Napak Tilas Perjuangan Sisingamangaraja di Bakkara

Penulis: Bagus Akhiro
Fotografer: Parada Al Muqtadir Siregar

Lembah Bakkara yang disebut mirip dengan Lembah Stryn di Norwegia. (Parada Al Muqtadir Siregar)

 

Eloknya lembah Bakkara sulit tertandingi

Kuatnya perjuangan Sisingamangaraja tak tersaingi
Keduanya akan jadi saksi histori hingga anak cucu nanti

Berbekal berita di laman pencarian goggle, Awal November lalu kami berangkat ke Kecamatan Bakti Raja (Bakkara), Kabupaten, Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Tempat yang kami tuju ini tengah viral di media sosial. Kabarnya mirip lembah Stryn yang kesohor di Norwegia.

Kami menempuh jarak sekitar 230 kilometer atau 6 jam perjalanan dari Kota Medan. Di sana ada sekitar lima spot foto yang merupakan daerah perbukitan dengan background lembah di Kecamatan Bakkara.

Memandang panorama Bakkara, mata dibuat takjub oleh dinding kaldera yang mengapitnya. Kerennya lagi, hamparan padi, rumah, sungai seolah membentuk taman alam yang menghiasi birunya air danau toba.

‘Jatuh cinta pada pandangan pertama’ begitu kata yang tepat, mewakili perasaan kami.

Lembah Bakkara yang disebut mirip dengan Lembah Stryn di Norwegia. (Parada Al Muqtadir Siregar)

 

Namun itu pula yang memantik, penasaran soal seluk beluk, Bakkara. Niat hanya sekedar foto, kami ganti jadi berpetualang. Posisi Bakkara di bawah bukit, kami menuruni lekukan dinding kaldera. Selama perjalanan tampak Bakarra juga diapit dua Sungai Aek Silang dan Aek Simangira.

Tak hanya alam yang menakjubkan, Bakkara menyimpan sisi historis yang kuat bagi suku Batak Toba. Di sana  tempat lahir Raja Sisingamangaraja. Seorang raja yang karena kesaktian dianggap sebagai utusan Tuhan di muka bumi.

Bahkan karena kegigihanya, melawan penjajah Belanda, keturunan Ke-12 Sisingamangaraja dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 1961. Namanya dikenal dengan sebutan Sisingamangaraja XII.

Tombak Sulu-sulu yang dipercaya sebagai tempat lahirnya Sisingamangaraja. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Penasaran dengan ceritannya, Sawarno Hutagaol, seorang guide mengajak kami ke Tombak Sulu-Sulu. Sebuah goa yang diyakini sebagai tempat awal dinasti Sisingamangaraja lahir. Tiba di sana, kami melihat goa dikelilingi batu yang begitu besar. Secara geologis, batuan ini ternyata batuan gamping atau metal limestone.

Setiap pengunjung yang datang wajib membuka alas kaki. Aturan lainnya tidak dianjurkan, memakan babi atau makanan tidak halal beberapa hari sebelum mengunjungi goa.

“Ini tempat suci, kita harus mengikuti aturan,” ujar Sawarno kepada kami.

Tempat itu terasa keramat, saat hendak melihat tempat itu, dua orang warga sedang berdoa di dalamya. Keduanyamelafalkan doa dengan membawa daun sirih dan jeruk purut. Mereka menyebutnya menziarahi leluhur.

Kisah tempat ini disucikan, bermula pada Abad XIV. Seorang putri beru Pasaribu, datang ke Tombak Sulu-Sulu. Dia datang bersama anak perempuannya yang cacat bernama Ashit Natundal.

Anaknya itu, hasil buah cintanya dengan suami bernama Raja Bonan Yonan Sinambela. Namun karena anak pertama yang lahir bukan lelaki, Raja Bonan Yonan meninggalkan istrinya dan memilih mengembara. Di masa itu, tidak memiliki anak laki-laki dianggap aib.

Usai ditinggal bertahun-tahun, Putri Pasaribu lalu berdoa di Tomba Sulu-Sulu. Kepada leluhurnya, Mula Jadi Nabolon (Tuhan) ia memohon agar diberikan anak lelaki. Kemudian Mula Jadi Nabolon, datang menyerupai wujud manusia lalu berkata akan memberikannya seorang anak lelaki.

“Dia diberkati, jangan bersedih karena kamu akan melahirkan seorang raja, tempat bertanya dan menjadi sumber hukum untuk mengatur orang di Negeri ini,” ujar salah tokoh adat asal Bakkara,  Theodore Galimibat Bakkara.

