namun jika di rata-ratakan, harganya mencapai Rp80 ribu perkilogram.

Kata Ruspida, jumlah produksi pun sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sebab metode pengeringan tembakau masih alami. Mengandalkan panas matahari. Kalau cuaca mendung hasil produksinya bisa jauh menurun.

“Ya, tergantung cuaca. Kalo matahari terik makin cepat kering, makin banyak yang bisa dijual,” ungkapnya.

Tembakau dari Batukarang umumnya dipergunakan untuk menyuntil. Bagi masyarakat Karo, menyuntil sudah menjadi kebutuhan. Man Belo, sebuah istilah untuk makan sirih yang memerlukan bahan-bahan lain sebagai ramuannya, seperti Gambir, tembakau dan buah pinang.

“Kalo yang biasa menyuntil, udah tau dia itu tembakau batu karang apa ngak, karena kualitas dan rasanya khas. Berbeda dari tembakau daerah lain,” tegas Ruspida.

Menyuntil memang sudah membudaya pada masyarakat Karo. Tidak hanya Karo, menyuntil juga dilakukan beberapa etnis lainnya. Khususnya di kawasan Danau Toba.

Dari Ruspida, penelusuran berlanjut pada Dalangit beru Sitepu, petani tembakau lainnya. Dalangit merupakan salah satu pengungsi Sinabung pasca erupsi besar 2010 lalu. Desanya porak poranda diterjang bencana. Bersama keluarga, ia memilih menetap di Batukarang hingga sekarang.

“Kalo disini, dikenal dua model daun tembakau. Kuning dan hijau. Kalau hijau bisa dipetik muda, kalau kuning tidak bisa. Dalam satu pohon, bisa saja ada daun yang hijau dan kuning” sebutnya.


Dalangit Beru Sitepu menjemur tembakau hijau yang sudah dipanennya. (Narendra)

Bibit Tembakau yang digunakan adalah jenis Virginia. Harganya berkisar Rp50 per batang. Tak kurang dari 70 persen petani Batukarang menanam tembakau. Peningkatan penanaman tembakau erat kaitanya dengan erupsi Sinabung.

“Tembakau lebih tahan kena abu vulkanik, tinggal dicuci nanti daunnya. Kalo cabai bisa langsung kriting, kadang mati pun dia” tutur Dalangit.

Untuk menambah pemasukan, petani rata-rata juga menanam cabai di antara barisan tembakau. Pengalaman mengajarkan mereka bahwa cabe tumbuh lebih subur dengan model tanam demikian.

Jika tembakau sudah memasuki dua kali masa tanam, lahan bekas tembakau diganti menjadi tanaman padi. Warga Desa meyakini padi menciptakan sirkulasi dan menyuburkan tanah.

Sistem pengetahuan pertanian ini diajarkan turun temurun pada petani di Desa Batukarang. Memang, desa ini dikenal punya tanah yang sangat subur. Hasil pertaniannya pun sangat kaya. Padi, cabai dan tembakau menjadi komoditas andalan mereka.

“Kita anggap berkah dari Tuhan untuk desa kami,” ujar Arini Beru Tarigan, Sekretaris Desa Batukarang.

Kata Arini, tembakau Batukarang cukup menjanjikan. Meskipun dampak COVID-19 cukup membuat goyang pendapatan warga. Sebagai tembakau kunyah, pembatasan pelaksanaan pesta-pesta adat karena pandemi cukup berpengaruh.

“Tradisi menyuntil biasanya digunakan dalam pesta-pesta adat Karo, karena pandemi agak berkuranglah konsumsi tembakau” Tegasnya.


Lebih dari 70 persen penduduk Batu Karang bertani tembakau sebagai mata pencahariannya. (Narendra)

Pemerintah Desa Batukarang sedang menggagas berbagai rencana pengembangan usaha penjualan Tembakau melalui BUMDES. Konsepnya bisa dengan menampung tembakau kering hasil dari petani, atau berupaya memasarkannya langsung ke konsumen.

