Kerajaan Kera dan ‘Doctor Dolitle’ dari Toba

Detim memberikan makanan kepada monyet-monyet di Taman Primata Sibaganding. (Damai Mendrofa)

Penulis dan Fotografer: Damai Mendrofa

Suara terompet menembus hutan

Primata penghuninya langsung datang

Menunggu giliran mendapatkan makanan

Semua turut dengan perintah Anak Parherek

Doctor Dolittle dari Toba

Pernah menonton film Doctor Dolittle? Robert Downey Jr, si Iron Man itu, memerankan diri sebagai Doctor Dolittle. Dokter hewan yang akhirnya mampu berbicara dengan satwa. Itu di dunia film. Bagaimana di dunia nyata?

Namanya Abdul Rahman Manik atau Detim Manik. Kini ia dikenal juga dengan sebutan Anak Parherek (Penjaga Monyet). Saat saya temui di penghujung Oktober 2020, ia menenteng keranjang berisi pisang dan kacang. Bertelanjang kaki berjalan perlahan dan di jalan setapak dari beton.

Jalan itu sedikit menanjak menuju lokasi utama taman dimana terdapat dua bangunan berbentuk rumah. Selebihnya fasilitas pendukung seperti tempat duduk, tangga, kolam dan tali tempat bermain primata. Di tempat ini Detim setiap hari memanggil siamang (Hylobates Syndactyus) beruk (Makaka Nemestrina) dan kera atau monyet ekor panjang (Makaka Faascicularis), untuk ia beri makan.

Detim mengalami kecelakaan tahun 2006 lalu. Insiden itu tidak saja mempengaruhi kakinya sebelah kanan, tapi juga mata. Fisik Detim kini, memang tak sempurna, tapi tidak di mata primata yang menghuni Taman Primata Sibaganding di hutan Aek Nauli. Hutan ini berstatus Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Letaknya di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Untuk para primata, Detim bak dewa yang rela berkorban jiwa dan raga.

Pria berusia 30 tahunan ini seperti dikaruniai kemampuan berkomunikasi dengan beruk, kera, siamang dan kera jambul di Hutan itu. Itu mengapa saya menyamakannya dengan tokoh film Dolittle. Selain menggunakan bahasa verbal, Detim juga dibantu terompet dari tanduk Kerbau.

Kawanan Primata jadi Keseharian Detim

“Na eiiii, nga didia hamuna on eiiii, pahatop i booooo,” teriak Detim. Dari hutan menyahut “ Huuuuuuu…,” suara itu dari kelompok beruk.

“Oiiiii.. hatop ma ah, cepatlah cepat, mana si Neli? Kau kenyang kabur kau ya Nel ya, kalau lapar kau semangat empat lima kau datangnya, kalau kenyang kabur,” timpal Detim.

Detim memberikan makanan kepada monyet-monyet di Taman Primata Sibaganding. (Damai Mendrofa)

Matanya liar memburu masuk ke dalam hutan. Ia lantas berdiri di dinding kolam yang kini mengering. Meniup terompet miliknya dan kembali hanya mendapat sahutan dari dalam hutan. Tak menyerah, Detim beberapa kali meniup lagi, hasilnya sama dalam nada yang berbeda. Siamang tak juga muncul. Hanya ada suara-suara dari tengah hutan menyahut dari jauh.

“Udah siang bang, Siamangnya jauh, kalau begini, biasanya ada pohon yang berbuah di hutan, makanya dia tidak turun,” tukas Detim.

Saya terpaku dan ikut larut di antara sejuk hutan. Mata saya mencoba menerabas dedaunan yang rapat. Berharap ada gerakan mendekat, dan itu Siamang. Dugaan saya meleset. Tapi kekecewaan tergantikan. Disaat bersamaan terdengar suara melengking dari pucuk pohon tinggi tak jauh dari jalan setapak. Itu monyet berjambul (Makaka Presbitis). Saya mendekat dan mengabadikannya. Monyet ini tidak pernah turun tanah dan hanya sesekali datang untuk berkunjung.

