Melipir ke Sondel, Menyicip Teh Gambir Racikan Benar Bancin

Penulis: Narendra
Fotografer: Arifin Al Alamudi

Dairi menjadi penghasil gambir terbaik di Indonesia. (Arifin Al Alamudi)

Dataran tinggi Sumatra Utara kaya akan biofarmaka
Selain Karo, Pakpak Bharat juga punya unggulan
Namanya Gambir, dedaunan sarat khasiat
Biasa digunakan untuk menyirih,
Namun kini sudah diracik menjadi teh

Jalan berkelok ibarat trek reli mengantarkan kami ke Pakpak Bharat, kabupaten yang berbatasan dengan Dairi dan Humbang Hasundutan di Sumatra Utara. Hawa dingin menusuk kala kaca mobil diturunkan. Udaranya begitu segar.

Kabupaten hasil pemekaran Dairi tahun 2003 lalu ini terletak di jajaran Bukit Barisan. Kawasan hutannya masih alami. Meskipun sudah banyak yang menjadi perkebunan warga.

Cuaca yang awalnya terik, berubah menjadi mendung setibanya di Pakpak Bharat. Embun pun mulai turun di lereng bukit. Kami terpana dengan lanskap Pakpak Bharat dari Bukit Sindekka.

Bertemulah kami dengan Julianto Manik. Sejawat yang menemani penjelajahan kami di Pakpak Bharat. Kami mulai bercerita dengan Julianto tentang rasa penasaran terhadap Gambir, tanaman untuk menyirih. Bahkan tanaman bernama latin Uncaria Gambierini sudah diekspor ke India. Pakpak Bharat termasuk kabupaten penyokong gambir di Indonesia.

Lantas Julianto membawa kami kepada petani sekaligus produsen produk gambir di Kecamatan Salak, Ibu Kota Pakpak Bharat yang juga terkenal sebagai penghasil kemenyan.

Kembali kami melintasi jalan berkelok di alam Pakpak. Sepanjang jalan kami melihat banyak ladang gambir. “Di sini cukup banyak juga gambirnya. Selain di kecamatan lain di Pakpak,” ujar Julianto di tengah perjalanan.

Tibalah kami di Dusun Sondel, Desa Kuta Tinggi. Benar Bancin langsung menyambut dengan ramah. Pria beruban ini adalah pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) Maju Bersama di Dusun Sondel, Desa Kutatinggi.

“Mari masuk,”sapa Benar pada kami.

Benar Bancin menunjukkan produk teh gambir racikannya. (Arifin Al Alamudi)

Baru saja duduk Benar menyuguhi teh. “Ini lah teh gambir itu. Cicipi dulu. Biar enak ngobrol kita,” katanya dengan logat khas Pakpak.

Obrolan makin akrab. Apalagi ternyata Julianto dan Benar ternyata masih punya ikatan saudara dari marga.

Di rumah semi permanen itu, Benar Bancin merintis usahanya. Dia bercerita, awalnya hanya berprofesi sebagai pengepul gambir bubuk untuk keperluan menyirih sejak 1990-an. Dia menjualnya ke Medan dan beberapa daerah lainnya. Gambir bubuk adalah endapan dari getah gambir yang dicetak khusus.

“Karena gambir ini kan banyak digunakan orang Karo untuk menyirih. Apalagi saat pesta. Pasti itu gambir udah jadi bagian dari menyirih selain tembakau. Karo termasuk kabupaten yang paling banyak memesan gambir dari sini,” ujarnya.

Hingga akhirnya pada 2013 dia mengikuti pelatihan pengolahan gambir dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dari Bogor. Setahun setelah pelatihan, mulailah laki-laki 63 tahun itu meracik teh gambir.

“Jadi sekitar setahun sudah bikin sendiri dan coba kami terus kembangkan agar bisa lebih gelap warnanya,” katanya

Bancin pun menunjukkan ruangan produksinya. Beberapa perempuan muda tampak cekatan mengemas teh ke dalam kantongan celup. Di ruangan yang sama, beberapa orang tampak sibuk mengemas teh ke dalam kotak berlabel Teh Daun Gambir Sondel.

