Mejan, Patung Sakral Bukti Kejayaan Suku Pakpak

Penulis: Multazam
Fotografer: Narendra

Mejan Berutu di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat. Mejan menjadi simbol peradaban Pakpak kuno. (Narendra)

Pakpak Bharat punya cerita menarik untuk dikulik
Salah satunya Mejan sebagai daya tarik
Bentuk umumnya patung orang menunggang gajah
Menjadi bukti kebesaran etnis Pakpak tempo dulu

Eksotis. Begitu kesan pertama saat memijakkan kaki di Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatra Utara. Bentang alam dikelilingi perbukitan hutan hujan tropis nan hijau. Berada di ketinggian 700-1500 Mdpl.

Sinar matahari tak lantas membuat cuaca gerah. Semilir angin pegunungan membuat suhu udara tetap sejuk. Jika hari mendung, udara dingin seperti menembus tulang. Konsekuensinya, tubuh jadi betah berlama-lama di kasur.

Untungnya, hari ini langit Kota Salak, ibukota kabupaten Pakpak Bharat cerah.Sedari pagi kamisudah berkemas, karena sudah

ada janji menemuiTamen Berutu, tetua adat yang paham tentang kisah dan sejarahmejan. Patung sakral peninggalan zaman megalitik milik sukuPakpak. Kini dia merupakan penjaga kunci mejandi Ulu Merah, Kecamatan Sitelu tali Urang Jehe.

Usai menyantap sarapan, kami bergegas ke Ulu Merah mengunjungi lokasi mejan. Letaknya di perladangan warga. Terpisah dari pemukiman penduduk. Namun begitu, masyarakat telah mendirikan pendopo. Bangunannya megah, sehingga tidak sulit mengidentifikasi bahwa lokasi itulah tempat mejan berada.

Mejan tersusun rapi dalam sebuah bangunan semi permanen berukuran 2×3 Meter. Bentuk atapnya khas, sebagaimana umumnya rumah adat Pakpak. Sekeliling ruangan dijerjak kawat agar Mejan bisa dilihat dari luar, sedangkan pintunya digembok besi. Di atas pintu, terpasang tanduk kerbau.

Kondisi patung bersejarah itu tidak lagi sempurna. Sekilas terlihat dua buah patung menyerupai sosok orang menunggangi gajah. Sayang, sudah tanpa kepala karena rusak faktor alam. Bahkan di patung satunya, ukiran binatang yang ditunggangi tidak lagi utuh. Bentuk Mejan memang beraneka ragam. Paling umum ditemui yakni manusia menunggangi gajah

Kebanyakan Mejan sudah dalam keadaan tidak bekepala. Baik karena pencurian ataupun sengaja dihancurkan. (Narendra)

Disekeliling Mejan, tersusun batu-batu beraneka bentuk. Ada yang menyerupai guci, kendi, cawandan bebatuan yang bentuknya tak bulat sempurna. Bungkus rokok, bunga hingga mangkok putih yang tidak lain merupakan sesaji tersebar diatasnya. Menambah kesan sakral.

Usai mengabadikan Mejan di Ulu Merah, perjalanan kami kembali Kota Salak. Menuju warung kopi, tempat janji bertemu dengan Tamen Berutu. Suasana akrab langsung terjalin ketika kami bertemu.

Meski usia sudah lebih dari setengah abad, Tamen Berutu sangat energik. Nada bicaranya penuh semangat.

“Berapa bulan yang lalu, orang dari Jerman datang kemari mau meneliti soal Mejan. Samaku juga dia wawancara,” kata Tamen Berutu membuka pembicaraan sambil menunjukan kartu nama peneliti asal Jerman tersebut.

Ia mengaku menjadi penjaga Mejan di Ulu Merah sejak 1993. Kala itu ia ditunjuk pada saat pesta adat marga Berutu. Salah satu kesepakatan dalam pesta adat itu yakni mengamanahkan dirinya agar merawat dan menjagaMejan marga Berutu.

“Sekali dalam lima tahun ada pesta adat marga Berutu. Jadi ditetapkanlah aku menjaga Mejan itu. kalo dihitung-hitung sudah lebih 25 tahun lah” Ungkapnya

Bagi Tamen, Mejan merupakan pujaan sekaligus simbol kedigdayaan Suku Pakpak. Bukti kehebatan nenek moyang yang telah mewariskan marga-marga bagi masyarakat Pakpak sejak masa lampau.

