Kisah Namboru Si Boru Langgatan dan Sampuran Na Pitu

Peziarah di air keramat Si Boru Langgatan, Sampuran Napitu. (Arjuna Bakkara)

Penulis dan Fotografer: Arjuna Bakkara

Detik-detik terakhir Raja Dapoton beserta para keluarga melihat Si Boru Langgatan mulai ditandai dengan alam yang tidak bersahabat. Padahal sebelumnya cuaca cukup cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Apalagi ahli astronomi paniti ari sang raja telah meramalkan dan memilih hari baik

———————-

 

Menghilangnya Si Boru Langgatan, putri dari Raja Dapoton Situmorang Siringo masih menjadi misteri hingga hari ini. Dia tak pernah kembali, Raja Dapoton diteruskan keturunannya hanya bisa melepas kerinduan melalui batu Pamelean dan Air Terjun Mual Sampuran Na Pitu, Pulo Samosir.

Sampuran Na Pitu, berada di Dusun III Hutaginjang Sigarantung, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Terselip di antara tebing-tebing Pulau Samosir. Ahli geologi Gagarin Sembiring mengatakan, tebing tersebut bagian dari magma yang terangkat ketika Samosir masih sejajar Danau Toba pada proses super vulcano.

Air terjun ini, bagi masyarakat setempat khususnya keturunan Raja Dapoton Situmorangsiringo adalah bagian yang tak terpisahkan dengan silsilah mereka. Dirawat baik, dijadikan sumber air minum dan kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga sekitar menganggapnya keramat dan percaya bahwa air terjun ini milik Siboru Langgatan.

Sebelum lebih jauh membahasnya, baiknya pengunjung mengetahui rute menuju lokasi yang indah ini. Satu-satunya jalur darat lewat Tele, pilih melintas dari Simanindo-Ambarita-Tomok.

Foto: Bale-bale berbentuk rumah adat Batak tempat berdoa bagi peziarah sekaligus untuk melindungi mata air keramat Si Boru Langgatan di Sampuran Na Pitu.  (Arjunna Bakkara)

Bila dari Muara di Tapanuli Utara, pengunjung bisa naik KMP Muara tujuan Samosir dan sandar di Dermaga Sipinggan, Kecamatan Nainggolan. Kalau dari Kabupaten Toba, bisa menaiki fery reguler di Kecamatan Onanrunggu. Sebaliknya, dari Dermaga Ajibata pilih tujuan Tomok-Ambarita. Jika dari Kabupaten Simalungun, ada Pelabuhan Tigaras dan Dermaga Simanindo.

Setelah melalui jalan berkelok penuh panorama Toba, tiba di Sigarantung, pengunjung akan takjub dengan keindahan air terjun. Pitu berarti tujuh, makanya disebut Sampuran Na Pitu karena air memiliki tujuh tingkatan.Tiap tingkatan, mengeluarkan air seperti air hujan.

Tampak cantik kala air pecah di bebatuan. Kilau dan bayangan pelangi kerap terlihat saat terpantul sinar matahari. Peziarah yang sering meramaikan tempat ini, biasanya meminta berkah atau ingin menyembuhkan penyakit yang disebabkan dari non medis. Berdoa dan mandilah di curahan air yang berdebur, dipercaya bisa menentramkan hati dan jiwa.

Air terjun ini memiliki dua sisi yang mengalir secara bergantian, mengalir dari tujuh tingkat bukit di atasnya. Kepercayaan bahwa air terjun ini berjiwa, konon, separah apa pun musim kemarau. Air terjun ini tidak pernah membuat penduduk kekeringan.

Ramli Situmorang, salah satu keturunan Raja Dapoton Situmorang ditemui penulis. Dia adalah juru kunci, orang yang konsisten merawat sekaligus dituakan. Dia membawa penulis berkeliling.

Sebelah kiri air terjun, berdiri satu bale berbentuk rumah adat yang diberi corak ukiran gorga Batak. Air dari celah bebatuan mengalir terus memenuhi wadah yang terbentuk mengikuti tekstur batu.