Akses menuju Tombak Sulu-sulu yang dipercaya sebagai tempat lahirnya Sisingamangaraja. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Lalu pada saat itu, Putri Pasaribu mengandung dan melahirkan Sisingamangaraja I (pertama). Kelahirannya pun membawa perdamaian bagi masyarakat Batak. Selain bijaksana, dia juga memiliki kesaktian untuk melindungi rakyatnya.

Jejak  Sisingamangaraja, bukan hanya Tomba Sulu-Sulu. Istananya pun masih ada hingga kini. Kami pun bergegas mengunjunginya. Sembari mobil berjalan, tampak pola perkampungan atau huta (desa) khas masyarakat Batak Toba yang umurnya ratusan tahun.

Meski zaman sudah modern, banyak masyarakat mempertahankan rumah batak tersebut. Seperti, di Desa Parmonangan. Saat memasuki huta itu, kita harus melewati batuan berbentuk lorong yang tersusun rapi. Sama sekali tidak ada unsur semen yang merekatkan, namun bebatuan menyatu erat dengan batu lainnya.

Akses masuk menuju salah satu huta di Desa Parmonangan. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Di tempat itu tampak tiga rumah panggung khas Batak atau Rumah Bolon berwarna kuning. Mesti rumah berusia ratusan tahun, namun semangat pemiliknya tetap kekeh  mempertahankannya.

“Ini warisan leluhur, apapun peninggalanya tetap berharga,” ujar pemilik rumah, Sondang kepada kami.

Perempuan 46 tahun ini yang baru pulang menanam padi ini, mengatakan, hingga kini ia berupaya menjaga keaslian rumah.

“Rumah ini dari zaman dahulu tetap sama. Tidak ada di paku, hanya diikat rotan dan menggunakan ijuk,” tuturnya

Rumah adat tua di salah satu Huta di Desa Parmonangan. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Di rumah itu, dia tinggal berkelompok dengan keluarga lainnya, total berjumlah delapan orang. Kendati demikian dia tetap merasa nyaman. Tidak ada keinginanya merombak atau mengubah bentuk rumah itu.

“Saya sudah terbiasa tinggal di sini, nyaman. Rumah ini sudah ada semenjak  dari kakek buyut saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Istana Sisingamangaraja Dua Kali Dihancurkan Belanda

Puas menikmati keindahan Rumah Bolon, perjalanan kami lanjutkan ke Istana Sisingamangaraja. Menempuh perjalanan 15 menit, sampailah kami di lokasi yang berada di Dusun Lumban Raja, Desa Simamora. Istana Sisingamangaraja memiliki luas 100 meter x 100 meter.

Istana Sisingamangaraja di Desa Simamora. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Di dalamnya terdapat 3 rumah batak yang disebut, Rumah Bolon, Sopo Bolon, dan Sopo Parsaktian. Lalu ada pula makam Raja Sisingamangaraja dari yang pertama hingga XI. Dahulunya di rumah inilah Sisingamaraja XII menyusun strategi melawan Belanda.

“Perlawanan dilakukan karena pada masa itu Raja Sisingamangaraja tidak menyukai penindasan,” ujar Markoni Sinambela, generasi keturunan Sisingamangaraja XV.

Karena sikap pantang menyerang Sisingamangaraja, pertempuran pun tidak bisa terelakkan, hingga Istana Sisingamangaraja dihancurkan Belanda pada tahun 1878 dan 1883. Walau terus digempur, semangat perlawanan Sisingamangraja tidak pernah luntur.

Dia terus membangun perlawanan, hingga akhirnya gugur pada 17 Juni 1907 tepatnya di Desa di Onom Hudon. Lokasinya kini berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.

“Lalu Sisingamangarajadimakamkan di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba,”ujarnya

Dia menjelaskan Istana Raja yang ada saat ini, sudah mengalami perubahan karena di renovasi masyarakat dan pemerintah tahun 1978-an. Selain itu, kata dia, dengan gugurnya Sisingamangaraja XII berakhirlah kesaktian dari dinasti  Sisingamangaraja.

Karena itu, keturunan Sisingamangaraja saat ini, tidak bisa disebut sebagai Raja Sisingamangaraja lagi. Gelar itu hanya untuk raja yang memiliki kesaktian.

