Juma Sigumbang, Tempat Melepas Penat di Batuan 300 Juta Tahun

Penulis dan Fotografer: Narendra

 

Batu Sigumbang, tempat menikmati panorama Tao Silalahi sembari melepas penat. (Narendra)

 

 

Perbukitan Tao Silalahi gagah menjulang
Di antara rerumputan, menyembul batuan
Jumlahnya tak sedikit, ukurannya pun fantastis
Nikmat yang tak terkira bisa bersantai di atas batuan
Memandangi Tao Silalahi yang eksotis

Sambil bertaruh rindu

—-

Embun masih memercik di dedaunan. Matahari pun belum terlalu tinggi naik dari Timur. Suara ternak sayup-sayup terdengar. Tao Silalahi begitu tenang di pertengahan November.

Jalur berkelok Tongging, mengantarkan ke tepian Toba. Melewati Paropo yang populer dengan kawasan untuk kamping, hingga akhirnya tiba di Silahisabungan.

Sungguh pengalaman dan pemandangan berbeda. Silahisabungan menjadi sudut lain Danau Toba yang tak kalah indah dengan Samosir, Parapat atau Balige yang lebih dulu  kesohor. Sangat tepat memang menjadi tempat melepas penat. Danau Toba di sini dikenal dengan nama Tao Silalahi.

Silahisabungan adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Dairi. Berbatasan dengan Karo, Pakpak Bharat, Samosir dan Humbang Hasundutan. Kawasan sarat kebudayaan ini menyajikan lanskap perbukitan dengan batuan sisa letusan Toba yang dahsyat.

Batuan itu tersusun acak di ngarai bukit. Sebagian yang berukuran besar menyembul. Di tepian danau, batuan juga tersusun acak. Ibarat membentuk benteng pertahanan dari deburan ombak di masa angin kencang.

“Ini yang namanya Silalahi. Selama ini banyak yang keliru. Menyamakan Paropo dengan Silalahi. Itu lokasi yang berbeda. Walaupun berada di kecamatan yang sama,” kata Bona A Silalahi, pemuda setempat yang aktif dalam pengembangan pariwisata di Silahisabungan sejak 2013 lalu.

Batu Sigumbang, tempat menikmati panorama Tao Silalahi sembari melepas penat. (Narendra)

Bona mulai bercerita soal kawasan Silahisabungan yang kini juga menjadi salah satu dari 16 Geosite Kaldera Toba. Kawasan ini menyimpan banyak narasi yang belum banyak diketahui orang lain. Termasuk soal batu-batuan yang ada di sana.

“Batu-batuan ini memang unggulan di Silahisabungan. Kita sudah mulai mengembangkannya supaya menarik wisatawan,” ungkap Bona.

Belakangan, soal batuan yang ada di perbukitan mulai populer di media sosial. Termasuk salah satu batu besar yang disebut warganet dengan nama Batu Nauli Basa. Namun kata Bona itu keliru. Bahkan saat ditanyai soal Batu Nauli Basa, dia tidak mengetahuinya.

“Tidak ada namanya Batu Nauli Basa. Kalau yang di media sosial itu kita menyebutnya Batu Sigumbang. Karena lokasinya di tanah adat kami,” ujarnya.

Bona pun mengajak untuk langsung datang ke batu yang belakangan populer itu. Letaknya tepat di pinggir jalan, Dusun Sitiotio, Desa Silalahi II, Kecamatan Silahisabungan. Sampai di lokasi, pengunjung harus sedikit mendaki. Sedikit lelah memang, tapi puas.

“Ini nama lokasinya Juma Sigumbang. Juma itu bahasa Silalahi. Dalam Bahasa Indonesia artinya perladangan Sigumbang,” tambahnya.

Tiba di atas batu, pengunjung bisa langsung memanjakan mata. Tao Silalahi langsung terhampar di depan mata. Di sebelah kiri, pengunjung juga bisa melihat Bukit Siadtaratas yang posisinya lebih tinggi. Di sebelah kanan, bisa langsung memandangi kawasan Samosir.

Udaranya sangat segar. Sangat cocok untuk sebagai tempat menenangkan diri. Melipir dari keramaian kota. Apalagi jika membawa tenda.

Batu Sigumbang, tempat menikmati panorama Tao Silalahi sembari melepas penat. (Narendra)

Lokasi Batu Sigumbang, merupakan wilayah adat keluarga Bona yang merupakan keturunan Oppu Raja Ilam Pintubatu. Sang Raja punya tiga anak, Oppu Batujuguk, Oppu Tamba Tua dan Oppu Tinggi.

“Kami keturunan dari anak paling bungsu, Oppu Tinggi. Kalau kamigenerasi ketiga,” ujar Bona.

Lokasi Batu Sigumbang berdekatan dengan Namartua Dalan. Nauli Basa bagi warga Silalahi hanya istilah untuk menyebutkan satu kawasan yang disakralkan. Jarak Nauli Basa yang terdekat sekitar 3 Kilometer dari setelah Batu Sigumbang.

Rencana Bona, lokasi batu itu akan dijadikan tempat kamping. Paling tidak bisa menyedot wisatawan. Rencananya pun cukup bijak. Dia tidak ingin ada yang mendirikan bangunan di pinggiran danau. Supaya pengunjung bisa langsung melihat keindahan Tao Silalahi.