Usai memotret, saya kembali lokasi utama taman. Duduk dekat bangunan rumah tempat Detim biasa menyimpan pisang atau kacang. Lantas terdiam sambil memandangi langit-langit hutan. Ketika bersamaan Kupu-kupu beragam warna dan corak beterbangan, berpasangan. Memadu kasih, hinggap kesana kemari. Di balik daun pinus, matahari bersembunyi malu-malu. Cahayanya memendar.

Kedatangan pertama saya dengan menunggu hingga sekitar jam empat sore tak juga membuahkan hasil bertemu keluarga siamang. Keluarga Siamang itu berjumlah 4 ekor. Masing-masing sudah diberi nama. Betina dewasa diberi nama Neli, jantan dewasa diberi nama Tambah.  Anak pertama Neli dan Tambah seekor betina diberi nama Tara, anak kedua jantan, diberi nama Gopal Corona. Nama yang disematkan Detim untuk mengenang kelahiran primata itu di masa pandemik COVID-19.

Karena tak bertemu, akhirnya saya kembali datang. Pada kedatangan kedua, Siamang juga tak menampakkan diri. Saya hanya bertemu kelompok kera dan beruk. Pada kunjungan ketiga di awal November 2020 ketika siang belum menua, saya akhirnya bertemu kawanan siamang itu.

Detim sedang memberi pisang kepada Neli, Tambah, Tara dan Gopal. Pisang-pisang itu dari seorang supir truk yang sengaja berhenti di Taman Primata. Neli dan Tambah turun menjemput pisang dalam ritme terbatas, sementara Tara dan Gopal berlompatan tak henti. Gopal sempat mendatangi Detim, merangkul lengannya dan mengajaknya bermain. Tak lama, ia memanjat lagi, berayun-ayun di dahan Pohon Beringin sembari bermain dengan Tara. Saya menikmati pemandangan Detim begitu akrab dengan siamang itu.

Saat bersamaan, beruk dan kera sedang ramai. Detim juga membagi mereka pisang. Penuturan Detim, terdapat beberapa kelompok beruk dan kera di Taman ini. Masing-masing memiliki pemimpin. Di antaranya kera yang dipimpin Bruno, primata jenis kera yang dahulu menetap di kawasan Batu Gantung. Ada juga si Patra dan kelompoknya. Nama itu berasal dari Patra Jasa, dimana Kera itu berasal. Menyusul Tison dan kelompoknya.

Detim berinteraksi dengan Siamang. (Damai Mendrofa)

 

Menurut Detim, kelompok Tison ini merupakan Beruk asli yang menetap di Taman Primata Sibaganding. Ada juga gerombolan yang ia sebut kelompok berandal. Kelompok ini dipimpin Drog dan didampingi Sipuntung. Beruk yang naas karena tangannya puntung terkena jerat beberapa tahun lalu. Kelompok Drog dan Sipuntung agaknya mendominasi. Selain memiliki pasukan yang lebih banyak, Drog memang pernah berkelahi dengan Tison. Drog menang dalam duel.

“Sejak itulah, kalau Si Drog dan Sipuntung sudah datang, si Tison itu pasti menyingkir,” ucap Detim.

Kerja Keras Memberi Makan Primata

Mengunjungi Taman Primata tidak ada patokan retribusi yang harus dibayarkan. Hanya donasi partisipasi yang dimasukkan ke dalam kotak di dinding rumah. Yang diharapkan, para pengunjung sebaiknya membawa makanan untuk diberikan kepada primata. Pisang atau kacang.

“Atau beli makanan di sini juga boleh, daripada kasih makan di jalan, bagus kasih makan di sini. Kalau di sini saya jual kacang 10 ribu sebungkus dan pisang 10 ribu satu sisir,” sebut Detim.

