Jejak Kesaktian Datu Parulas

Penulis dan Fotografer: Arjuna Bakkara

Rumah Adat warisan Datu Parulas Parultop Lumban Raja penuh ornamen ukiran gorga Batak sekaligus tempat menyimpan barang pusaka berupa Ultop, Ogung, Hombung, Podang Sidua Baba dan lainnya. (Arjuna Bakkara)

Datu Parulas adalah orang yang religiusnya tinggi dan mengenal konsep Tuhan. Mombang atau Raga-raga Nabolak adalah buktinya. Berserah diri ke Sang Khalik. Raga-raga Nabolak merupakan wadah tempat persembahan, media doa-doa atau sesajen untuk Debata Mulajadi Nabolon

—–

Menjelang petang, sekumpulan kaum ibu bercengkerama di depan rumah, dekat pintu masuk utama areal rumah Parsaktian Datu Parulas Parultop Lumbanraja. Mereka adalah keluarga besar keturunan Datu Parulas yang setia menjaga warisan. Tampaknya mereka baru pulang dari ladang, bertani adalah jalan mereka menyambung hidup.

Sore itu, kedatangan penulis disambut baik. Sambil mengunyah sirihnya, salah seorang dari mereka menyuguhkan teh dan menawarkan sirih.

Di lokasi ini, rumah-rumah tua berderet dengan ciri khas. Termasuk rumah adat Batak dan satu yang mencolok dari bangunan-bangunan tua itu, rumah Parsaktian Datu Parulas. Penuh ornamen seni ukir suku Batak (gorga) tiga warna, putih, hitam dan merah yang mulai memudar. Di bawah kolong rumah, ada lesung berukuran besar.

Kata salah seorang ibu yang saya temui, ada aturan yang harus diikuti bila ingin berkunjung ke rumah Parsaktian tempat barang pusaka Datu Parulas disimpan. Baik keluarga yang masih keturunan, tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah menjelang matahari terbenam.

Hari mulai gelap, dari celah rumah-rumah membubung asap mengepul. Pertanda aktivitas memasak di dapur sedang berlangsung untuk makan malam, saya memilih pulang dan kembali datang esok hari.

Warung-warung penjual tuak di simpang rumah parsaktian pun mulai ramai. Kaum bapak bercengkrama sejak sore hingga malam. Membahas banyak persoalan, mulai dari urusan pekerjaan hingga perpolitikan.

Secara administrasi, Rumah Parsaktian Datu Parulas berada di Desa Harian, Kecamatan Onanrunggu. Desa Harian merupakan pembatas Kecamatan Nainggolan dengan Kecamatan Onanrunggu. Mata pencaharian warganya rata-rata bertani dengan mengelola sawah.

Jalur menuju rumah Parsaktian cukup mudah. Bila ingin melintasi jalur darat, masuk dari gerbang Tele dan turun ke Pangururan. Selanjutnya menuju arah Palipi kemudian tiba di Nainggolan. Kalau dari Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, pengunjung bisa naik KMP Muara tujuan Samosir dan sandar di Dermaga Sipinggan, Kecamatan Nainggolan.

Sedangkan dari Kabupaten Toba ada dua pilihan yakni menaiki fery reguler yang sandar di Kecamatan Onanrunggu. Sebaliknya dari Dermaga Ajibata tujuan Tomok-Ambarita dan dari Kabupaten Simalungun lewat Pelabuhan Tigaras, Dermaga Simanindo.

Frenki Rinaldi Lumbanraja, generasi ke-17 Datu Parulas menuntun penulis mengupas jejak leluhurnya. Lulusan sarjana ekonomi ini memilih hidup di kampung demi merawat warisan budaya dan adat kaum lampau. Beberapa lembar sirih dibawa ke rumah Parsaktian.

Pemakaian daun sirih sudah menjadi tatanan adat Batak. Bisa sebagai syarat permisi, biasa disebut napuran atau demban tiar. Napuran harus diisi sejumlah rupiah bilangan genap seiklas hati.

Perlahan, Frenki membuka pintu depan rumah. Satu persatu jendela juga dibuka, seisi ruangan Rumah Parsaktian Datu Parulas ditembus cahaya. Aroma khas kayu dan aura kesakralan menebar. Meski suhu di luar cukup terik namun rumah ini mampu memberi kesejukan.

