Jejak Batak, Siraja Batak

Foto: Gunung Pusuk Buhit(red: Puncak Bukit) dipercaya sebagai tempat turunnya Orang Batak pertama. (Mirza Baihaqie)  

Penulis: Multazam

Orang Batak berasal dari leluhur yang sama. Berawal dari Siraja Batak, kemudian berkembang menjadi marga-marga.Catatan silsilah berdasarkan garis keturunan ini lazim disimpan dan dituliskan dari generasi ke generasi.

Orang batak menyebutnya tarombo. Sebagian orang merasa perlu pembuktian, sebagian lagi hanya cukup meyakini.

Dari Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Danau Toba terlihat menyempit. Nyaris menyatu dengan perbukitan disekelilingnya. Di antaranya tersemat bukit berdinding sulfur membelakangi puncak yang menjulang hingga 1972 Mdpl. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Pusuk Buhit. Seperti namanya, Pusuk Buhit bila diterjemahkan kebahasa Indonesia berarti ‘puncak bukit’. Merujuk pada titik tertinggi perbukitan yang terhampar mengelilingi Kaldera Toba. Di sinilah diyakini orang batak pertama diturunkan.

Setelah meneguk segelas kopi, Pak Sagala dengan nada penuh semangat bercerita tentang Pusuk Buhit. Mulai dari tradisi masyarakat sekitar hingga hal-hal yang berbau spritual.

“Sampai sekarang masih banyak orang dari luar daerah datang untuk sekedar berdoa dan memohon hajat di Pusuk Buhit,” kata warga Sianjur Mulamula ini.

Rumah Pak Sagala berada disekitar kaki Gunung Pusuk Buhit. Tidak jauh dari sana, jejak sejarah Siraja Batak dan keturunannya masih tersisa. Batu Hobon misalnya. Peninggalan Raja Uti, cucu Siraja Batak. Selalu diceritakan berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka dan kitab ajaran-ajaran para leluhur. Layaknya sebuah tempat sakral untuk menyembah, penduduk setempat menghiasi Batu Hobon dengan berbagai bunga. Masih di kawasan yang sama, terdapat juga Parsaktian Tatea Bulan, anak Siraja Batak.

Foto: Generasi berbagai marga Batak memanjatkan doa kepada Mulajadi Na Bolon melalui leluhur pada satu acara ritual di Sopo Ruma Hela, Lereng Pusuk Buhit. (Narendra)

Orang Batak memiliki kosmologi sendiri tentang penciptaan bumi dan manusia. Mitologi Batak mengenal alam terbagi atas tiga banua, yakni Banua Ginjang atau dunia atas, Banua Tonga atau dunia tengah dan Banua Toru atau dunia bawah.

Titik awal kehidupan berada di Banua Ginjang. Di sana, tinggal Ompu Debata Mulajadi Na Bolon bersama tiga dewa ciptaannya. Batara Guru, Soripada, dan Mangalabulan serta para keturunannya.

Alkisah, Siboru Deak Parujar, anak Perempuan Batara Guru, ditunangkan dengan anak laki-laki Mangalabulan, Raja Odapodap. Namun, Siboru Deak Parujar menolak. Berupaya menunda pernikahan dengan alasan ingin menyelesaikan tujuh tenunan benang terlebih dahulu. Ompu Debata Mulajadi Na Bolon mengetahui itu hanya siasat Deak Parujar.

Ompu Debata lalu melemparkan gumpalan benang tersebut. Ingin menyelamatkan benang milikinya, Deak Parujar pun ikut melompat.

Meskipun Siboru Deak Parujar hidup terombang-ambing jauh dari Banua Ginjang, ia enggan untuk kembali. Pun begitu, Deak Parujar memohon agar Ompu Mulajadi Na Bolon mau memberikan segengam tanah sekadar tempat berpijak. Permintaan itu dikabulkan. Dari segenggam tanah, Deak Parujar membentuk daratan yang saban hari semakin lebar.Tempat tinggal Deak Parujar dikenal sebagai Banua Tonga.

Rintangan dan berbagai persoalan dilewatinya. Termasuk saat Naga Padoha, penghuni Banua Toru, mengganggunya. Deak Parujar memilih terus menetap di Banua Tonga.

Takdir tak dapat terelakkan. Deak Parujar yang lama hidup kesepian pada akhirnya setuju menikah dengan Raja Odapodap. Laki-laki yang sekuat tenaga ditolaknya saat masih hidup di Banua Ginjang. Pasangan ini dikaruniai sepasang anak dengan nama Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia. Beberapa generasi setelahnya, lahirlah Siraja Batak, leluhur orang Batak.

