Merengkuh Kepingan Surga Parbaba

Hamparan pasir di Pantai Parbaba. (Parada Al Muqtadir)

Penulis dan Fotografer : Parada Al Muqtadir Siregar

——

Hamparan pasir membentang luas sejauh mata memandang,

Pusuk Buhit yang menjulang kokoh seakan menindih Danau Toba yang tenang

Rasanya seperti merengkuh tiga keindahan dalam satu tatapan.

——

Toba lebih dari sekedar danau yang memesona. Toba adalah kawah gunung api raksasa yang sudah beberapa kali meletus, namun masih menyimpan kantong magma aktif di dalamnya.

Jika Yogyakarta selalu menyisakan rindu, Toba pun selalu punya cerita berbeda acapkali berkunjung kesana. Kali ini saya pun mencoba mencicipi salah satu keindahan yang berbeda, pemandangan pantai yang menawan, dengan latar belakang gunung Pusuk Buhit.

Yah, dimana lagi kita bisa menikmati pantai dengan pemandangan gunung selain di Pantai Parbaba. Ditambah lagi dinginnya air Danau Toba. Tidak perlu khawatir bila bermain di air dengan waktu yang cukup lama.

Panorama dari Pantai Parbaba. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Letaknya di Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Untuk ke sana ada dua pilihan rute. Melalui jalur darat atau menyeberang danau.

Jalur darat bisa ditempuh melewati jalur Tele, lalu mengarah ke Panguruan dan akhirnya sampai ke Parbaba. Atau  bisa menumpang kapal ferry menuju Tomok. Dilanjut dengan jalur darat menuju ke Pantai Parbaba. Perjalanannya lebih kurang 45 menit.

 

Pemandangan Alam yang Menawan

Saban kali saya ke Danau Toba, selalu memberikan cerita menarik dalam setiap perjalanannya. Kekaguman di setiap mengunjungi episentrum etnis Batak ini selalu membuncah. Tepat jika menyebut Danau Toba indah dilihat dari sudut mana pun.

Wisatawan bisa menikmati berbagai wahana di Parbaba sembari melihat panorama. (Parada Al Muqtadir)

Karena ingin menikmati keindahan danau dari atas kapal, perjalanan kali ini saya memilih perjalanan via Tiga Ras. Berangkat tengah malam dari Medan, menyusuri jalur berkelok Karo hingga tiba di pelabuhan sebelum matahari mengintip. Dingin masih menusuk ke tulang ketika keluar dari mobil.

Sambil menghirup udara pagi, saya mencoba mengamati sekitar pelabuhan. Sudah ramai ternyata. Banyak juga wisawatan yang mau menyeberang ke pulau berjuluk Negeri Indah Kepingan Surga itu. Kebetulan saat itu akhir pekan.

Kami memilih kapal penumpang untuk menyeberang. Satu demi satu penumpang naik ke atas kapal. Alunan musik khas Batak dihidupkan cukup keras untuk menghibur penumpang. Deru mesin diesel dan asap hitam yang mengepul di buritan menjadi penanda kapal berangkat. Ombak kecil yang menghempas ke lambung kapal menjadi irama pengiring selama berlayar.

Sambil mengamati sekeliling, pandangan teralihkan pada sebuah pulau kecil, Pulau Tao. Di sana ada sebuah resort dan kerumunan burung bangau yang bertengger diranting pohon. Ah, ternyata ada keindahan yang belum banyak pasang mata lihat dari Toba.

Kapal terus melaju. Tak sampai dua jam perjalanan, putihnya hamparan pasir Parbaba mulai tampak. Penumpang pun harus berganti ke perahu yang lebih kecil. Sebab, dangkalnya permukaan air Parbaba akan membuat kapal besar terjerembab.

Tiba-tiba salah seorang penumpang langsung melompat ke air. Dia memilih berenang ke arah pantai. Barang-barangnya dititipkan ke rekannya .

“Ah, andai pergi dengan pasangan, pasti kan sudah ikut nyemplung, karena tak akan sangup menolak godaan air danau yang sejuk,” gumamku dalam hati.

Pengunjung bisa menikmati panorama Danau Toba di pinggiran pantai. (Parada Al Muqtadir)

Matahari belum terlalu menanjak. Sampai juga akhirnya di Parbaba. Pantai dengan hamparan pasir putih yang cukup dangkal. Cukup aman bagi yang mau bermain air.

Saya memilih tidak bermain air. Hanya membasuh kaki dan wajah sebagai syarat. Setelahnya, saya pergi ke warung salah satu pedagang. Memesan kopi untuk dinikmati memandangi alam Parbaba.

Betapa terpananya saya, Parbaba memberikan hamparan alam nan ciamik. Di arah barat, saya disajikan dengan gagahnya Gunung Pusuk Buhit yang menjulang. Gunung yang punya cerita sejarah sebagai awal mula peradaban orang Batak. Konon ceritanya, orang Batak pertama kali diturunkan di puncak Pusuk Buhit.