Gambir dari Pakpak dianggap yang terbaik. Mungkin, kata Benar, kandungan gambir dari Pakpak masih sangat tinggi. Yakni mengandung lebih dari 90 persen katekin, senyawa polifenol yang biasa ada pada teh. Sedangkan sisanya adalah tanin.

“Katekin ini yang jadi obat, khasiatnya banyak. Makanya dibilang orang, dari sini yang terbaik,” ungkapnya.

Seorang pekerja memasukkan teh ke dalam kantongan sebelum dikemas ke dalam kotak. (Arifin Al Alamudi)

Teh Daun Gambir Sondel milik Benar Bancin juga sudah dijual luas. Hampir di seluruh grosir yang ada di Pakpak Bharat terpajang produk teh gambir. Di situs penjualan daring, reseller-nya juga sangat banyak. Sering juga Benar Bancin mendapat orderan dari instansi pemerintahan.

Benar pun memberikan tips supaya bisa lebih menikmati teh gambir. Kata dia, lebih baik tidak memakai gula. Meskipun akan kelat, tapi manfaatnya akan lebih maksimal.

“Supaya lebih merah warnanya, seduh lebih lama. Sekitar lima menit. Ini zat taninnya sudah dibuang. Itu zat yang bikin pusing,” ujarnya.

Rencana ekspor juga sudah dicanangkannya. Masih melengkapi dokumen-dokumen pendukungnya. “Orang dari jepang sudah masuk ke sini. Satu teko dihabiskannya teh itu. Karena mereka suka yangherbal,” ungkapnya.

Menanam gambir, kata Benar Bancin tidak sulit. Dari mulai bibit sudah bisa dipanen 12 bulan kemudian. Selanjutnya, harus rutin dipetik supaya tanamannya tidak rusak.

“Kami tidak pernah pakai pupuk. Untuk pupuknya hanya pisau, artinya harus rajin dipetik daunnya,” ungkapnya.

Suburnya tanah di Pakpak juga mendukung daya serap kandungan zat di dalam gambir. Yang paling banyak ditanam di Pakpak adalah gambir jenis Merakbak. Karena daunnya yang lebih lebar. Selain itu ada jenis Gambir Cina dan Gambir Siharang. Gambir Cina daunnya lebih kecil, sedangkan jenis Siharang, terdapat bintik hitam.

“Kalau kita di sini yang paling banyak Gambir Merakbak. Sebetulnya yang lain bisa jadi teh. Tapi karena paling banyak Merakbak, makanya kita fokuskan Gambir Pakpak,” terangnya.

Untuk urusan hama, gambir adalah tanaman yang cukup aman. Hama tidak akan merusak lantaran rasa daunnya yang begitu pahit.

 

Gambir Tumbuh Subur di Pakpak Bharat

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, Pakpak Bharat menjadi produsen terbesar gambir di Sumatra Utara dari dua kabupaten lainnya, Dairi dan Tapanuli Tengah. Data BPS Sumut 2019 menunjukkan, Pakpak Bharat memiliki luas lahan gambir sebesar 1.577 Ha, Dairi 457, 1 Ha dan Tapanuli Tengah seluas 17,4 Ha. Dari luasan ini, Pakpak Bharat menghasilkan hampir 2.000 ton pada 2019. Kemudian Dairi 253, 4 ton dan Tapteng 6,28 ton.

Data BPS Pakpak Bharat 2019 juga menunjukkan jika Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe menjadi penghasil gambir terbesar dengan jumlah 1.834 ton dari lahan seluas 1.082 Ha. Diikuti oleh Pergetteng-getteng Sengkut 219 Ha dengan produksi 12 ton; Kecamatan Salak 144 Ha dengan produksi 217,8 ton; Kecamatan Kerajaan 125 Ha dengan produksi 78 ton; Kecamatan Tinada 91 Ha dengan hasil 78 ton. Kemudian Kecamatan Pagindar 25 Ha dengan hasil 0,25 ton; Siempat Rube 13 Ha dengan hasil 2 ton dan Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu 8 Ha dengan hasil 3 ton.