“Nanti, supaya tidak mengganggu, bahkan toilet juga di atas. Tidak nampak dari jalan. Supaya tidak jadi jelek pemandangan ke bawah. Di atas kan juga ada sungai. Ini akan jadi sumber air pengunjung,” ujar Bona sambil menunjukkan rencana lokasi kamping.

Garis pantai berbatu di kawasan Juma Sigumbang. (Narendra)

Selain Batu Sigumbang, masih banyak lagi spot yang belum terjamah orang banyak. Seperti Air Terjun Siringo, Tugu Silahisabungan yang kesohor dengan narasi peradabannya, Batu Sigadap sebagai tempat pengadilan hingga bukit tempat warga kampung membuat Solu (perahu).

Uniknya Pertanian Bawang di Celah Batu

Aroma bawang begitu kuat ketika berjalan di kawasan Silahisabungan. Memang mayoritas warga di sana petani bawang. Namun cara menanamnya sangat unik. Bawang ditanam di celah bebatuan. Karena warga memang memanfaatkan tanah di celah batuan untuk menanam bawang.

Hamparan ladang bawang memang mudah ditemui di sepanjang garis pantai Tao Silalahi. Selain di antaranya ada yang bertani padi, kopi dan sejumlah komoditas lainnya. Sepanjang jalan desa, rumah-rumah warga dijadikan tempat menjemur bawang. Di selasar rumah, kaum ibu tampak sibuk memisahkan bawang dari daunnya.

“Bawang memang menjadi unggulan dari Silahisabungan. Paling banyak lahannya. Di sini juga mau saya tanami bawang dan beberapa tanaman lain,” ujar Bona.

Pertanian bawang di antara batu menjadi pemandangan unik di kawasan Silahisabungan. (Narendra)

Menanam bawang, kata Bona, memang sudah dilakoni warga Silahisabungan sejak zaman leluhur mereka ada di sana. Jejak pertanian juga terlihat dari beberapa benteng batu yang ada di perbukitan. Benteng itu berguna menghalau ternak yang akan masuk ke perladangan. Tersusun rapi meskipun tidak menggunakan semen. Betu terikat secara alami.

Kata Bona, bawang dari Silahisabungan juga berbeda dari tempat lainnya. Baik dari segi rasa hingga warna. “Kalau di sini bawangnya sedikit agak pedas. Warnanya lebih merah daripada bawang biasanya,” ujar laki-laki 35 tahun itu.

Dari seluruh Kabupaten Dairi, Silahisabungan memang menjadi sentra pemasok bawang mayoritas. Bawang-bawang kemudian dipasok ke sejumlah daerah di Sumatra Utara.

Kata Bona, mereka ingin kembali memopulerkan bawang Silalahi. Supaya kesejahteraan para petani bisa meningkat. “Sekarang kami punya BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) untuk mengorbitkan lagi bawang dari sini,” ujarnya

Warga di Silahisabungan mayoritas menjadi petani bawang. (Narendra)

Mereka juga tengah menyiapkan konsep agrowisata. Jadi nantinya pengunjung bisa datang menikmati pemandangan dan belajar soal pertanian. Saat pulang, produk pertanian dari Silahisabungan juga bisa menjadi oleh-oleh.

Bona pun berpesan, pengunjung harus menjaga etika saat berkunjung ke kawasan Silalahi. Lantaran, warga sekitar begitu menghormati leluhurnya. Di Silahisabungan juga masih begitu banyak tempat yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertanian dan perikanan adalah sektor yang paling maju di Silahisabungan. Data 2017 menunjukkan, produktivitas bawang dan perikanan air tawar mencapai masing-masing 2.392 ton dan 295 ton. Luas lahan bawang merah di Silahisabungan mencapai 335 Hektare.

 

Batuan 300 juta tahun lalu

Bukan tanpa sebab bawang di Silahisabungan menjadi primadona. Letusan Gunung Toba menjadi faktor utama yang memberikan pengaruh besar. Endapan dari letusan Toba juga yang menyusun kadar mineral tanah menjadi tinggi.

Vice General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP-GKT) Gagarin Sembiring mengatakan, dinding kaldera di Silalahi merupakan batuan dasar. Tersusun dari batuan slate yang berusia tidak kurang dari 300 juta tahun.

Tao Silalahi juga termasuk dalam Kaldera Haranggaol yang dihasilkan dari letusan kedua yang terjadi pada 500 ribu tahun lalu. Kaldera Haranggaol juga disebut sebagai palung terdalam dari Danau Toba.

“Itulah yang jatuh menjadi bongkahan-bongkahan. Mengisi ruang tempat di dataran, dan ditengah-tengah endapan tanahnya adalah hasil pelapukan batuan itu. Itulah yang membentuk tanah di kawasan itu,” ungkapnya.

Bawang Silalahi punya cita rasa lebih pedas ketimbang dari daerah lainnya. (Narendra)

Gagarin berharap, ada riset mendalam terkait pembentukan tanah di kawasan Danau Toba. Khususnya di Silalahi yang cukup unik. Bahkan selain bawang, mangga dari Silalahi termasuk yang terbaik.

Silahisabungan merupakan lokasi unik. Selain menawarkan keindahan bentang alamnya, pengunjung akan dimanjakan dengan kebudayaan yang sarat makna. Warga di sana juga sangat ramah dengan pengunjung.(*)

 

Tinggalkan Balasan