Sebelum menjelaskan benda-benda pusaka beserta kisah Datu Parulas dan hubungannya dengan Batu Guru, Frenki memimpin ritual kecil. Selembar daun sirih, diselipkan di antara kedua tangannya yang bersembah. Doa-doa dipanjatkan.

Selepas itu, napuran tiar diletakkannya di samping cawan dan gajut. Gajut adalah semacam kantongan berbahan anyaman pandan untuk wadah sirih dan perlengkapan lainnya yang dipakai dalam ritual.

Sebelah kiri atas rumah, antara atap dan dinding diletakkan dua benda pusaka penting. Disimpan rapi dalam kotak, isinya ultop dan piso si dua baba. Rumah Parsaktian diapit rumah adat Batak. Di depan rumah, ada rumah panggung yang antik, menua kecokelatan.

“Ini senjata ampuh Oppung Datu Parulas, keduanya mematikan,” ujar Frenky sambil menjelaskan bahwa rumah pernah dipugar pada 1900-an akhir, hanya beberapa saja yang diganti seperti atap, sedangkan tiang dan lantai kayu dengan ukuran yang lebar tetap terpasang rapi.

Setelah dari klan Marga Nainggolan, Datu Parulas merupakan marga Lumbanraja pertama. Dia memiliki 14 anak yang saat ini berkembang menjadi marga-marga yaitu Pusuk, Buatan, Mahulae, Simata Tunggal, Gajut, Siboro, Raja Sitalutuk, Toga Sahata, Sabungan Raja, Guru Tinandangan, Toga Dipasir, Tuan Baringin, Raja Tomuan dan Raja Bonan Dolok.

Sempat Dilupakan

Sebelum bercerita tentang benda-benda pusaka, Frenki menjelaskan leluhurnya generasi ke-13 bergelar Ama Rerak membuka perkampungan di Lumbanpining. Lalu ditempati Ama Mahammad, anak dari Ama Rerak. Mereka keturunan dari Toga Sahata, anak Datu Parulas.

Si Boru Parmulaan adalah Boru Manurung, istri keempat Datu Parulas. Dia adalah ibu Toga Sahata. Anak sulung dari Si Boru Parmulaan adalah Sitalutuk, Toga Sahata, Sabungan Raja dan Namboru. Toga Sahata merupakan leluhur Frenki

Keturunan Datu Parulas Parultop Frenki Lumban Raja memperlihatkan Sahan Pardaupan. (Arjuna Bakkara)

Rumah Batak yang termakan usia, berlubang atapnya. Melalui celah-celah ijuk, air merembes masuk ke dalam rumah. Ama Mahammad memilih meninggalkan karena tak punya uang memperbaiki rumah warisan. Dia mendirikan rumah baru tak jauh dari rumah peninggalan Datu Parulas.

Selang beberapa waktu, Ama Mahammad jatuh sakit yang tidak dapat disembuhkan. Diyakini akibat meninggalkan rumah Datu Parulas. Kata Frenki, Ama Mahhamad dinilai ingkar janji kepada leluhur.

Namangalaosi poda dohot uhum do imana. Igabusi imana akka sahala (Sempat tidak dijalankannya tatanan dan dia ingkar janji kepada leluhur),” kata Frenki.

Ama Mahammad mencari tahu kepada paranormal penyebab sakitnya, para datu memberi petunjuk yang membuatnya menyadari kesalahan yang dilakukan. Ama Mahammad menjual rumah yang dibangunnya untuk biaya memperbaiki rumah Datu Parulas. Benar saja, belum sampai memperbaiki rumah, dia sembuh dari sakitnya.

Rehab rumah selesai, keturunan Toga Sahata bermusyawarah dan sepakat rumah tidak untuk ditinggali. Fungsinya hanya tempat bertemu para keturunan untuk melepas rindu, menyimpan benda pusaka Datu Parulas dan ketika ada yang terpanggil melakukan ritual khusus.

“Tidak bisa dihuni, untuk tidur malam hari juga tidak boleh, hanya bisa beristirahat di sana tidak lebih dari tiga jam,” ucapnya.

