Menyusuri Jejak Peradaban Tua di Hopong

Penulis dan fotografer: Damai Mendrofa

Foto: Br Siregar Silali (75) di lokasi Patung-patung tua di Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Taput, Sumatera Utara.  (Damai Mendrofa)

Patung-patung tua di Dusun Hopong berjejer di sebelah rumah Boru Siregar Silali. Pondokan kecil beratap seng didirikan untuk memayungi 19 patung. Tiga patung masih utuh, bentuknya menyerupai manusia dengan posisi duduk dan meletakkan kedua tangan di atas paha

——-

Mulatua Siagian, asyik memanen cabai merah yang tumbuh ribuan batang di kebunnya di kaki Dolok Sanggul, sebelah timur Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Di sini, hutan hujan membentang bak karpet hijau. Perkampungan terlihat satu-satu, berserak di rimbun hutan. Masyarakat hidup dari berkebun atau memungut hasil hutan yang kaya.

Pria berperawakan kecil itu tak sendirian. Bersama istri dan keenam anaknya, tangan-tangan mereka lincah memetik si buah pedas. Katanya, harus segera dipanen dan dijual ke pengepul. Terkadang, kalau pengepul tak datang, mereka bawa ke Simangumban, ibu kota kecamatan.

“Kalau datang pengepul, ke mereka aja langsung kami jual,” katanya saat disambangi di Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara, tempat tinggalnya. Awal Oktober lalu.

Laki-laki berumur 42 tahun ini adalah raja adat marga Siagian, pambukka huta (pembuka kampung) Hopong. Tempat belasan patung batu peninggalan zaman antah-barantah ditemukan. Warga menyebutnya Gana-ganaan atau dalam Bahasa Indonesia didefenisikan berhala. Dulu, patung-patung itu berdiri di atas makam-makam tua. Kini menjadi kebun-kebun warga.

Kemudian dikumpulkan lalu diletakkan sebelah rumah almarhum ayahnya, di tengah kampung. Alasannya, agar selamat dari pencurian yang dulu sering terjadi. Sekarang, tidak pernah lagi. Mungkin karena patung-patung dijaga warga bersama-sama, atau karena ada yang percaya kalau benda mati itu punya kekuatan magis. Para pencuri akan menerima karma buruk, bahkan berujung tragis.

“Kalau ada yang mencuri kena kutuk. Pernah ada yang mencuri, ditangkap polisi, mati di penjara,” ucap Mulatua sambil membetulkan letak topi rimba warna biru tua di kepalanya.

Foto: Patung-patung tua di Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Taput, Sumatera Utara.(Damai Mendrofa)

Diminta menceritakan lagi tentang patung-patung itu, Mulatua dengan logat Bataknya yang kental mengangkat bahu. Dia bilang tak mengetahui banyak sejarah apa, siapa dan bagaimana Gana-ganaan bisa ada di kampungnya. Seingat dia, berdasarkan penuturan para tetua kampung, merupakan peninggalan peradaban Hindu sebelum masehi.

“Sejarahnya itu orang Hindu, setiap kuburan ada patungnya. Begitu cerita orangtua kami,” ucapnya.

Begitu juga kata istri dari keturunan Raja Siagian, Boru Siregar Silali yang dijumpai di pondoknya di tengah kebun. Perempuan berumur 75 tahun ini mengaku hanya pernah mendengar cerita bahwa patung-patung itu peninggalan zaman Hindu. Menurutnya, kakek dan neneknya pun tak tahu cerita tentang patung, apalagi mertuanya.

“Peninggalan orang Hindu-nya itu. Dulu Gana-ganaan diambil dari kuburan, diangkat ke sebelah rumah kami, banyak dulu itu, dicuri, jadi berhilangan,” ungkapnya.