Tak sembarang orang mampu membuat mejan. Hanya marga-marga yang punya kekuasaan atau kerajaanlah yang dapat mengukirnya. Apabila di suatu wilayah terdapat Mejan berarti raja di wilayah tersebut dulunya sangat kaya dan masyhur.

“Jadi tidak semua orang atau setiap kampung punya Mejan. Proses pembuatanya tidak mudah dan memakan biaya besar. Harus memang marga yang punya kerajaan barulahbisa membuatnya,”tegas Tamen.

Mejan, tambah Tamen, sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Masyarakat Pakpak percayaMejandiisi oleh kekuatan-kekuatan spiritual. Apabila ada bencana atau ancaman bahaya di kampung tersebut, maka patung-patung itu mengeluarkan suara sebagai pertanda bahaya.

“Kalau Mejan kita di Ulu Merah, ada dikiri dan kanan yang bentuknya seperti cicak. Kalau datang musuh, bunyi lah seperti suara cicak memberi tanda. Kalau musuh dari kiri, yang cicak kiri bunyi. Kalau dari kanan,cicak yang kanan berbunyi,” ucapnya.

Mejan Berutu di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat. Mejan menjadi simbol peradaban Pakpak kuno. (Narendra)

Sekalipun Mejan sangat erat kaitannya dengan unsur mistik dan spiritual, namun beliau mengakui bahwa kesakralan itu semakin tergerus di era kekinian. Dibanyak tempat, benda pusaka justru raib. Mayoritas Mejan, bentuknya tidak lagi utuh. Rata-rata tanpa kepala karena dicuri tangan-tangan nakal yang tidak bertanggung jawab.

Fenomena hilangnya benda pusaka, seperti Mejan bukan hal baru di kalangan masyarakat Pakpak Bharat. Pencurinya teridentifikasi bukan hanya warga lokal, bahkan ada yang khusus datang dari luar daerah. Alasan itu pula yang membuat marga Berutu di Ulu Merah sepakat membangun pendopo dan ruang khusus untuk menjaga Mejan peninggalan nenek moyang.

“Karena pencurian barang-barang antik makin marak, kami buat lah bangunan itu tahun 2006. Sekaligus (pendopo) agar ada tempat kalau buat acara pesta adat,” ujarnya.

Defri E Simatupang dari Balai Arkelogi Medan secara khusus menulis artikel tentang fenomena Mejan Tanpa Kepala di Kabupaten Pakpak Bharat (2010). Menurutnya, secara berangsur-angsur kepercayaan terhadap keampuhan Mejan semakin menghilang. Seiring masuknya agama-agama besar (Kristen dan Islam) ke masyarakat Pakpak. Fungsi Mejan perlahan mengalami transformasi menjadi benda bersejarah yang telah kehilangan ”kesaktian” namun berharga secara ekonomis.

Sebagian orang beranggapan bahwa mencuri Mejan merupakan suatu tindakan yang tidak berisiko dari aspek religi. Ketakutan akan mitos magis dan spiritual dalam Mejan berangsur hilang. Hal ini tentu saja tidak berdampak baik bagi usaha pelestarian benda-benda bersejarah tersebut.

Kaitan Mejan dan Lebbuh

Guna melengkapi data, kami mencoba menggali informasi soal Mejan dari Lister Berutu. Putra asli daerah Pakpak yang merupakan Antropolog Universitas Sumatera Utara. Selain mengajar, beliau sekarang aktif mengelola akun youtube. Kontennya fokus membahas seputar budaya Pakpak Bharat.

Mejan Berutu di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat. Mejan menjadi simbol peradaban Pakpak kuno. (Narendra)

Menurut Lister,Mejan erat kaitannya dengan Lebbuh. Fungsinya sebagai simbol, bahwa terdapat penguasa di daerah tersebut. Lebbuh bisa diartikan sebagai sebuah wilayah tempat tinggal sejumlah orang yang memiliki hubungan kekerabatan.