Kisah ini masih dipercaya oleh masyarakat Batak. Eksistensi Siraja Batak hadir lewat tarombo atau pohon silsilah garis keturunan marga-marga.  Meskipun tarombo yang dituliskan secara turun temurun terkadang mengaburkan garis batas antara mitos dan realitas.

Foto: Ilustrasi Etnis Batak. Narendra

Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas Nomensen Manguji Nababan, mengatakan bahwa tradisi menulis tarombo baru ada sejak tahun 1920-an. Dimulai oleh WM Hutagalung atas dukungan dari Belanda. Saat itu Hutagalung adalah seorang Demang di Panggururan.

Dalam Pustaha Batak tua, tidak ditemukan adanya penulisan sejarah. Bahkan soal silsilah marga. Sepengetahuan Manguji dalam penelitiannya, isi Pustaha Batak membahas soal ramuan obat-obatan, nujum tentang menentukan hari baik atau buruk, bahkan hingga yang berbau magis.

“Saya mungkin sudah representatif. Saya sudah membaca sekitar 700 Pustaha Laklak, Pustaha Bambu dan Perholian” ujar laki-laki kelahiran Humbang Hasundutan, 3 April 1971 itu.

Hal senada disampaikan oleh Sejarawan Universitas Negeri Medan Erond L Damanik. Silsilah Siraja Batak dengan pohon-pohon keluarga baru mulai dikenal sejak tahun 1926. Profesor Hukum Van Vollenhoven ketika itu membuat sayembara penulisan sejarah-sejarah lokal. Latarnya, karena ada konflik berkepanjangan antara orang Angkola dan Mandailing di Perkuburan Sei Mati, Medan.

“Dari sayembara itu, mulailah orang-orang menulis tentang sejarah lokalnya masing-masing” Tegas Erond.

Pun demikian dengan jejak perkampungan awal Siraja Batak di Sianjur Mulamula, Arkeolog Ketut Wiradyana dalam Identifikasi dan Penelusuran Jejak Peradaban Batak Toba Di Kabupaten Samosir (2014) telah melakukan penelitian. Hasil ekskavasi kampung yang dimaksud, pentarikhan yang diperoleh berdasarkan carbon dating merujuk pada angka tahun 600 (+400) tahun lalu. Artinya, perkampungan Sianjur Mulamula baru dihuni abad 14 dan paling lama pada abad 11 masehi.

Membandingkan dengan hasil penelitian lain, seperti McKinnon (1990), Belwood (2000), menunjukan bahwa Migrasi di pesisir timur Pulau Sumatera sudah berlangsung pada periode Mesolitik berkisar 7.000-5.000 tahun lalu. Salah satu indikasinya yaitu dengan ditemukannya peralatan batu, yang disebut Sumatralith. Penemuan demikian menegaskan bahwa peradaban manusia di Sumatera bagian Utara sudah berkembang jauh sebelum Siraja Batak membuka kampung pertama.

Tokoh Adat Batak Monang Naipospos, memberikan tanggapan terkait kisah Siraja Batak. Cerita-cerita demikian merupakan kearifan para leluhur.

Menurut Monang, Siraja Batak sengaja memutus identitas dan asal usulnya kepada para keturunannya. Hal itu justru menjadi bukti kejeniusan sang leluhur.

“Bayangkan, bisa dia memutus mata rantai indentitasnya dan menciptakan satu peradaban, budaya, aksara dan tatanan baru. Itu bukti bahwa leluhur kita orang jenius,” ucapnya.

Ketika disinggung soal pemaknaan mitos Siraja Batak dari perspektif Parmalim, Monang menyampaikan bahwa sesuatu yang tidak jelas, tidak diajarkan dalam kepercayaan mereka. Jadi, Parmalim itu harus pintar membuat satu kesimpulan pikir.

“Parmalim itu menghayati nilai-nilainya, bukan mempelajari sejarahnya,” ujar tokoh Aliran Kepercayaan Parmalim ini.

Foto: Ilustrasi Etnis Batak. (Narendra)

Tokoh penghayat Parbaringin Theodore Galimbat Bakkara memberikan pendapat lain soal kisah Siraja Batak. Ada banyak nilai warisan yang tersirat dalam kisah itu. Batak dalam perjalanannya tidak bisa dipisahkan antara budaya dengan religius spiritualnya.