Anwar Effendi Simanungkalit, pria asal Dusun Hopong yang sekarang bermukim di Kota Padangsidimpuan, sedang pulang kampung. Ketika dikunjungi, dia sedang duduk santai di teras tetangganya. Ditanya soal patung, Anwar yakin berkorelasi erat dengan peradaban Hindu. Alasannya, Gunung Bathara Wisnu di Kecamatan Sipirok Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan berada di balik perbukitan Dusun Hopong.

“Perbukitan Dusun Hopong dulunya jalan hutan, kan ada Candi Bahal di Padangbolak, jadi penyebarannya ke sini. Kalau ku tengok bentuk patungnya,” kata dia.

Meski ketika dikonfrontir apakah ada warga kampung yang beragama Hindu, Anwar jawab tak pernah mendengarnya.

“Cerita nenek dan kakek di sini, yang beragama Hindu memang tak ada. Makanya tak pernah dengar cerita kapan patung ini ada,” kata Anwar.

 

Pangulu Balang

Ery Soedewo, arkeolog dari Balai Arkeologi Provinsi Sumut menyanggah pernyataan Mulatua Siagian, Boru Siregar Silali dan Anwar. Dari beberapa foto yang dikirim lewat pesan singkat, Ery menyebut patung-patung tersebut Pangulu Balang. Tidak ada ciri-ciri ikonografi yang biasa ada di patung Hindu atau Buddha. Termasuk gestur dan atribut yang biasa terlihat pada arca-arca Hindu dan Buddha.

“Kalau arca Hindu atau Buddha, pasti ada ciri atribut identitas dewa misalnya Siwa. Penanda utamanya bermata tiga, satu di kening dan memegang trisula. Wisnu memegang gada dan kulit kerang. Buddha juga bukan, sikap tangan tidak mencirikan dewa. Justru lebih dekat dengan patung Pangulu Balang atau Batu Tagor kalau di Mandailing dan Tapsel,” kata Ery.

Foto: Patung-patung tua di Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Taput, Sumatera Utara.(Damai Mendrofa)

Soal keyakinan kuat masyarakat yang menghubungkan patung-patung itu dengan peradaban Hindu, Ery mengaku tradisi tutur tidak bisa dijadikan sebagai pegangan. Dia lantas menggambarkan peninggalan peradaban lainnya, banyak ditemukan peninggalan peradaban tua yang sudah ada sebelum Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia.

“Dalam konteks satu masa dengan Majapahit, masih banyak orang menganut kepercayaan nenek moyang, jadi tak heran walau lokasinya dekat dengan candi masih ada juga peninggalan yang menganut kepercayaaan sebelum ada Hindu dan Buddha. Bahkan ketika candi di Padanglawas masih digunakan, di sekitar candi ditemukan makam Batak, ada pertulisannya jelas, itu aksara Batak dan tidak ada unsur dengan percandiannya,” urai Ery.

Soal usia patung, Ery kesulitan menjawabnya karena peradaban Batak yang panjang. Menurutnya, untuk mendapatkan jawaban dibutuhkan eksvakasi di lokasi patung awalnya ditemukan. Petunjuk yang menguatkan sangat dibutuhkan misalnya keramik. Contohnya masa Dinasti Ming di abad 14 atau 16, bisa dihubungkan karena sekonteks dengan patung.

“Ya, bisa jadi patungnya jauh dari masa itu. Atau siapa tahu ditemukan sisa organik yang bisa untuk pertanggalan karbon. Kalau arcanya dari batu gak bisa diukur dengan alat analisis baik karbon maupun yang lain. Kalau batunya yang diteliti, ya bisa ratusan juta tahun yang lalu,” kata Ery.

 

Jumlah Patung Bertambah

Patung-patung tua di Dusun Hopong berjejer di sebelah rumah Boru Siregar Silali. Pondokan kecil beratap seng didirikan untuk memayungi 19 patung. Tiga patung masih utuh, bentuknya menyerupai manusia dengan posisi duduk dan meletakkan kedua tangan di atas paha. Satu patung berukuran besar, tingginya sekitar 50 centimeter, dua patung lain tingginya sekitar 15 dan 20 centimeter. Sementara patung-patung lain, sudah tidak utuh, beberapa tinggal kepala dan badan saja.