Memberi makan primata-primata, tidak saja bergantung dari kedatangan para pengunjung. Detim, ayah dari seorang putra dan seorang putri ini, dengan kerja keras tetap menyetok pisang dan kacang. Jika kehadiran tamu minim, seperti sepanjang masa pandemik, Detim tetap memberi mereka makan, walau seadanya.

“Ya, saya usahakan entah darimana-mana,” kata Detim.

Soal pekerjaan dan kehidupan dengan keluarganya, suami dari Boru Hutabarat ini menyebut menikmati apa yang ia lakukan. Sembari mengurus primata-primata itu, Detim sesekali mencari pekerjaan di luar, mocok-mocok atau menjadi kuli bangunan.

“Sebenarnya jika memikirkan kehidupanku, bisa saja mewah di luar sana. Tapi karena memikirkan kehidupan mereka ke depan dan meneruskan apa yang dilakukan almarhum bapak. Karena saya menganggap mereka keluarga. Ini tempatku, saya lahir, besar dan akan mati di sini,” ungkapnya.

Soal harapan, Detim tak menampik saat ini sedang membutuhkan dukungan. Baik dari pemerintah maupun dari para pengunjung yang melintas di jalan dan simpatik terhadap primata-primata itu. Bantuan pemerintah pernah ia dapatkan tahun 2019 lalu, melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK) Aek Nauli dengan pemberian makanan tambahan.

“Jika tidak ada respon pemerintah selama dua tahun ke depan, saya akan memanggil primata-primata itu di jalan, agar pengunjung langsung melihat di jalan. Biar sekalian kita ramaikan di jalan, bahkan Siamangnya,” ucap Detim.

Jalanan, Kuburan Bagi Primata

Jalur Lintas Sumatra menyisir tepian tebing-tebing Kaldera Toba merupakan jalur yang sibuk. Di masa liburan, jalan ini kerap macet dan mengular hingga beberapa kilometer. Terutama di jalur mendekati Taman Primata. Jalanan itu menjadi ladang bagi beruk dan kera. Mereka berkeliaran di jalanan, duduk-duduk di pembatas jalan atau ranting pohon, mengemis makanan dari para pengendara. Sesekali mendatangi rumah-rumah makan dan berharap dapat makanan. Tak jarang dengan ‘mencuri’.

Seekor kera menunggu pengendara memberikan makanan. Kondisi ini sangat membahayakan kera-kera itu. (Damai Mendrofa)

Beruk dan Kera di tepian jalan sudah jadi fenomena di daerah ini sejak lama. Tak diketahui siapa yang mengawali, tapi interaksi antara Beruk dan Kera dengan yang melintas terjalin setiap hari.

Detim menyebut, interaksi ini berdampak buruk terhadap primata. Hanya membuat beruk dan kera tidak lagi mandiri mencari makanan di hutan. Karena dengan hanya mengemis di pinggir jalan, mereka bisa mendapatkan makanan.

Interaksi ini berdampak langsung terhadap keselamatan primata. Karakteristik berebut makanan, menjadi ancaman. Jalanan menjadi kuburan bagi primata. Tertabrak atau tergilas, cacat atau mati.

“Monyet punya kebiasaan mengambil makan dengan berkerumun, jadi saat mengambil makan di jalan ya begitu juga. Dia berlari tanpa melihat tujuan, dia menabrak mobil, makanya kalau masih ada yang utuh, kepalanya pecah, kalau tangannya buntung, itu berarti pas dia ambil makan di aspal, mobil lewat, kenalah tangannya. Ada juga yang sampai kakinya habis. Itu karena kena strum,” tukas Detim.

Menurut dia, di mana ada makanan di situ ada primata. Sepanjang di jalanan para pengendara memberi makan, primata akan terus datang. Detim sering melarangnya, sampai akhirnya ia terpaksa membiarkan kejadian itu terus terjadi. Itu mengapa, primata ditemukan mati di pinggir jalan, bukan hal baru.