 

Benda-benda pusaka

Frenki mulai menjelaskan satu satu persatu benda pusaka peninggalan Datu Parulas. Ada sahan, ultop, raga-raga nabolak, hombung, ogung dan piso sidua baba. Di bawah rumah, ada lesung berukuran besar.

Perlahan dan hati-hati dia angkat satu peti yang didesain seperti kotak. Kata Frenki, dia tidak berani menggunakan bahan pengawet karena takut merusak. Pandangannya fokus, gembok peti dibuka, bambu berwarna kecokelatan diperlihatkan.

Frenki Lumban Raja memperlihatkan Senjata yang menjadi ciri Datu Parulas Parultop nenek moyangnya. Fungsinya dipakai untuk berperang dan berburu (Arjuna Bakkara)

Rona wajahnya memerah saat memegang ultop itu. Frenki menjaga betul, dia tidak mau ada orang lain memegang benda pusaka leluhurnya. Begitu juga kepada penulis yang bukan dari Lumbanraja.

“Ini senjata Oppung Datu Parulas, dia dikenal dengan kesaktian berperang menggunakan ultop. Itulah sebabnya dia disebut Datu Parulas Parultop,” kata Frenki sambil menunjukkan ultop Datu Parulas panjangnya sekitar dua meter, gunanya untuk berperang dan berburu.

“Aku tidak mau memberi bahan pengawet, takut rusak. Kalau kotor, aku cukup melapnya dengan kain,” katanya lagi.

Bahan untuk peluru diambil dari pohon borta atau aren. Taruge namanya, keras, tajam dan runcing. Taruge yang lengket di antara ijuk yang mengelilingi pohon aren inilah, kata Frenki, yang dijadikan Datu Parulas menghadang musuh.

Selain taruge, ada lagi sejenis tanaman yang biasa tumbuh di hutan untuk dijadikan peluru, namanya tada-tada.

“Panjang durinya seukuran jari telunjuk orang dewasa, kalau tertusuk, rasanya seperti terbakar dan akhirnya demam. Bulu landak juga dipakai untuk peluru,” ucap dia.

Kesaktian Datu Parulas kesohor karena mampu menyasar musuh meski jaraknya jauh. Baginya, tidak harus di depan mata agar bisa mengenai sasaran. Dia cukup meniupkan ultop-nya, peluru bisa terbang hingga ke seberang Pulau Samosir. Tidak hanya berperang, ultop juga dipakainya untuk berburu.

Losung yang disebut dipakai Datu Parulas Parultop Lumban Raja membantu Raja Sijambang Manurung mertuanya di Lumban Julu, Toba. (Arjuna Bakkara)

Lesung atau losung dalam bahasa Batak yang berukuran besar dengan berat sekitar 200 kilogram di kolong rumah Parsaktian terbuat dari sebatang pohon besar. Selain untuk menumbuk padi, juga digunakan untuk perang.

Datu Parulas, katanya, pernah menerbangkan losung hingga ke seberang Pulau Samosir. Saat itu, dia membantu mertuanya melawan serangan musuh di Jangga Dolok, Lumbanjulu, Kabupaten Toba saat ini. Mertuanya merupakan raja bergelar Raja Sijambang Manurung.

“Maka terkenal juga dengan sebutan Sipahabang Losung (menerbangkan lesung),” ujar Frenki.

Kotak selanjutnya dibuka, terlihat sebilah pedang dengan dua sisi yang tajamnya sama, besinya tampak hitam mengkilat. Namanya podang si dua baba, senjata untuk berperang dan berburu.

Selain memiliki kesaktian menaklukkan musuh, ternyata Datu Parulas ahli obat-obatan. Frenki memperlihatkan sahan pardaupan. Wadah dari tanduk kerbau sebelah kiri untuk meramu obat-obatan. Di ujung tanduk, terdapat lubang untuk mengeluarkan ramuan yang siap dipakai. Lalu sebatang kayu diberi dua tangkai untuk mengaduk ramuan. Warnanya sudah menua.

“Ini masih asli semua, peninggalan Oppung itu,” tutur Frenki.

Pada zamannya, sakit yang asalnya diguna-guna atau sejenis santet diyakini marak. Datu Parulas terkenal dengan ke-tabiban-nya menyembuhkan orang-orang sakit, terlebih orang yang sakitnya susah dipecahkan secara medis. Pada praktiknya, obat-obatan diramu berdampingan dengan mantra. Lalu disemburkan kepada si penderita.