Kehadiran Siraja Batak di muka bumi dianggap sebagai proses pencerahan bagi kehidupan mereka. Nilai-nilai kehidupan ini juga tercermin dari Tonggotonggo atau doa-doa di dalam kepercayaan Batak. Belum lagi jika ditelisik ke keturunan Siraja Batak sampai generasi Raja Sisimangaraja yang banyak memberikan nilai-nilai keadilan di tengah masyarakat.

“Lewat Tonggotonggo, kita memahami apa itu warisan Siraja Batak. Nilai-nilai ini harus kita angkat dan dilestarikan lagi,” ujar Theodore.

Tak hanya dari Siraja Batak, nilai-nilai kehidupan itu pun lahir dari Siboru Deak Parujar. Saat turun ke Banua Tonga, Deak Parujar sudah membawa nilai kesusilaan. Saat itu, Siboru Deak Parujar sudah memakai ulos yang menutup bagian kesusilaannya. Dia menggunakan Ulos Siganjang Rambu yang sarat makna. Ini yang membuat nilai kesusilaan dianggap sakral bagi orang Batak.

Siraja Batak pun mewariskan nilai kesantunan. Itu tertuang dalam Pantun Do Hangoluan Teus Samagoan. Artinya, dalam kehidupan, manusia harus tetap menjunjung kesantunan, berhati mulia. Karena kesombongan dan keangkuhan hanya membawa malapetaka. Sampai sekarang, pantun ini masih dipakai orang Batak ketika memberangkatkan anaknya merantau.

“Jauhkan kesombongan dan keangkuhan. Pantun do Hangoluan ini paling mengikat. Berbudi luhur berhati mulia,” imbuhnya.

Selain kisah Siraja Batak, polemik lain menyoal pelabelan ‘Batak’ sebagai entitas etnik, meliputi Toba, Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak, dan Angkola. W.M Hutagalung dalam Pustaha Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak (1926) menegaskan, orang Batak yang berasal dari Pusuk Buhit berdiaspora hingga ke Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak, Angkola bahkan ke Gayo serta Nias.

Menanggapi itu, Erond L Damanik punya pandangan berbeda. Dia mengatakan pengelompokan kelompok etnik di Sumatera Utara berasal dari orang luar dan menjadi identitas kabur (evasive identity). Selain tulisan W.M Hutagalung, literasi mengenai batak dengan keenam sub etniknya semakin populer melalui tulisan Payung Bangun berjudul ‘Kebudayaan Batak’ (1970) yang kemudian disunting oleh Koentjaraningrat dalam buku ‘Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia’ (1982).

“Buku ini, menjadi semacam landasan hukum yuridis bahwa etnik Batak di Sumatra Utara terdiri dari subetnik yang dipersamakan itu,” ujar Erond.

Erond menambahkan, konsep ‘Batak’ (yang disebut Bata, Battak, Battas, Batech) sudah ditemukan pada tulisan Tome Pires maupun Mendes Pinto sekitar tahun 1500-an. Labelisasi itu digunakan untuk menyebut masyarakat yang bermukim di pedalaman Aceh dan Sumatra Utara. Riwayat perjalanan etnograf asing ke Sumatra bagian utara kemudian dikompilasi melalui tulisan Anthony Reid (1995).

“Bila berdasar pada tulisan etnograf, maka konsep tersebut tidak dimaksudkan sebagai penyebutan nama etnik, tetapi justru menunjuk pada karakteristik sosial mayarakat diwilayah tertentu” tutup Erond.

Dari penelusuran diberbagai literatur, pandangan para ahli tentang etnisitas juga beranekaragam. Glazer dan Moynihan (1963) memandang etnisitas sebagai kelompok kepentingan. Royce (1982) memandang identitas etnik sebagai strategi adaptasi dalam masyarakat majemuk. Geertz (1961) memandang etnisitas sebagai kelompok yang terikat primordialisme.

Mengulas jejak Siraja Batak, baik dari sisi mitos, sejarah maupun kacamata sains modren tentu menghasilkan bermacam diskursus menarik. Termasuk soal silang pendapat atas konsepsi ‘Batak’ sebagai sebuah etnik. Hal ini kiranya tidak dimaknai sebagai bentuk saling konfrontatif. Cukuplah disimpulkan sebagai bukti, bahwa sejak dulu Sumatera Utara telah menjadi rumah bagi masyarakat yang beranekaragam. Perbedaan itu justru melahirkan kekayaan budaya dan seabrek kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan.

Tinggalkan Balasan