“Ada juga yang membandel, sampai ngajak berdebat. Katanya kenapa rupanya kalau kukasih makan? Karena dia bandal. Ku bilanglah, minta nomor telpon dan wa (whatsapp) dan alamat rumah bapak. Terus ditanyanya, untuk apa. Kujawab, ya, nanti kalau ada monyetnya yang mati biar kukirim ke rumah bapak. Disitulah terdiam dia, gak dijawabnya lagi,” tutur Detim.

Dikatakannya, kesadaran tentu harusnya datang dari manusia. Bahwa habitat monyet bukan di jalan raya, tapi di hutan. Detim mengaku, kini upaya penyadaran juga sudah ia lakukan dengan cara membuat konten video. Lalu ia sebarkan melalui media sosial.

“Kalau spanduk, akan dikoyak, kalau besi dicuri tukang botot. Jadi langkah tepat adalah dengan konten video, supaya yang datang ke Danau ini mengerti. Memang sebagian ada kasihan pengin kasih makan, tapi atas dasar kasihannya itu akhirnya membunuh. Ada sempat itu, nampak cuma tulang kakinya menahankan dia jalan, sempat saya rawat, saya kasih makan setiap hari, tapi akhirnya mati. Ya, saya merasa bersalah sendiri, karena tidak mampu memberi mereka makan,” tukas Detim.

Terompet ‘Bertuah, Jejak sang Bapak

Detim menyelempangkan tas kecil di punggungnya. Tas berwarna hitam itu berisi terompet dari tanduk kerbau yang ia bikin sendiri. Terompet itu selalu dibawanya. Menjadi alat untuk memanggil primata, terutama Siamang.

Detim mengisahkan, menggunakan terompet memanggil primata sudah dilakukan sejak bapaknya, Umar Manik masih hidup. Namun terompet yang ia gunakan sekarang, bukan terompet warisan almarhum.

“Terompet bapak kan sudah tua dan lapuk, jadi sudah tidak bisa digunakan. Dan saya memang mau buat yang versi sendiri,” tutur Detim.

Detim meniup terompet bertuah untuk memanggil para primata turun. (Damai Mendrofa)

Terompet milik Detim tidak saja berasal dari kerbau berbeda. Bentuknya juga berbeda. Jika terompet yang digunakan bapaknya berasal dari tanduk sebelah kanan, milik Detim dari tanduk sebelah kiri. Meski, tanduk itu sama-sama berasal dari kerbau jantan yang belum kawin.

Namun Detim tidak ingin jejak bapaknya hilang begitu saja. Termasuk di terompet yang digunakan memanggil primata. Ujung terompet dibagian peniup milik bapaknya ia potong dan kemudian disatukan dengan terompet miliknya.

“Jadi terompetku menjadi bagian kedua. Ya itu, karena dia yang pertama di sini, dan saya yang meneruskan. Dan kalau ada penerusku nanti, tanduknya juga harus sebelah kiri,” tutur Detim.

Untuk meniup terompet, Detim juga menggunakan alat bantu dari sedotan plastik yang dipotong. Bagian ini disematkan di ujung bagian yang ditiup. Meniup terompet ‘sakti’ itu juga tak sembarangan. Ada teknik khusus. Bahkan, jika bukan Detim, maka primata tidak akan merespon.

“Abangku pernah meniup terompet, gak mau datang monyetnya. Aku datang dan kutiup baru mereka datang,” tuturnya.

Detim memainkan jemari kirinya gemulai di ujung terompet, menutup atau membuka. Terdapat beberapa lobang di sisi ujung terompet yang berfungsi mengatur nada dan lengkingan suara. Detim menyebut, suara dari terompet ia tiup berbeda-beda, mulai dari suara halus, memaksa hingga merayu.

“Sering kutiup dengan nada campur. Kalau nada yang merayu, itu kalau mereka sudah jauh ke dalam hutan,” katanya.