Sahan pardaupan menggunakan tanduk kerbau sebelah kiri ternyata memiliki alasan. Tangan sebelah kiri lazimnya digunakan untuk membuang yang kotor-kotor. Tanduk sebelah kiri yang dipakai untuk meramu obat, dipercaya agar penyakit dan semua sejenis yang kotor terbuang.

Dari berbagai benda pusaka yang diperlihatkan Frenki, ada yang paling besar ukurannya. Bentuknya unik, terbuat dari sebatang kayu bulat, menandakan di zaman Datu Parulas ukuran kayu besar-besar. Berbentuk kendi, diameternya sekitar satu meter. Lengkap dengan penutup dengan cara dipalangkan. Tempat ini dulu digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga, namanya hombung.

Datu Parulas sering bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain hingga memakan waktu yang cukup lama. Si Boru Parmulaan istrinya sering ditinggal-tinggal. Untuk menandakan dirinya rindu terhadap sang suami, dia memukul gong atau ogung. Bunyi ogung mampu memanggil Datu Parulas pulang dari pengembaraannya.

Datu Parulas adalah orang yang religiusnya tinggi dan mengenal konsep Tuhan. Mombang atau Raga-raga Nabolak adalah buktinya. Berserah diri ke Sang Khalik. Raga-raga Nabolak merupakan wadah tempat persembahan, media doa-doa atau sesajen untuk Debata Mulajadi Nabolon. Bentuknya persegi empat, terbuat dari kayu aren, berpantat bambu dan dialasi tikar anyaman pandan diisi sesajen. Lalu digantung di bukkulan panyangga atau rabung rumah Datu Parulas.

 

Batu Parmasan

Sekitar 200 meter dari rumah parsaktian, ada Batu Parmasan. Makam tua yang tertata rapi di dekat pohon hariara peninggalan Datu Parulas. Dulu, pohon inilah menjadi partukkoan atau tempat bermusyawarah raja-raja. Pengertian partukkoan saat ini sudah bergeser menjadi pertemuan di warung kopi.

Tidak ada sentuhan modern, tanpa pagar, hanya keasrian dan keheningan yang disuguhkan. Cahaya matahari menembus rimbun dedaunan, bias cahanya bertengger di Batu Parmasan yang menjadi tempat saring-saring atau tulang-belulang.

Makam Batu dikenal dengan istilah Batu Parmasan yang merupakan tempat “saring-saring” atau tulang belulang terjaga dengan baik. (Arjuna (Bakkara)

Lumut sudah membuat kuburan tua ini menghijau, beberapa bagian ada yang sudah retak. Bentuk makam tak semua sama, ada yang berbentuk kendi, ada juga yang berbentuk petak persegi.

Kata Frenki, ini makam keturunan Datu Parulas generasi kedelapan. Dia menyilahkan penulis melihat tulang-tulang yang tersimpan, ada tengkorak kepala, tulang paha dan bagian kerangka yang melapuk. Tengkorak kepala kelihatan lebih besar, rahangnya kuat, deretan gigi masih tersusun rapi dan utuh. Kemungkinan, di masa hidupnya, pemilik kerangka ini bertubuh besar, tinggi dan kuat, melebihi postur manusia Batak saat ini.

Frenki bilang, jasad tidak langsung dimasukkan ke dalam makam batu. Ada proses yang dilalui, yakni pembusukan di tanah kubur lalu dilakukan ritual mangokkal holi-patakkok saring-saring tu batu na pir (digali dari kuburan lalu dimasuklan ke dalam kubur batu).

Ada lagi batu yang untuk diceritakan karena letaknya seolah mengapung di sekitar pantai Danau Toba. Namanya Batu Guru, menurut cerita bermula dari perkelahian kerbau dan batu gara-gara beberapa dukun sedang mengadu ilmu. Akibat perkelahian itu, banyak ladang dan tanaman yang rusak.

