Marari Sabtu, Ibadah Ugamo Malim Yang Unik

Penulis : Dinda Marley

TOBA- Pagi masih bergelayut di Porsea, salah satu kecamatan yang sibuk dengan transaksi jual beli pedagang dan pembeli secara tradisional di Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ada juga pedagang modern dengan barisan toko-tokonya, namun biasanya, di halaman toko menjadi lapak duduk pedagang itakgurgur, kacang Sihobuk, susu horbo.

Tepat di depan terminal bus yang menyatu dengan pasar tradisional, seorang inang sudah menggelar dagangan. Ada lontong dan lappet (penganan terbuat dari tepung beras, kelapa dan gula merah khas suku Batak).

Tujuh jam menempuh perjalanan dari Kota Medan membuat saya lapar, satu porsi lontong sayur dengan perkedel yang nikmat mengisi lambung, cukup mengenyangkan. Penutupnya, segelas kopi tubruk tanpa gula.

Menumpang kamar mandi sebuah hotel bertingkat tiga, kami rombongan jurnalis membersihkan diri bergantian. Pukul 10.00 WIB, kami menuju Desa Sibadihon di Kecamatan Bonatua Lunasi, ke Bale Parsantian Ulupunguan Oppu Rugun Naipospos. Kami akan mengikuti ibadah Marari Sabtu-nya Parmalim.

Parmalim adalah sebutan bagi para penganut Ugamo Malim, agama leluhurnya Suku Batak. Sebutan Parmalim ditabalkan setelah Raja Sisingamangara ke XII mangkat. Sebelum pergi, dia menitahkan ajaran ini untuk diteruskan kepada Raja Mulia. Ihutan Ugamo Malim, itulah gelarnya.

Empat tahun lalu, saat saya terakhir datang ke sini, sudah dua generasi Naipospos yang menggantikan Raja Mulia. Agama ini berpusat di Huta Tinggi tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba. Ditandai dengan berdirinya Bale Pasogit yang tidak ada di daerah lain.

Berdasarkan data terakhir di 2015, umat Parmalim berjumlah 1.334 Kepala Keluarga atau 5.555 jiwa yang tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Ada enam KK di areal kompleks bale pasogit, sementara di Kabupaten Toba ada 11 cabang atau 11 ulupunguan.

Untuk Provinsi Sumatera Utara, ruas (umat) Parmalim dapat ditemui di Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, Simalungun, Samosir, Toba, dan Tapanuli Utara.

“Sudah menikah apa belum?” tanya seorang perempuan bersanggul cepol, sanggul khas Batak. Saya menjawab sudah.

“Kalau sudah menikah, harus pakai ulos. Kalau belum, pakai sarung biasa saja. Nanti kalau masuk ke rumah ibadah harus melepas alas kaki, ya..” katanya sambil menyerahkan ulos dan selendang kecil yang juga terbuat dari ulos kepada saya.

Para perempuan yang datang beribadah, semuanya mengenakan kebaya, berkain dan selendang ulos. Kaum pria mengenakan jas, berkain ulos dan mengenakan tutup kepala seperti sorban.

Kalau belum menikah, kaum pria tidak mengenakan tutup kepala dan jas, sementara yang perempuan hanya mengenakan sarung biasa tanpa selendang.

Ada yang unik di bale parsantian ini. Di gang pintu masuknya, berdiri sebuah masjid berwarna merah muda, terawat dan cantik.Identitas keberagaman yang tak sengaja disajikan alam di sekitaran Danau Toba untuk membuka pikiran manusia tentang indahnya perbedaan.

Seorang pria yang kami temui usai menunaikan ibadah mengaku tidak pernah ada gesekan antara umat Muslim dan Parmalim. Mereka sudah hidup berdampingan sangat lama, saling menghargai dan menghormati kuncinya.

Kembali ke bale parsantian, tepat pukul 10.00 WIB, ulupunguan Jintar Naipospos membawa dupa yang sudah dibakar ke dalam bale parsantian. Diikuti seluruh ruas.

Mereka masuk satu persatu dan langsung duduk bersila, otomatis membentuk shaf perempuan di sebelah kanan. Jintar berdiri di barisan paling depan, di depan meja yang di atasnya kemenyan.

Di dinding tepat sepemandangan matanya, tergantung foto para ihutan. Pada sudut ruangan bersegi empat berukuran 7 x 7 meter dan berjendela lebar-lebar itu, ada lemari kecil berisi piring dan gelas. Di bagian paling atas ada poci besar dan mangkuk dari keramik putih berisi aek pangurason.

Lapat-lapat suara Jintar mulai memanjatkan doa-doa dalam bahasa Batak. Para ruas diam dalam hening, khusuk mendengar bait-bait doa yang dirapal. Kepalanya tertunduk, mata tertutup dan tangan bersidekap di dada.

Hampir 30 menit dia berdoa. Pada akhir ibadah ada kalimat-kalimat doa yang usai dibaca diikuti oleh para ruas.

Selesai sesi doa, sang ulupunguan lalu mengambil aek pangurason dan memercik-mercikkannya ke para ruas. Setelah itu, dua orang muda-mudi mengambil poci dan gelas kecil yang sudah tersedia, menuangkan air ke gelas lalu membagi-bagikannya. Orang pertama yang meminumnya adalah ulupunguan.