Foto: Satu patung tua tanpa kepala yang masih berada di kebun warga di Dusun Hopong. (Damai Mendrofa)

Penelusuran, masih ada patung lain yang belum dipindahkan. Misalnya satu patung di sekitar makam tua di belakang rumah warga. Patung itu, selain tak memiliki kepala, diperkirakan belum selesai dikerjakan pembuatnya. Satu patung lagi terdapat di kebun warga di jalur masuk menuju dusun, tepatnya di sisi kanan jalan. Patung tak berkepala, meski bentuk badan dan tangannya terlihat utuh. Saat foto patung ini diabadikan, di bagian kepala diletak tanah berbentuk persegi.

 

 

Ogung Ratusan Tahun

Selain patung-patung tua, di dusun yang mayoritas warganya Muslim ini, terdapat pula ogung yang ditaksir berusia di atas seratus tahun. Alat musik serupa gong yang menjadi bagian dari perangkat gondang sabangunan, musik tradisi Batak Toba. Gondang Sabangunan terdiri dari taganing, ogung, sarune dan hesek.

Foto: Br Siregar Silali saat menunjukkan empat Ogung di kamar miliknya

Ogung disimpan di rumah Boru Siregar Silali. Ada lima ogung, empat digantung di dinding kamar, satu lagi di dalam kotak yang terletak di lantai kamar.

Keempat gung yang digantung adalah peninggalan leluhur Raja Siagian. Sedangkan ogung yang di dalam kotak berasal dari luar dusun.

“Siapa yang tinggal di kampung ini, dia yang menjaga ogung. Umurnya sudah lama, lebih seratus tahun, aku saja sudah 75 tahun. Dulu lengkap kalinya itu, tapi sudah pada dijual,” katanya.

Ogung-ogung  tersebut masih selalu digunakan jika berlangsung horja atau pesta adat baik di Dusun Hopong maupun di desa-desa tetangga.

“Mereka sewa, nanti mereka sendiri yang pakai kalau ada horja,” kata Siregar.

 

Persembunyian Masa Penjajahan

Belum berhenti, di dusun yang terletak di ubun-ubun Tapanuli Utara ini, ada goa yang diyakini warga sekitar sebagai peninggalan masa penjajahan Belanda. Goa berada di sisi utara, berjarak sekitar 700 meter dari kampung. Goa Hopong namanya, diambil dari nama dusun. Pintu goa berbentuk lonjong setinggi enam meter dan lebar empat meter menganga.

Foto: Mulut Goa Hopong di Dusun Hopong yang konon dijadikan sebagai lokasi persembunyian saat masa penjajahan. (Damai Mendrofa)

Dinding lembah berkedalaman sekitar 40 meter berada di tepian kebun milik keluarga Liston Siregar Siagian. Menuju goa, di tempuh dengan menuruni jalan setapak dengan kemiringan 40 derajat.

“Katanya ini peninggalan di zaman Belanda dan menjadi lokasi persembunyian para pejuang kemerdekaan,” tutur Liston sembari menghidupkan senter dari telepon pintarnya dan mengajak masuk lebih dalam melewati jalan setapak.

Saat disusuri, terdapat ruang-ruang berlapis. Lantai terasa lembab menyatu dengan hawa dingin. Kontur lantai bergelombang sangat tak konsisten. Sementara di lantai dasar goa, mengalir air jernih dalam debit sedikit. Di dinding goa, ratusan kelelawar terbang ke sana-ke mari mengitari langit-langit, berhenti sejenak, tak lama kembali terbang.

Ruang pertama berjarak sekitar delapan meter dari mulut goa. Untuk tiba di ruang ini, harus melintasi terowongan yang menyempit dan jalan setapak sedikit mendaki gundukan. Pun, harus berpegangan di dinding goa untuk menjaga keseimbangan.

