Menghayati Meat, Merawat Toba

Penulis: Bagus Akhiro
Fotografer: Parada

Sejumlah wisatawan menikmati panorama pagi di Desa Meat. (Narendra)

 

Tinggal sehari di Meat, kita diajarkan narasi menjaga Danau Toba

Penduduknya melestarikan budaya dan alamnya sebagai kepuasan jiwa.

 

Matahari baru saja terbit. Taman bumi (Geopark) Kaldera Toba yang mengelilingi Desa Meat, terhampar di depan mata. Jaket tebal langsung kami kenakan untuk menghalau dingin.

 

Namun tidak dengan penduduk sekitar. Mereka tak perlu jaket, hanya mengenakan sarung untuk menhalau dingin saat beraktivitas.

 

Pagi itu di Meat terasa istimewa, kami menepi di Pantai Simanjuntak untuk melihat sunrise. Sambil merasakan hangatnya sinar mentari, birunya air Danau Toba seakan menari mengajak kami menyeburkan diri.

 

Eksotisme Meat juga membuat mata terbelalak, pohon pinus dan bukit hijau yang mengelilingi Danau Toba, menyatu dengan hamparan padi menguning. Mirip seperti Ubud di Bali.

 

Menyeruput segelas kopi sambil memejamkan mata, cara paling elegan menikmati keindahan Meat. Alam seakan menyambut “Welcome to Meat”.

 

Berada di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, pesona Meat bukan melulu tentang alamnya. Mayoritas penduduknya peduli wisata. Mereka menjaga desa, seperti menjaga rumah sendiri.

 

Lihat saja aliran sungai yang jadi sumber irigasi sawah, sangat  jernih. Air mengalir dari hulu lalu menyatu dengan birunya Danau Toba.

 

Untuk lebih belajar kehidupan di Meat, kami memutuskan menginap satu malam. Warga menyarankan kami bermalam di Rumah Adat Ragi Hotang.

Sekilas terasa takut. Usia rumah adat itu sudah ratusan tahun. Namun karena tertantang, kami mencobanya. Jarak dari tepi danau ke sana sekitar 1 Kilometer. Dari danau kami memilih berjalan menyusuri sawah.

 

Beruntung saat itu sedang musim panen. Tampak warga tengah mamurpur (melepas butir padi) dan manabi (memotong padi), di indahnya landscape alam Desa Meat.

Hamparan sawah dipadu perbukitan dan langit biru menjadi panorama yang eksotis di Desa Meat. (Narendra)

 

Usai beribincang dengan petani, tibalah di pemukiman warga. Mayoritas setiap rumah- berprofesi sebagai penenun ulos, kain khas batak. Bila istri mengulos, maka para suami bertani. Dua profesi ini memang jadi pekerjaan utama penduduk Meat.

 

Di pemukiman rumah, warga banyak menenun ulos, kegiatan itu, sudah menjadi passion mereka.

 

Laku atau tidak, mereka tetap setia membuatnya. Karena, bagi mereka merajut ulos sama dengan mempertahankan identitas Suku Batak.

 

Seperti prinsipkan yang dipegang teguh Marsita Tampubolon, 86 tahun. Walau usianya sepuh, matanya tetap fokus menganik (merajut tali) ulos. Kemampuannya merajut kain penghangat itu, diturunkan dari keluarga sejak 76 tahun lalu. Lalu jadilah dia penenun ulos hingga saat ini.

 

Sebenarnya bisa saja dia berhenti membuatnya. Namun baginya, ulos lebih dari sekadar kain.

“Kami selalu menggunakannya. Mulai acara kelahiran, pernikahan, sampai pemakaman,” ujarnya.

 

Usia bukan penghalang bagi Marsita. Ia mampu membuat 4 ulos dalam sebulan. Keuntunganya memang hanya Rp800 ribu setiap bulan, namun itu bukan persoalannya. Membuat ulos baginya cara untuk menjaga identitas Batak.

 

“Membuat ulos saya sudah lakukan sepanjang hidup saya. Saya tak akan pernah berhenti membuat ulos,” ujar Marsita

 

Yang diproduksi Marsita dan warga lainnya adalah Ulos Ragi Hotang. Biasanya ulos ini dipakai pesta adat pernikahan Batak. Diberikan kepada pengantin sebagai bentuk penghormatan.