Sandal Jepit Ampuh Menghukum Primata yang Bandel

Tak mengenakan alas kaki seperti sandal jepit hal biasa bagi Detim. Ia mengaku jadi lamban bergerak. Namun selain alasan itu, ada sebab lain. Jika Detim mengenakan sandal menuju pusat taman, maka itu pertanda buruk bagi primata pejantan. Artinya Detim sedang marah. Ada monyet yang membandel.

“Gak kupukul pakai kayu, kalau pakai kayu patah kayu itu gak terasa dia itu. tapi kalau pakai sendal, kupukul mulutnya, diam itu. Dengan begitu, saya mau bilang ke mereka, saya lebih kuat dari mereka. Jadi ketika dia salah saya bisa menunjukkan kalau saya sedang marah,” tutur Detim.

Lain lagi menghadapi betina yang bersalah. Detim tak main fisik langsung. Ia menggunakan bahasa verbal yang agaknya telah dimengerti primata-primata betina sebagai tanda hukuman.

“Nanti kubilang itu, mana ini anaknya, biar dikurung. Nanti lari dia itu. Dicarinya anaknya sampai dapat. Karena biasanya, hukuman untuk betina, kuambil anaknya, kukurung tiga hari tiga malam, nanti induknya menjaga dia. Jadi dia hukuman mental,” tutur Detim.

 

Mewarisi Perjuangan Bapak

Berkisah jauh ke belakang, almarhum Umar Manik, yang mengurus primata-primata itu sejak 1984. Umar dikenal sebagai Pawang Monyet Sibaganding dan menyimpan kisah mitologi serta heroik.

Dikisahkan Detim, bapak dan ibunya hanya petani biasa di hutan Sibaganding, sama seperti para petani lain. Selama bertani, monyet-monyet selalu datang merusak tanaman Umar. “Bapak itu palak (marah) dan membeli racun. Tapi monyet-monyet itu tidak memakan racun yang diberikan. Sebaliknya merusak tanaman lain milik Umar,” tutur Detim.

Usai peristiwa itu, besoknya Umar bermimpi. Dia didatangi leluhur. Detim mendekripsikannya sebagai seorang perempuan tua, berbadan bungkuk dan menggunakan tongkat. Umar pun ditegur. Perempuan tua dalam mimpi menyebut bahwa bukan monyet-monyet itu yang datang ke hutan itu, melainkan Umar. Perempuan tua itu pun berpesan agar Umar mengurusnya dan membuat terompet.

Kera-kera menunggu giliran diberi makan oleh Detim. (Damai Mendrofa)

 

Umar pun mengikuti mimpinya. Dia membuat terompet dari tanduk dari kerbau jantan yang belum kawin dan dipotong sewaktu pesta pernikahan. Umar pun meniup terompet itu hingga primata pun datang. Sejak itu, ia pun berhenti bertani dan mulai mengurus primata. Hutan Sibaganding pun kian ramai dikunjungi wisatawan.

Sampai suatu waktu, personel polisi dan TNI mencurigai Umar, karena di waktu-waktu tertentu ada mobil truk yang berhenti di depan rumahnya. Ia dituduh menanam ganja.

“Rupanya itu pisang yang dibawa kemari. Bapak sempat dihajar, baru ditunjukkannya-lah. Ditiupnya terompet dan didatangi monyet-monyet. Disitulah bapak ditepuk pundaknya. Bagus Manik, ini akan kita jadikan destinasi wisata. Dimasukkanlah bapak ke majalah Kartini. Setelah itu ramailah, wisatawan mancanegara pun berdatangan,” imbuh Detim.

Mitologi yang Belum Tersingkap

Taman Primata yang akrab dikenal dengan nama Monkey Forest, menyimpan jejak-jejak mitologi. Kisah mitologi itu diungkap Detim kepada saya. Cukup banyak dan beragam.

Misalnya soal keberadaan batu yang dari sudut tertentu membentuk wajah manusia. Detim menceritakan, batu itu ia temukan 2009 lalu. Saat itu Detim dengan seorang teman asal Flores bernama Menco iseng-iseng naik ke bukit.