Jika dirunut, sebuah marga awalnya tinggal dalam satu Lebbuh. Kemudian mereka beranak-pinak. Keturunan-keturunannya secara bertahap berpindah mencari daerah lain. Mendirikan Lebbuh baru

“Jadi dari satu Lebbuh itu pecah menjadi beberapa Lebbuh. Masing-masing Lebbuh kemudian dibuatkanMejan sebagai simbol. Satu marga bisa memiliki banyak Mejan. Semakin banyak Lebbuh-nya, maka semakin banyak pula Mejan nya,” Jelas Lister.

Secara umum, Mejan dikenal sebagai milik marga tertentu. Namun secara eksklusif Mejan menjadi milik marga yang berada dalam Lebbuh tertentu. Dengan kata lain, kepemilikannya bersifat komunal, bukan individual.

“Misal Mejan Berutu di Ulu Merah, memang itu milik marga Berutu. Tapi spesifik untuk marga Berutu yang ber-Lebbuh di Ulu Merah. Ada juga kita temui Mejan Berutu di wilayah lain, seperti di Cikaok,”katanya mencontohkan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa keberadaan Mejan secara langsung dipercaya sebagai sistem pertahanan dari sebuah Lebbuh. Setiap Mejan biasanyamemiliki semacam tentara pengawal. Orang Pakpak mengenalnya sebagai pengulu balang. Umumnya diukir berbentuk patung manusia. Jika datang bencana atau ancaman dari orang jahat, pengulu balang akan memberikan tanda berupa suara atau bunyi-bunyian.

“Waktu kecil masih saya alami itu. Meskipun tidak mendengar langsung, tapi saya ingat orang tua dulu bilang ‘sudah bunyi pengulu balang’,” ujar Dosen Antropologi FISIP USU ini.

Disinggung soal pelestarian Mejan, Lister mengakui kalau tantangannya cukup berat. Sejak masuknya agama, khususnya Islam dan Kristen, kepercayaan terhadap benda sakral ini tergerus. Dianggap bentuk kemusyrikan sehingga harus ditinggalkan. Selain itu, penyebaran penduduk dengan konsep Lebbuh tidak lagi dilakukan zaman sekarang.

Hal paling memungkinkan tinggal menjaga Mejan yangtersisa. Mengamankannya dari pencurian dan ulah tangan jahil. Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat sebenarnya sudah menerbitkan Peraturan Daerah No 3 Tahun 2016 tentang Pelestarian Dan Pengembangan Budaya Pakpak Bharat. Sayang, hasilnya belum maksimal.

Menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pakpak Bharat bahwa mejan tersebut ada di daerah sebagai berikut : Mejan Berutu Kuta Ujung dan Mejan Kesogihen di Pardomuan, Mejan Berutu Ulu Merah dan Mejan Berutu Tandak di Ulu Merah, Mejan Berutu Kuta Kersik dan Mejan Marga Sinamo di Silimakuta, Mejan Bancin Penanggalen Jehe di Boang, Mejan Boangmanalu di Boangmanalu dan Mejan Manik Arituntun dan Mejan Manik Aornakan Tao di Aornakan. Kemudian Mejan Manik Lagan dan Mejan Manik Gaman serta Mejan Gajah di Simerpara, Mejan Manik Kecupak di Kecupak I, Mejan Sanggar dan Mejan Pandua di Pagindar, Mejan Marga Sinamo Santar Julu di Perongil, Mejan Padang di Jambu, Mejan Padang Kuta Babo di Kuta Babo, Mejan Solin Lae Meang di Mahala, Mejan Solin Tamba di Majanggut II, Mejan Solin Kuta Delleng dan Mejan Tinendung di Sukarame.

Secara fungsi, Mejan barangkali tidak lagi relevan ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Jika dahulu dianggap simbol kemasyhuran dan benteng pertahanan, Mejan sekarang tak lebih dari benda kenang-kenangan peninggalan nenek moyang.

Meski begitu, nilai positif Mejan sebagai peninggalan sejarah sangat layak dilestarikan. Sebagai bukti di zaman dahulu Suku Pakpak pernah memiliki masa kejayaan dan hidup dalam tatanan sosial yang sangat rapi dan kuat. Bahkan, karena dianggap masih relevan di masa sekarang, beberapa nilai adat dan nilai sosial juga masih dipertahankan.

Tinggalkan Balasan