“Untuk kedepannya, di Desa ini kan sudah ada BUMDES yang kita harapkan dapat mengelola perkembangan tembakau di desa ini lebih baik lagi. Usaha tembakau disini sangat menjanjikan, rata-rata anaknya (warga Batukarang) kuliah dari (hasil) tembakau,” Kata Arini

Pemerintah desa pun tak menampik jika Batukarang punya potensi Agrowisata. Mereka juga terus berupaya melakukan penyadaran terhadap masyarakatnya.

Batukarang sarat cerita

Setelah pusa melihat perkebunan tembakau, Arini mengajak kami melepas penat di sebuah warung kopi. Beberapa hal memang masih mengganjal. Mulai dari sejarah penanaman tembakau, hingga mengapa desa ini dinamakan Batukarang. Apa pula makna dibalik nama tersebut?

Di dalam kedai, beberapa lelaki terlihat mengobrol dengan bahasa karo. Kebetulan, salah satunya ayah Arini, Rekro Tarigan. Sang ayah punya pengetahuan yang banyak soal Batukarang.

Setelah mengobrol soal maksud dan tujuan kami di Batukarang , Rekro kemudian mulai cerita soal sejarah desa itu.

Karang dalam bahasa Karo artinya kandang, atau bisa juga dimaknai pagar. Di Desa Batukarang terdapat tiga jalan untuk akses keluar masuk. Masing-masing jalan masuk itu terdapat batu besar, yang seakan memagari Desa.

“Batu pertama di jalan ke arah desa Rimokayu, batu kedua di mulut jalan ke arah Pancur Siwah, Batu ketiga ya ini, di simpang tiga samping kedai kopi ini,” kata Rekro menjelaskan.

Desa Batukarang, kata Rekro, tak bisa dilepaskan dari kisah mata air Mbusuka. Alkisah, mata air itu dibuat oleh Penghulu sakti asal Desa Suka. Penghulu melibatkan makluk halus dalam pengerjaanya. Setelah pekerjaan selesai, ternyata mahkluk halus itu tidak mau pulang. Mereka merasa betah, nyaman dan senang tinggal disana.

Semenjak  muncul mata air, orang menjadi tidak nyaman dan sering gelisah, terlebih malam hari. Karena ada suara bising dari mata air itu. Akhirnya mereka sepakat berpindah tempat tinggal sekitar 100 meter ke arah barat.

“Menurut legenda, begitulah cikal bakal mulai dihuninya wilayah Desa Batukarang, sampai sekarang ini” Ungkapnya.

Kisah lain, Batukarang identik dengan sejarah perjuangan pahlawan nasional Kiras Bangun atau Garamata. Adapula cerita mengenai gempa bumi dahsyat tahun 1936. Orang karo menyebutnya Linur Batukarang.  Bencana ini tercatat sebagai bencana alam terburuk yang pernah melanda Tanah Karo dengan kekuatan gempa 7,2 skala ricther (SR)

Tentang tanaman tembakau, dirinya tidak bisa memastikan sejak kapan Desa Batukarang mulai menanam tembakau. Namun begitu, ia mengaitkannya dengan tradisi menyuntil orang karo. Artinya sejak zaman dahulu sudah dikenal tanaman tembakau. Bahkan sebelum tahun 1900-an.

“Dari cerita-cerita orang tua dulu, mereka pun sudah menyuntil tembakau. Jadi sudah sangat lama tanaman ini dikenal di Batukarang,” kata Rekro menduga.

Terlepas dari itu, tembakau kini semakin berkembang menjadi tanaman andalan Desa Batukarang. Sekalipun bencana Sinabung belum juga berujung, semerbak harum tembakau setidaknya mampu menerbitkan rasa optimis bagi para petani dalam menjaga roda perekonomian. Dibalik bencana pasti ada hikmah.

 

Tinggalkan Balasan