“Tapi seperti dipanggil leluhur. Jadi tak sengaja, saya melihat batu berbentuk wajah itu. Punya dagu, mata, alis, kepala dan songkoknya. Seperti oppung zaman dulu lah dia, ada tumbuh rumput di bagian kepalanya. Kalau bapak bilang itu Hela-nya Siallagan. Karena wajah itu menghadap ke Siallagan,” kata Detim.

Terdapat juga batu berbentuk gua, yang menurut Detim dapat dijadikan tempat berteduh. Tak jauh dari situ, ada juga bentuk batu menyerupai kingkong. “Seperti dipahat, buatan alam, di luar gua,” ucapnya.

Tak jauh dari batu berbentuk wajah, Detim juga menyebut terdapat Gua lainnya. Ia bahkan pernah mengajak Madihon Manik, adik dari almarhum bapaknya, yang mengaku mengetahui gua yang disebutnya memiliki pintu-pintu itu, naik ke bukit dan menelusurinya.

Dari penelusuran itu, Detim berhasil menemukannya. Lantas dia menjatuhkan sebongkah batu dan mendengar jatuhan batu dalam durasi yang lama. Di dalam gua terdapat lantai, pintu dan meja dari batu.

“Dan sekarang sudah dipasang jerjak besi karena pernah suatu waktu ada orang meninggal di dalam gua karena mengambil sarang walet,” tuturnya.

Dari informasi para orangtua, di zaman Belanda, leluhur orang Batak menjadikan gua itu tempat menyimpan barang berharga. Cerita para orangtua itu dikuatkan seorang teman Detim yang pernah kerasukan dan membenarkan keberadaan gua.

Disebutkan, di dalam gua terdapat cawan dan patung berbentuk manusia, memegang tongkat dan keris, serta duduk melipat kaki berposisi membaca buku yang diyakini kitab suci.

Sementara itu, Detim juga mengisahkan, di bagian hutan lebih jauh dari Taman Primata, juga terdapat jejak pemukiman, tepatnya di Dolok Simanuk-manuk. Di lokasi itu terdapat semacam jalur kuda. Jalur itu disebutkan Detim rata dan tidak ditumbuhi rumput. Di kawasan itu juga terdapat makam br Sibutar-butar.

“Dulu pernah ada orang datang mengsaya keturunannya dan kami temani berziarah,” ungkap Detim.

Sementara itu terdapat juga Gua di Dolok Sigualon tak jauh dari Dolok Simanuk-manuk. Gua itu diyakini memiliki terowongan hingga ke Batu Gantung. Penuturan Detim, dari cerita orangtuanya, dikisahkan gua itu benar adanya.

“Kata bapakku, kalau danau rendah, ada gua dimana kita bisa naik sampan kecil,” kata Detim.

Mitologi lainnya, pohon-pohon berbentuk wajah manusia berparas perempuan yang ditemukan di perbukitan Taman Primata. Pohon itu kata Detim menghadap ke Danau Toba. Berlanjut, cerita Detim yang menyebut dua pohon beringin di Taman Primata, menurutnya sebagai pintu gerbang menuju tempat para leluhur dan kerajaannya di hutan itu.

“Ada kerajaan Batak di atas, semakin tinggi kita naik, semakin tinggi tingkat kerajaannya, jadi di atas sana harus berniat bersih,” tukas Detim.

Detim juga mengatakan terdapat makam Boru Manurung. Makam itu berada di perbukitan lebih tinggi dari bukit di mana Boru Butar-butar dimakamkan. Diungkapkan, suami br Manurung itu dimakamkam di Sibisa. Pemakaman terpisah itu, karena keduanya semasa hidup, tidak akur.

“Pernah cucunya datang dan kesurupan, dan makanan namboru itu Semangka,” kisah Detim.