Peziarah meletakkan sirih sebelum berdoa keada Si Boru Langgatan di atas mata air di Sampuran Na Pitu. (Arjuna Bakkara)

Tujuh mangkok cawan tak pernah kosong dari jeruk purut. Capah sejenis piring besar juga dipenuhi sirih dan telur ayam kampung. Semuanya ini, kata Ramli, sebagai media yang digunakan peziarah berdoa kepada Sang Maha Pencipta, Debata Mulajadi Nabolon dan Namboru mereka Si Boru Langgatan.

Secara silsilah, Ramli dengan Siboru Langgatan adalah bibi dengan keponakan. Pada suku Batak, saudara perempuan nenek moyangnya meski jauh generasinya tetap saja dipanggil Namboru.

Awal mula Sampuran Na Pitu dikeramatkan dan diziarahi hingga saat ini adalah pesan dari Si Boru Langgatan sendiri sebelum menghilang.

“Kenapa ini kami jaga dan sering diziarahi, karena itulah pesan Namboru kami. Sekaligus melepaskan rindu kepada Si Boru Langgatan yang sampai hari ini tidak pernah kembali,” kata pria yang akran disapa Oppung Lovely Situmorang ini mengawali cerita.

Ketika itu, terdapat satu keluarga yang menjadi pemuka wilayah di Hutaginjang bernama Tuan Ringo. Dia keturunan langsung kelompok marga Si Raja Lontung dari Oppu Tuan Situmorang dan terhimpun dalam Si Pitu Ama (tujuh bersaudara).

Tuan Ringo (Situmorang Siringo) memiliki enam saudara yaitu kakaknya, Raja Pande (Situmorang Pande), Lumban Nahor (Situmorang Lumban Nahor), Tuan Suhut (Situmorang Suhut Ni Huta). Sedangkan adiknya, Sitohang Uruk dari Mangambat (Situmorang Sitohang Dolok), Sitohang Tonga-tonga (Raja Itubungna), dan Sitohang Toruan (Ompu Bona Ni Onan).

Foto: Juru Kunci mengambil air dari mata air Sampuran Na Pitu Tempat Si Boru Langgatan yang dipercaya bersemayam di Sampuran Na Pitu. (Arjunna Bakkara)

Tuan Ringo juga memiliki empat anak yakni Raja Dapoton Situmorang Siringo, Raja Rea Situmorang Siringo, Tuan Onggar Situmorang Siringo dan Siagian Situmorang Siringo. Sedangkan Si Boru Langgatan adalah putri dari Raja Dapoton dan ibunya Boru Sitompul dari Pahae, Kabupaten Tapanuli Utara saat ini.

Saat dilahirkan, Si Boru Langgatan telah memiliki kesaktian. Dia lahir dengan balutan air dan proses persalinannya cukup sulit. Atas bantuan dukun anak Sibaso, persalinan menjadi lancar. Setelah membelah balutan air yang membungkus, Sibaso bertanya kepada bayi yang baru dilahirkan itu.

“Ai ise do ho, boasa songon i ho (Siapakah diri mu, kenapa engkau lahir begini),” tanyanya.

Ai maol ma attong ahu sorang dah. Si Boru Langgatan do ahu. Ai ahu ma Si Boru Langgatan tubu ni boru Raja Dapoton Tubuni Tuan Ringo sian Hutaginjang. Ahu nasakti, alai dang boi ahu marhamulian.(Pastilah aku sulit dilahirkan. Akulah Si Boru Langgatan, sakti tetapi tidak boleh menikah,” ucap bayi tersebut.

Ibunya, Oppung Boru Sitompul tidak lagi terkejut dengan kelahiran Si Boru Langgatan. Apa yang dia lihat dalam proses persalinan sudah lebih dulu dia lihat di dalam mimpinya.

Beranjak dewasa, Si Boru Langgatan dijodohkan kedua orangtuanya dengan anak namboru-nya marga Sidabutar dari Tomok agar menikah. Ahli nujum pun berkumpul untuk menentukan hari yang baik kapan Si Boru Langgatan diantarkan ke Desa Tomok. Sejak dijodohkan, batinnya memberontak. Dia tidak pernah ingin menikah karena kesaktiannya.