Seorang pekerja memanen gambir di perkebunan milik Benar Bancin. (Arifin Al Alamudi)

 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pakpak Bharat Sunardi menjelaskan jika kandungan katekin pada gambir di sana yang menjadi pembeda di daerah lainnya. Bahkan hasil penelitian menunjukkan gambir di Pakpak Bharat mencapai 80 persen.

 

“Kandungan katekinnya memang lebih tinggi. Kemudian di Pakpak Bharat memang sudah turun temurun dibudidayakan. Dari topografi memang sangat cocok sekali daerah Pakpak Bharat ini. Sehingga kandungan katekinnya menjadi tinggi,” ujarnya.

Keunggulan lainnya terdapat pada cara tanamnya. Gambir di Pakpak Bharat sama sekali tidak menggunakan pupuk apapun. Para petani hanya menambah tanaman pelindung lainnya.

“Jadi harus tumpang sari sistemnya. Misalnya, ada tanaman lain seperti petai, jengkol, durian, karet sebagai tanaman pelindungnya,” ungkapnya.

Teh Gambir Jajaki Pasar Ekspor

Pemerintah melalui Perusahaan Daerah Pakpak Agro Lestari (PD PAL) yang berperan mendistribusikan teh gambir dan produk turunan lainnya ke sejumlah daerah. Saat ini, distribusinya mencapai rata-rata 5 ribu boks per bulan.

“Kita mulai dari Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Medan sampai ke Jakarta dan terus juga ada yang via online. Kalau yang online itu segala penjuru,” ujar Direktur Utama PD PAL Tigan Solin.

Benar Bancin melihat daun gambir yang tengah dijemur sebelum diolah menjadi teh. (Arifin Al Alamudi)

Saat ini Teh Gambir Sondel sedang menjajaki pasar ekspor. Beberapa waktu, Teh Gambir Sondel racikan Benar Bancin juga dikirim ke Malaysia.

“Sekarang kita sudah mapping pasar teh di beberapa negara. Kita terus mempromosikannya,” ungkapnya.

PD PAL terus mendorong para produsen untuk berinovasi. Supaya kualitas dan kuantitas produksinya bisa digenjot lebih banyak lagi.

“Langkah inovasi ini mulai kita garap. Supaya jadi satu komoditas yang punya prospek tinggi,” tukasnya.

Gambir Punya Banyak Manfaat

Karena kandungan katekin yang tinggi, gambir kerap dijadikan tanaman obat. Dilansir dari situs resmi Kementerian Pertanian Badan Litbang Pertanian, gambir mengandung senyawa polifenol yang cukup tinggi. Senyawa ini diklaim punya sifat antioksidan yang bermanfaat dalam mengobati penyakit ataupun menangkap radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh.

Benar Bancin juga memroduksi gambir bubuk yang biasa digunakan untuk menyirih. (Arifin Al Alamudi)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet yang kaya antioksidan akan menurunkan risiko terkena penyakit jantung, kanker, diabetes, proses degeneratif penuaan dan lainnya.

“Gambir adalah salah satu yang paling efektif. Ini yang perlu kita sosialisasikan. Karena tak hanya sekadar minum teh. Ada dampak positif bagi tubuh,” ungkap Tigan.

Disamping katekin, tanin dalam gambir juga bisa dimanfaatkan untuk perekat kayu, penyamak kulit, pengikat warna untuk cat termasuk batik.

“Dari beberapa uji coba, kita menemukan katekin di atas 89 persen. Itu hanya pakai cara normal. Tanpa bahan kimia. Kita diuntungkan dengan kondisi alam Pakpak Bharat yang sangat mendukung,” ujarnya.

Selain gambir, Pakpak Bharat sebenarnya masih punya banyak komoditas lainnya. Salah satunya kemenyan. Komoditas ini juga sarat dengan kebudayaan Pakpak Bharat.

Potensi wisata Pakpak Bharat juga menarik. Banyak destinasi yang belum digali dan punya potensi tinggi untuk mendatangkan kunjungan wisata.

Tinggalkan Balasan