Menurut cerita, Batu Guru ada karena perkelahian kerbau dan juga batu yang berlaga kemapuan mistis sejumlah dukun yang kemudian dihentikan Datu Parulas.(Arjuna Bakkara)

Datu Parulas tidak setuju dengan pertikaian ini. Dia menghentikan dengan menempatkan sebongkah batu besar di tepi danau seolah-olah terapung dan tiga batu di daratan. Dinamai Batu Guru, kata Franky, ibarat pesan Datu Parulas agar dijadikan pembelajaran bahwa tidak baik beradu ilmu hingga mengorbankan yang lain. Di sekitar Batu Guru, airnya cukup dingin dan nelayan sering mendapat ikan-ikan besar di sana.

Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Manguji Nababan mengatakan, Batu Parmasan umurnya lebih tua dari kuburan batu atau stupa atau sarkofagus dalam istilah arkeologi.

Sarkofagus biasanya dipahat dari satu batu besar, gunanya sebagai tempat mayat bersemayam. Bentuk atasnya seperti lengkungan perahu. Ini terkait dengan spiritualitas orang Batak bahwa menunju surga dengan berperahu.

Parmasan juga disebut batu na pir yang berarti tempat tulang-belulang orang Batak yang sudah memiliki anak, cucu dan cicit. Belakangan, orang Batak berpikir bagaimana membuat praktis serta efisien lahan maka dibuatlah tugu berbahan semen seperti sekarang.

Saat ini, jarang ditemui parmasan seperti di areal Datu Parulas. Manguji curiga, parmasan tersebut habis dirusak zending ketika masuknya Kristen ke Tanah Batak. Alasannya, mendirikan parmasan sangat dekat dengan kegiatan raja-raja bius yang memiliki daerah kekuasan. Raja bius merupakan persatuan raja-raja di satu kampung yang berdaulat menjaga wilayah dari gangguan apapun.

Gajut/hajut adalah wadah persembahan yang terbuat dari anyaman pandan untuk tempat daun sirih serta sejumlah rupiah yang merupakan tatanan Adat Batak sebagai syarat permisi, yang biasa diistilahkan dengan “Napuran/Demban Tiar”. (Arjuna Bakkara)

Biasanya, kata Manguji, tulang-tulang yang dimasukkan ke parmasan adalah tokoh-tokoh tertentu seperti raja dan bangsawan. Sejauh ini, belum ada pemugaran menjadi cagar budaya padahal Danau Toba menjadi prioritas pembangunan.

Pemerintah bisa memberi perhatian untuk jejak-jejak Datu Parulas agar dampaknya bisa dialokasikan mengelola rumah parsaktian.

“Pemanfaatan daya guna, baik dari sisi spritual dan pariwisata, khususnya bagi keturunan. Jejak Datu Parulas merupakan maha karya budaya yang luar biasa,” katanya.

Menurut Manguji, Batak sejak lama memiliki peradaban sendiri. Termasuk tata cara pemakaman sehingga dia menepis ungkapan bahwa suku ini lahir dari peradaban Hindu.

“Tidak bisa cepat-cepat menggeneralisasikan peradaban Batak berasal dari peradaban Hindu. Tapi, kalau kebudayaan Hindu yang menginspirasi budaya Batak, bisa masuk akal. Atau, misalkan warna budaya dari luar atau asimilasi sah-sah saja,” sebut Manguji.

Masih berkaitan dengan Datu Parulas, sesuai kesusastraan orang Batak, ultop juga digunakan untuk menembak burung. Dari perut burung yang tertembak diperolehlah boni atau bibit tanaman.

Ultop bukan senjata pemusnah, sasaran yang diambil adalah hewan atau burung yang dipilih. Ultop dan burung adalah media penyebaran benih tanaman. Ilmu meracik peluru dari mesiu juga sudah diterapkan dari dulu. Orang-orang Batak belajar dari alam.

Menurut Manguji, banyak nilai yang diambil dari cerita Datu Parulas. Seperti membantu mertua berperang melawan musuh. Artinya, ada nilai yang bagus agar seorang menantu hormat dan setia membela orangtua istrinya. Kemudian, selain dari sisi mitos, orang Batak dulunya telah memiliki pengetahuan. Meski mitos dan pengetahuan bagi suku ini berjalan berdampingan.

“Kalau mau dijadikan objek pariwisata sebaiknya pemerintah memberi otoritas kepada keturunan Datu Parulas. Supaya diberlakukan aturan dan etika kepada pengunjung sehingga nilai dan norma yang dipelihara sejak lama.

Tinggalkan Balasan