“Ini air perasan jeruk purut, sudah diberkati, minumlah. Semoga kita diberi kebaikan dan ketenangan menjalani kehidupan,” kata ibu yang berada di samping saya.

Dalam hitungan detik, air itu mengalir di tenggorokan, rasanya seperti meminum air perasan lemon. Tapi wangi jeruk purut lebih khas.

Setelah itu, ulupunguan menyampaikan poda atau nasihat-nasihat. Semuanya dalam bahasa Batak.

Usai beribadah, saya baru bisa bertanya, apa isi doanya tadi. “Kami tadi berdoa untuk saudara-saudara kami di Aceh yang sedang menerima musibah bencana gempa. Penderitaan masyarakat Aceh juga penderitaan kami masyarakat Parmalim. Kita sama-sama sebagai anak bangsa. Kami juga mendoakan agar Indonesia lepas dari bencana. Semoga saudara-saudara kami di Aceh, tabah menghadapi cobaan dari Tuhan,” kata Jintar.

Dia meminta pemerintah fokus memberikan bantuan pangan dan percepatan rehabilitasi terdampak bencana. Kedatangan Presiden Jokowi ke lokasi bencana sangat diapresiasinya. Dia berharap musibah ini menjadi bahan introspeksi diri semua warga negara dan bersama-sama menjaga ke-Bhinneka-an Indonesia.

“Kami Parmalim meyakini bencana datang karena kesalahan manusia. Kita selalu diingatkan untuk menjaga bumi dan isinya. Saat ini, bumi rusak akibat ulah manusia. Ini yang harus kita renungkan,” kata dia.

Berbagai polemik yang pemantik kisruh bangsa diharapkannya cepat mereda. Dia mengajak seluruh elemen masyarakat mau bersama-sama menyudahi segala intrik yang mengancam perpecahan. Kasihan generasi muda menyaksikan bagaimana karut-marutnya Indonesia sekarang.

“Kami Parmalim selalu berdoa semoga kita tetap satu bangsa, tetap bersama-sama, tetap saling menjaga. Jangan mau dipecah belah. Kami di sini, jauh dari ibu kota, terus menjaga toleransi dan keberagaman antar umat beragama dan etnis. Kenapa yang di sana tidak? Ayolah saling merangkul dan ariflah kita bersikap, agama dan keyakinan kita semuanya mengajarkan kebaikan,” ucap Jintar.

Iwan Darmawan, peneliti ke-Bhinneka-an sekaligus dosen di Universitas Pakuan Bogor yang ikut bersama kami menambahkan, Bhinneka Tunggal Ika yang dilahirkan Mpu Tantular di zaman Kerajaan Majapahit bisa terjaga utuh jika seluruh lapisan masyarakat paham dan terpanggil untuk merawat empat pilar kebangsaan.

“Empat pilar kebangsaan itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Pasti ancaman perpecahan tidak perlu ditakuti karena tidak akan terjadi,” kata mahasiswa program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia ini.

Maka, kegiatan menemui komunitas-komunitas kecil yang kerap terpinggirkan dan terkesan jarang dipikir dan perhatikan pemerintah seperti Parmalim perlu dilakukan anak bangsa, karena kelompok ini terkadang justru menjadi tolok ukur dalam menjaga toleransi dan keberagaman.

“Pemerintah sering tidak sadar bahwa budaya kita tercermin di komunitas kecil yang termarjinalkan seperti Parmalim. Pemerintah jangan hanya sibuk meredakan fenomena yang memicu ketakutan akan perpecahan bangsa, tapi komunitas kecil yang terus menjaga nilai-nilai luhur kebangsaan dilupakan. Mestinya mereka dimunculkan untuk menjadi contoh,” ucap Iwan.

Ugamo Malim berisi ajaran-ajaran kebaikan dan sangat mencintai perdamaian. Ini terlihat dari doa dan perilaku ruas-nya. Mereka lebih memilih diam ketika dipinggirkan, dihilangkan haknya untuk memilih agama dan kepercayaan yang mereka yakini oleh negara. Mereka tidak melawan saat hak-hak sebagai warga negara diabaikan, tak dipenuhi.

Sebelum kembali ke Medan, kami dijamu seorang ruas bermarga Sitorus. Tikar digelar di ruang tamunya yang luas, semua anggota keluarga ikut berbaur. Hidangan yang disajikan, ayam napinadar. Ini masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada acara-acara adat.

Dia menuangkan nasi ke dalam piring dengan porsi jumbo, wow… Nasi dari padi yang ditanam sendiri membuat aromanya begitu membangkitkan selera. Apalagi sambal andaliman dengan perasan jeruk purut, alahmak enaknya.

Hidangan lain, ada gulai ayam kampung, sambal ikan mujair dan rebusan sawi. Kami makan begitu lahap, sampai beberapa teman berkali-kali menambah. Cuci mulutnya, ada pepaya yang dipetik dari halaman depan rumah. Nikmatnya tinggal di kampung.

Tinggalkan Balasan