“Lantainya seperti ini karena sudah runtuh dindingnya, makanya ada gundukan-gundukan pasir,” tutur Liston.

 

Foto: Goa Hopong di Dusun Hopong yang konon dijadikan sebagai lokasi persembunyian saat masa penjajahan. (Damai Mendrofa)

Ruang pertama pun dimasuki. Luasnya sekitar empat meter persegi dengan tinggi dinding langit bervariasi. Ada yang setingg orang dewasa berdiri. Di ruangan itu, terdapat tiga terowongan. Satu terowongan kecil ke sisi kanan sedalam lima meter, sudah tertutup runtuhan pasir. Berlanjut terowongan ke sisi kiri menuju ruangan yang diprediksi menjadi kamar saat difungsikan.

Satu terowongan lain juga berukuran kecil dan cukup sempit untuk dilintasi. Liston menyebut, setelah terowongan itu juga terdapat ruangan lagi dan terdapat kamar-kamar.

“Dulu anak-anak Pramuka masuk ke dalam, tapi sekarang kondisi di dalam sudah menyempit,” katanya.

Belum dapat diprediksi kedalaman goa yang dahulu sering dimasuki warga untuk mencari kotoran kelelawar dan digunakan sebagai pupuk. Namun, cerita di tengah warga, diyakini memiliki terowongan menuju pintu keluar di sisi lain goa.

“Sering masuk orang ambil kotoran kelelawar itu, sebelum ada pupuk. Sekarang kan sudah ada pupuk, jadi sudah gak ada yang masuk ke dalam. Kata orang-orang sini, ada kian pintu keluarnya tapi gak tahu di sebelah mana,” timpal Boru Siregar Silali.

Isi goa, boru Siregar mengaku tak tahu menahu. Meski ada cerita-cerita di antara warga, seseorang pernah menemukan Ogung dari dalam goa.

“Lebih sepuluh tahun lalu itu, Oppung Hotman yang temukan,” imbuhnya.

 

Rangkong dan Orangutan

Dusun Hopong dikelilingi perbukitan dengan tutupan hutan hujan yang masih terbilang rapat. Tak heran jika di sini, terdapat habitat hewan dilindungi. Benar saja, seekor rangkong perut putih (Anthracocerus albirostris) bertengger di pepohonan tertinggi di tepi kebun milik Liston Siregar. Sayang fotonya tak berhasil diabadikan. Namun Liston menyebut, rangkong kerap terbang melintasi hutan dan dusun.

“Banyak di sini, gak pernah diganggu warga,” ucap Liston.

Selain rangkong, tepian hutan dusun juga pernah didatangi Orangutan Tapanuli, spesies endemik di landscape Hutan Batangtoru yang terbentang di tiga kabupaten yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

“Kalau orangutan, beberapa bulan lalu masih melintas dekat kebun kita ini, setelah itu tidak pernah lagi,” ungkapnya.

Aksesbilitas yang butuh sentuhan pembangunan menjadikan Dusun Hopong pemukiman terakhir di Desa Dolok Sanggul atau berada di areal hutan perbatasan antara Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Dari Tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Dusun Hopong dicapai dengan berkendara selama dua jam. Perjalanan diawali dengan menyusuri jalan penghubung Tarutung-Padangsidimpuan menuju Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Tiba di Simangumban Julu, tak jauh dari kantor pos, perjalanan kembali dilanjut melintasi persimpangan sebelah kiri. Melintasi jalan hotmix sekitar 20 menit. Menyusul jalan bermaterial batu belah (telford) sekitar 40 menit, sampailah di Dusun Hopong. Di beberapa titik, terdapat jalan dengan kondisi cukup rusak dan berlumpur.

Aksesbilitas ini tentu menyulitkan, apalagi mengingat potensi wisata budaya dan sejarah yang dimiliki kampung. Jika ingin mendorong dusun ini menjadi destinasi wisata, pembenahan sarana jalan menjadi sesuatu yang niscaya harus dilakukan.

 

Tinggalkan Balasan