Belum selesai, Detim juga menunjukkan batu berhimpit yang ia sebut ‘Batu Mardila’ atau dalam Bahasa Indonesia artinya batu berlidah. Batu itu terlihat dari portal menuju Taman Primata. Detim mendeskripsikan, penyebutan nama itu karena ada batu yang saling bertindih dimana batu di bagian tengah menjulur ke depan dan lebih panjang dari dua batu yang menghimpitnya.

Ragam mitologi itu juga disusul kedatangan orang-orang yang merasakan aura magis Taman Primata. Misalnya kedatangan Sanggar Tari Kerincing Hanoman dari Kota Pematang Siantar. Mereka datang untuk membawakan seni tari di pusat Taman.

“Tarian kera itu karena ada raja Hanoman yang mendatangi pemilik sanggar dan meminta agar Sanggar itu menari di Taman Primata. Setelah tarian itu, tak berapa lama Wakil Gubernur Sumut mendatangi Taman Primata,” katanya.

Seorang lainnya juga datang. Detim menyebut orang itu etnis Tionghoa yang datang meletakkan dupa dan berdoa di Taman Primata, serta menyebut di taman itu terdapat raja kera.

“Padahal ito (sapaan untuk perempuan) orang sanggar dan orang Tionghoa itu belum pernah bertemu, tapi mereka sama-sama mengakui ada raja kera di sini,” ucap Detim.

 

Hutan Aek Nauli Kaya Potensi

Kawasan Hutan Aek Nauli kini dikelola penuh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli sejak 2015. Hutan itu sudah ditetapkan Kementerian menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) sejak 1995 lalu.

Bagi BP2LHK Aek Nauli, keberadaan beragam jenis primata di hutan itu menjadi perhatian khusus dan menjadi bahan penelitian dan pengembangan. Termasuk di Taman Primata yang dijaga Detim Manik yang kini dijadikan pegawai honorer.

“Siamang memang menjadi Ikon kita,” kata peneliti ahli utama BP2LHK Aek Nauli, Wanda Kuswanda, saat dihubungi melalui telepon.

Hasil penelitian menyebutkan, terdapat sebanyak 11 kelompok Siamang di Hutan Aek Nauli dengan beragam teritori. Termasuk satu kelompok yang berada di Taman Primata. Wanda menyebut, terkhusus di taman itu, pihaknya telah memberi dukungan. Baik pengadaan tanaman pakan maupun pembangunan fasilitas pendukung.

“Tahun 2019, kita sudah menanam pakannya. Ada jambu batu dan jambu air, cempedak, medang, nangka, dan ada beberapa jenis yang ditanam di kawasan Taman Primata. Juga dilakukan pembangunan areal parkir dengan beton, jalan setapak dari beton, toilet dan gerbang serta portal,” kata Wanda.


Seekor kera bermain-main di antara pepohonan di Taman Primata. (Damai Mendrofa)

Taman itu, sambung dia, selama ini dijadikan sebagai lokasi riset, dan menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dari pengembangan ekowisata. Karena itu, promosi juga sudah dilakukan. Baik melalui leaflet, stiker, brosur buku dan media lainnya. Lokasi ini juga sering dijadikan sebagai lokasi riset para mahasiswa.

Ke depan, kata Wanda, dalam kerangka tugas dan fungsi balai, taman itu akan terus didukung. Termasuk mendorong penerbitan beragam informasi tentang Siamang yang menurut dia masih sangat sedikit.

Hal lain, sebutnya, akan terus dilakukan pengayaan pakan. Tidak saja diperuntukkan kepada siamang, namun juga kepada jenis primata lainnya. Apalagi, dia mengakui, primata yang berkeliaran di jalan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak gampang.

“Kita sudah juga buat pelarangan. Ya itu susahnya bangsa kita, kemarin kita sudah coba, tapi ya pengunjung tiap hari kan berganti. Petugas kita juga terbatas. Jadi tidak bisa tiap hari memantau.  Sudah buat tulisan pelarangan, tapi kadang juga dicabut. Ya kita akan terus lakukan itu dan kalau sedang ada pemantauan, ya ditegur pengunjungnya,” ungkap Wanda.