Tibalah waktunya, Sidabutar dari Tomok sudah menggelar acara menyambut kedatangan Si Boru Langgatan. Sebagian datang menjemput sang putri ke Hutaginjang. Si Boru Langgatan bersama orangtuanya menuruni tebing-tebing. Raja Dapoton disertai para Panglima langaung menuntun menuju Tomok. Acara adat ini disebut  Taruhon Jual.

Detik-detik terakhir Raja Dapoton beserta para keluarga melihat Si Boru Langgatan mulai ditandai dengan alam yang tidak bersahabat. Padahal sebelumnya cuaca cukup cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Apalagi ahli astronomi paniti ari sang raja telah meramalkan dan memilih hari baik.

Foto: Peziarah dan juru kunci memanjatkan doa-doa sebelum mengambil air keramat  Si Boru Langgatan di Sampuran Na Pitu. (Arjuna Bakkara)

Sepanjang perjalanan ke Tomok tak lepas dari iringan ogunggondang sabangunan. Perhelatan besar untuk putri dan anak raja sudah disiapkan dengan matang berdasarkan kesepakatan bersama.

Belum ada setengah perjalanan, saat melewati Sampuran Na Pitu, Si Boru Langgatan meminta kepada ayah dan para rombongan untuk istirahat sejenak. Seketika cerah berubah mendung, awan tebal dengan cepat menuruni lereng dan mengelilingi rombongan hingga menghilangkan jarak pandang. Kilat petir dan badai “haba-haba” mengamuk sejadi-jadinya hingga hujan turun deras.

Permohonan beristirahat sejenak ternyata menjadi komunikasinya yang terakhir. Seiring dengan berakhirnya gemuruh petir badai disertai hujan deras, Si Boru Langgatan pun menghilang seperti apa yang sebelumnya sudah dia katakan.

“Borhat pe hita sian Bagas ni Sibaganding tua on Among, alai unang pola lului hamu annon ahu manang na songon dia di Tonga Dalan. Tungnso sahat pe ahu tu jabu ni nabboru di Tomok, ahu ma annon i Ai Boru Langgatan Na Manjua Amana. (Baiklah ayah akan kuturuti dan kita bisa berangkat dari rumah. Akan tetapi, apa pun yang terjadi di perjalanan nanti, tidak usah ayah mencari saya. Kalau pun tidak sampai ke rumah bibi di Tomok, tapi sayalah si Boru Langgatan yang menolak kemauan Sang Ayah),” begitu kata-kata yang diucapkan si Boru Langgatan di Hutaginjang kepada ayahnya sebelum berangkat.

Perasaan Raja Dapoton terguncang ketika tak lagi melihat anaknya. Meski namanya dipanggil-panggil, Si Boru Langgatan raib.Tragedi menyedihkan ini memaksa rombongan untuk berpisah di tengah jalan.

Dicirikan, Si Boru Langgatan terakhir mengenakan baju kurung berwarna putih. Rambutnya panjang hingga mata kaki kalau tak disanggul. Wajahnya cantik, posturnya tinggi, sangat hormat terhadap orangtua dan hula-hulanya serta penyanyang.

Menurut Ramli, beberapa orang yang mengaku pernah bermimpi tentang Si Boru Langgatan mengatakan, cirinya sama seperti yang pernah dituturkan para orangtua dulu.

Meski menolak permintaan ayahnya, Si Boru Langgatan tetap mengobati hati sang ayah. Sebagai ganti tuhor mahar adat pernikan dari mempelai pria yang menjadi hak perempuan Batak dan diperoleh ayahnya, Si Boru Langgatan menunjuk Air Terjun Sampuran Na Pitu sebagai gantinya.

Dia berkata, “Hamu akka Among dohit Itokku Sian mual hu i ma jalo hamu tuhorhu. (Kalian ayah dan para saudaraku, sebagai ganti maharku dari air itulah kalian akan mendapatkan maharku. Aku tidak akan mau dijodohkan ke Anak Namboruku itu.”