Marsita tengah menyiapkan benang untuk kemudian ditenun menjadi ulos Ragi Hotang. (Narendra)

 

Usai bertemu dengan Marsita kami langsung menuju Rumah Adat Ragi Hotang. Kami langsung disambut, pemilik rumah adat Guntur Sianipar. Di hadapan kami, dia menunjukkan tiga rumah bolon atau khas batak yang dijadikanya home stay. Dulunya rumah ini ditempati pemimpin huta (kampung) dari marga Sianipar.

 

“Home stay ini sengaja disewakan, agar masyarakat yang datang bisa lebih menghayati budaya dan alam di Meat,” ujar Guntur.

 

Seperti  rumah adat Batak pada umumnya, bentuknya rumah panggung dan atap menyerupai sampan atau tanduk kerbau. Di dindingnya terdapat lukisan yang didominasi motif gorga hitam, putih dan merah. Filosofinya sebagai lambang penolak bala.

 

Kapasitas rumah adat bisa dihuni enam orang. Dengan hanya merogoh kocek Rp200 ribu sudah bisa tidur ala Raja Batak di masa lalu.

 

“Penginapannya natural, pakai tilam (kasur). Kalau sarapan hanya pakai Gadong (ubi),” ujar Guntur.

 

Sebelumnya, kata Guntur, bangunan di desa Ragi Hotang tidak terawat. Dia mengaku kekurangan biaya perawatan. Selanjutnya pada tahun 2016 pemerintah merevitalisasi tempat ini hingga bagus kembali.

 

Semenjak saat itu, hasil dari penginapan digunakan untuk merawat bangunan. “Melestarikan budaya agar tidak sampai punah, sekarang ini sudah menjadi home stay untuk kearifan lokal,” ungkap Guntur.

Rumah Bolon di Desa Adat Ragi Hotang masih berdiri kokoh. (Narendra)

Langit perlahan berubah jingga. Menandakan senja temaram akan dimakan malam. Muda-mudi melipir ke tepian danau. Menikmati romantisnya senja Meat. Menyaksikan bocah setempat mengayuh solu (perahu kecil) dengan beberapa temannya. Ada juga yang berenang menceburkan diri ke dinginnya air Danau Toba.

Kami pun akhirnya menginap satu malam. Di rumah yang seluruhnya dibuat dari kayu, disediakan tiga kasur. Walau sederhana, tempatnya nyaman untuk melepas penat.

 

Pagi tiba, kami duduk santai di tepi danau sambil menyesapi alam dan air Danau Toba di Desa Meat yang kebiruan.

Panorama senja Danau Toba dari Desa Meat. (Narendra)

 

 

Geo Heritage dari batuan 300 juta tahun

 

Bias biru pada warnanya mengundang tanya pada kami. Mengapa air Danau Toba di Desa Meat berbeda dari di tempat lain. Pertanyaan ini kami diskusikan dengan Vice General Manager Toba Caldera Geopark Gagarin Sembiring.

 

Ia menjelaskan umumnya Meat merupakan geo heritage dari batuan berumur 300 juta tahun lalu. Karena letusan gunung toba ratusan ribu tahun lalu kemudian membentuk endapan yang tersusun menjadi bukit dan dataran.

 

Mengenai warna airnya yang biru, kata Gagarin, mesti dilakukan analisis. Bisa saja karena faktor lingkungan. “Tergantung kejernihan kedalaman dan pantulan cahaya dan lingkungan,” ujar pria berkacama mata ini.

Para petani memanen padi di areal persawahan Desa Meat. (Narendra)

 

Analisis Gagarin mengarah ke jenis batuan dasarnya. Bisa jadi berasal dari batuan tua berusia 300 juta tahun lalu. Namun untuk sampai ke sana dibutuhkan pengambilan sampling dan sebuah kajian.

 

“Kalau endapan supervolcano dari letusan Toba 74.000 tahun lalu, (endapannya) putih. Itu di sana gelap, kelabu gitu,” pungkasnya.

 

Terlepas dari penjelasan ilmiah Gagarin, tak ada alasan untuk tidak datang ke Meat. Keasrian alamnya, keindahan danaunya, keramahan penduduknya, keteraturan pertaniannya, dan keunikan rumah adatnya sangat sayang untuk dilewatkan.

 

Karena, dengan tinggal sehari di Desa Meat, mengajarkan kita tentang narasi menjaga Danau Toba.(*)

 

Tinggalkan Balasan