 

Diusulkan Mendapat Penambahan 400 Hektar Hutan Primer

Hutan Aek Nauli memang kaya potensi. Di hutan seluas 1.900 hektar dan telah diusulkan kembali agar mendapat penambahan seluas 400 hektar ini, beragam pengelolaan bersifat riset dan penelitian serta pengembangan berbasis ekowisata sedang dilakukan.

“Kita cenderung ke riset, misalnya riset populasi, habitat dan riset pengembangan ekowisata dan pembangunan yang sifatnya semi permanen, menuju teritori Siamang,” kata Wanda.

Di sektor ekowisata, pengelolaan yang kini sedang berlangsung, di antaranya pengelolaan gajah, rusa, sarana jungle track dan air terjun serta camping ground yang memiliki daya tampung hingga 2.000 orang.

“Cuma ini kan karena corona, jadi kita batasi tamu-tamu. Pernah itu dari taman siswa, ada dua ribu lebih,” tukas Wanda.

Sementara itu Wanda menuturkan, untuk gajah, pengembangan akan terus dilakukan. Yang sudah dilakukan, misalnya dengan pemanfaatan kotoran hewan besar itu menjadi kertas, papan partikel dan kompos.“Jadi ya, udah macem-macem,” ujarnya.

 

Butuh Infomasi dan Pengawasan Lebih

Masyarakat yang melintas dan memberi makan beruk dan kera di tepian jalan, agaknya tidak boleh melulu dipersalahkan. Informasi dan penyebaran yang lebih luas terkait dampak buruk memberi makan primata di pinggir jalan sangat dibutuhkan, agar masyarakat mendapatkan pemahaman.

“Gak ada informasi larangan memberi makan bang, makanya kami gak tahu,” kata Simanjuntak.

Pengendara asal Kota Medan yang sedang menempuh perjalanan ke Tarutung, Tapanuli Utara. Saat diberitahu, Simanjuntak dan istrinya akhirnya berhenti memberi roti kepada seekor Beruk. Ia pun berjanji tidak akan kembali memberi makan kepada primata di pinggir jalan.

“Tapi terimakasih sudah diberitahu, besok-besok lewat kami pun gak kasih lagi,” ucapnya, lalu pergi.

Bagi masyarakat sekitar yang dominan telah membuka usaha warung makan atau toko kelontong, kehadiran Beruk dan Kera bukan hal baru. Misalnya bagi Eni pengelola rumah makan tak jauh dari Taman Primata. Ia mengsaya, Beruk bahkan pernah mengobrak-abrik warung makan sekaligus rumahnya. Itu terjadi saat ia dan keluarga pergi.

“Pernah, dulu sekali, rumah kami tinggal, ya masuk ke dalam monyetnya, dirusak semua,” ujarnya.

Namun itu kini tidak terjadi lagi. Eni telah menyesuaikan diri. Warung makan yang ia kelola, terutama di bagian dapur dan rumah sudah dipagar dengan kawat.

“Makanya sekarang ini kita buat kawat, jadi kita menjaga, semua juga begitu di sini. Dan kalau ada yang jaga sih gak mau masuk rumah, tapi kalau kita tutup, ya mau mereka datang,” ucapnya.

Meski kini sudah tak lagi merasa terganggu, Eni berharap agar primata-primata itu dapat kembali ke hutan dan mendapat makanan. Karena menurut dia, ada saja pengunjung yang tidak suka dengan kehadiran primata.

“Harapannya monyetnya jangan keliaran, di sana kan ada tempatnya, pengunjung kalau mau lihat ya ke sana, karena juga kan ada pengunjung yang takutt, atau kadang makanan pengunjung diambil,” ungkap Eni.

Tinggalkan Balasan