Parbaba memang tak asing lagi bagi para pelancong. Selalu masuk ke dalam daftar destinasi pilihan ketika berlibur ke Samosir. Di sini, sejumlah even besar juga selalu digelar. Horas Samosir Fiesta salah satunya. Even akbar yang digawangi oleh Pemkab Samosir.

Berbagai wahana yang ada di Pantai Parbaba. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Dengan gelaran yang cukup masif, Parbaba selalu mendatangkan banyak wisatawan. Khususnya even bertajuk kebudayaan yang menyedot wisatawan asing. Yang saban tahun sudah dilaksanakan di antaranya adalah Festival Pasir Putih yang terdiri dari beberapa rangkaian acara seperti Manguras Tao, Kirab Budaya, Tortor Partutuaek Kolosal dan hiburan rakyat. Belum lagi Festival Gondang Naposo. Kompetisi tortor yang menceritakan tentang bagaimana para muda-mudi Batak mencari jodoh.

 

Subur untuk tanaman hingga pasir kuarsa yang berkhasiat

Dengan keindahan yang ada, siapa sangka jika Parbaba dulunya adalah kawasan pertanian. Tanahnya yang subur menjadi penghasil padi dan bawang.

“Dahulu pantai ini hanya dimanfaatkan warga sebagai wadah untuk bercocok tanam bawang dan padi. Kurang lebih itu dilakukan sekitar 1996 lalu. Namun karena kian hari air danau terus surut, pada 2005 beberapa warga sekitar pun berpikiran untuk mengubahnya menjadi destinasi wisata sampai saat ini,”ujar Coki Pasaribu salah seorang warga sekitar.

Coki bersama beberapa pemuda lainya pun berinisiatif untuk mengelola tempat tersebut menjadi tempat wisata.

“Saya dan beberapa rekan di sini melihat bahwa potensi Pantai Parbaba menjadi salah satu wisata andalan Danau Toba itu cukup besar,” katanya.

Panorama Pantai Parbaba. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Usut punya usut, menurut Wakil General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BPGKT) Gagarin Sembiring, ternyata kawasan Pantai Parbaba menjadi lahan pertanian dikarenakan tanah yang ada di pulau samosir merupakan hasil pelapukan dari endapan danau. Hasil pelapukannya pun berdasarkan satu jenis batuan sehingga bersifat homogen.

“Pasir putih di Parbaba dan yang ada di Pantai Batu Hoda, itu berbeda partikelnya dengan pasir yang ada di pantai lainnya. Komposisi utama pasir yang ada di pantai Parbaba adalah silika kuarsa. Lebih halus karena merupakan hasil pelapukan endapan Toba,”ujarnya.

Lebih lanjut, Gagarin mengatakan bahwa Pantai Parbaba terbentuk dari bebatuan tinggian danau yang mengalami proses pelapukan. Kemudian dibawa oleh air hujan dan sebarannya berakhir di pantai pantai yang sejajar dengan Pantai Parbaba.

“Kenapa kuarsa itu bisa tetap bertahan hingga hari ini, sebab kandunganya tidak mudah lapuk dan larut ke dalam air,”terangnya.

Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Gunung Toba terakhir meletus pada 74.000 tahun lalu. Itu adalah letusan ketiga. Letusan terakhir ini disebut-sebut sebagai yang paling dahsyat dalam sejarah Dunia. Pantai Batu Hoda pun menjadi titik nol pulau Samosir yang terbentuk usai letusan ketiga itu.

“Pulau Samosir sekarang ini, pengangkatannya itu tidak sama di setiap sisi, tidak horizontal dia terangkatnya tapi miring, itu lah kenapa kita lihat di satu sisi Pulau Samosir itu terjal, dan sisi lainnya landai,”ujarnya.

Pengunjung tengah menikmati wahana banana boat di Parbaba. (Parada Al Muqtadir)

Gagarin menyarankan, pengunjung yang datang ke Parbaba, untuk tidak menggunakan alas kaki. Karena pasir kuarsa yang ada di sana baik untuk terapi kesehatan.

“Parbaba itu kan sudah menjadi lokasi industri pariwisata, jika ditambahkan sedikit narasi tentang manfaat pasir silika yang baik untuk kesehatan, misalkan dibuat imbauan untuk tidak menggunakan alas kaki ketika di sana, agar pengunjung juga bisa dapat manfaat kesehatan. Karena berjalan di atas pasir parbaba seperti melakukan terapi kuarsa yang bisa membuat tubuh lebih segar,” ujarnya.

Selain hamparan pasir putih dan sejuknya air danau, pengunjung juga bisa menikmat berbagai wahana yang ditawarkan di Parbaba. Sepeda air, voli pantai, banana boat, jet ski dan masih banyak lagi.

Mulai tergelitik dengan pantai pasir putih ini? Mulai lah susun rencana dari sekarang, tapi bila melawat kemari usahakan sedari pagi. Karena bila siang sampai Parbaba maka tak cungkup waktu untuk berleha-leha di sana.

Tinggalkan Balasan