Foto: Juru kunci perawat Sampuran Napitu menunjukkan batu yang dulunya konon diduduki Si Boru Langgatan. (Arjuna Bakkara)

Ramli menirukan ucapan Si Boru Langgatan sesuai penuturan yang dia dapat secara turun-temurun. Inilah yang dipercayai masyarakat lokal sebagai bukti hingga hari ini. Setiap peziarah yang datang, selain meletakkan media doa-doa seperti jeruk purut dan lainnya, akan meletakkan isi saku seiklas hatinya di Sampuran Na Pitu dengan istilah napuran tiar.

Para peziarah sudah mengerti hal ini, mereka bisa memberi secara langsung ke para penjaga yang ada di Sigarantung atau dengan mempersembahkan napuran tiar di mual sampuran Si Boru Langgatan. Sampai hari ini, peziarah terus berdatangan, mereka yang tak sempat bertemu dengan para penjaga meletakkan uang seiklasnya yang bisa menjadi berkat bagi marga Situmorang.

Kata Ramli, Si Boru Langgatan menjanjikan keturunan Marga Situmorang Siringo di Sigarantung akan hidup dari Sampuran Na Pitu. Pesan agar ayahnya dan generasi hari ini terbuka menerima orang-orang yang ingin berziarah atau berobat.

Sesuai yang diamanahkan Si Boru Langgatan, Sampuran Na Pitu juga menjadi mual tawar. Airnya sebagai penyembuh bagi yang sakit dan penyegar jiwa. Karenanya, sampai sekarang dikeramatkan dan dijaga betul warga Sigarantung. Selain dari sisi spiritual, orang yang berjiarah melihat keindahan air terjun sama dengan melihat paras cantik namboru mereka Siboru Langgatan. Dari sisi pariwisata, menjadi penghasilan masyarakat sehingga dikelola dengan model koperasi.


Foto: Pejiarah membasuh wajah dengan air keramat Sampuran Na Pitu. (Arjuna Bakkara)

Bagi Gagarin, keindahan Mual Sampuran Na Pitu adalah proses alami pasca super vulcano Gunung Toba. Dindingnya yang petak-petak terbentuk dari batuan dinding kaldera yang terangkat dari permukaan Danau Toba seiring berjalannya waktu.

“Ketika Samosir masih danau atau belum naik, jadi ada jatuhan batu dari dinding kaldera yang kemudian terangkat,” ujarnya.

Ada kekuatan yang mengangkat bebatuan tersebut, juga ada struktur-struktur bahwa pernah terjadi patahan atau sesar di sekitar Sigarantung. Sesuai penelitian, proses terbentuknya batuan ini selama 800 ribu tahun, itupun belum terangkat sampai seperti saat ini.

Diperkirakan, dinding kaldera di Sampuran Na Pitu merupakan satu kesatuan dengan lempeng sesar Lontung yang masih berhadapan dengan blok kaldera di Uluan.

Juru kunci memanjatkan doa-doa sebelum mengambil air keramat  Si Boru Langgatan di Sampuran Na Pitu. (Arjuna Bakkara)

Gagarin mengakui, setelah letusan yang membentuk fitur vulkanik. Seiring berjalannya waktu, manusia Batak memang lahir dengan peradaban tinggi dari beragam sisi pengetahuan yang diwarisi para leluhur. Mulai dari sistem pengetahuan hidup, kesenian mencakup religi, folklore atau cerita turun menurun yang dituturkan. Contohnya, para tetua Batak menjadikan air yang keluar dari Sampuran Na Pitu sebagai obat berdasarkan tingginya komposisi mineral pada bebatuan.

“Semua berkaitan dengan proses geologis, yang pasti dari pengalaman mereka yang beraktivitas ritual atau apa pun namanya, membawa manfaat positif. Baik kesehatan maupun kesegaran jiwanya. Secara geologis maupun spiritual, sama-sama membawa manfaat yang positif bagi kita,” kata Gagarin.

 

Tinggalkan Balasan