“Di generasi XIII hingga seterusnya, tidak ada lagi kesaktian Sisingamangaraja. Sebutannya bukan lagi Sisingamangaraja, hanya generasi XIII, XIV, XV, dan seterusnya,” jelasnya.

 

Aek Sipangolu Jadi Bukti Kesaktian Sisingamangaraja

Dulunya kesaktian Sisingamangaraja sangat banyak. Mulai dari menurunkan hujan, hingga menyembuhkan penyakit. Salah satu kesaktian yang dipercaya hingga kini adalah Aek Sipangolu atau air kehidupan. Mata air itu, diyakini mampu menyembuhkan segala penyakit

Aek Sipangolu yang dipercaya senbagai bukti kesaktian Sisingamangaraja. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Lahirnya Aek Sipangolu bermula saat, Sisingamangaraja melintasi wilayah Bakkara bersama tunggangannya yang merupakan gajah putih. Saat di perjalanan gajah kehausan.

“Raja lalu menghentakkan tongkatnnya ke tanah lalu munculah air itu,” Markoni

Dari istana menuju Aek Sipanghulue sekitar 5 menit. Lokasinya berada di Desa Simangulampe. Tiba di lokasi air meluncur deras dari atas perbukitan yang menjulang tinggi. Di tempat itu, disediakan tiga spot menikmati air. Lokasi di atas jembatan, dibawa jembatan hingga ada sebuah kolam.

Karena tempat ini dikeramatkan, setiap pengunjung yang datang diwajibkan membuka alas kaki. Jika ada pengunjung yang makan babi, dia tidak diperbolehkan datang ke sana.

Tiba di lokasi tampak beberapa pengunjung mandi dan mengambil air di situ untuk dibawa pulan

Kami pun mencoba ikut merasakannya. Saat air menghantam wajah, rasanya begitu segar. Membasuh wajah berulang kali, sambil memjamkan mata jadi salah satu cara menikmati Aek Sipangolu.

Usai mengunjungi Aek Sipangholue, kami beranjak ke Air Terjun Janji, di Desa Marbun Toruan. Meski tidak setinggi air terjun Sipiso-piso, hempasan air yang jatuh dari tebing setinggi 50 meter sangat deras. Berada di sampingnya memberi sensasi  berbeda. Karena Air terjun menghadap Danau Toba.

Air Terjun Janji di Desa Marbun Toruan. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Selain melengkapi ke eksotisan alam di Bakkara. Nama, penamaan air terjun janji juga punya kisah menarik. Ada beberapa versi kandungan ceritanya. Termasuk dari pemilik air terjun bernama Manahan Marbun (74).

Kata dia dulunya di sini raja Sisingmangaraja XII meminta prajuritnya untuk berjanji tidak gentar melawan Belanda.

“Sisingamangaraja meminta prajuritnya setia padanya dan berjanji untuk melawan penjajahan Belanda,” kata Manahan

Tidak cukup satu, air terjun. Kami mencoba mencoba menjelajahi air terjun Sipultak Hoda. Sebelum tiba di sana kami melewati Pulau Simamora di Desa Tipang. Pulau di tengah danau itu, tampak elok dengan pohon hijau yang menglilinginya. Lantaran tidak ada kapal yang mengantar. Kami urungkan untuk menjelajah ke sana.

 

 

 

Puncak Gonting jadi akhir perjalanan

Perjalananan lalu dilanjutkan ke Sipultak Hoda, terbilang ekstrem. Jalurnya cocok bagi backpacker. Tempatnya masih begitu asri. Untuk ke sana, harus menaiki lereng pegunungan sekitar 1 kilometer, jalan yang dilalui juga hanya bisa dilalui untuk satu orang.

Namun saat tiba ke sana rasa lelah lenyap. Kita seperti menjadi tamu eksklusif alam. Tidak ada orang sama sekali saat kami di sana. Air terjun begitu asri dikelilingi bukit hijau yang menjulang tinggi.

Dari keterangan warga, air terjun ini ada 12 tingkat. Karena jalanan yang terjal kami hanya sampai di tingkat kedua. Begitupun, kami tetap bersyukur telah sampai ke sini.

Air Terjun Sipultak Hoda. (Parada Al Muqtadir Siregar)

Usai mandi di air terjun Sipultak Hoda, Puncak Gonting menjadi destinasi terakhir yang kami kunjungi.

Lokasinya berada di Desa Tipang sekitar 15 menit perjalanan dari Air terjun Sipoltak Hoda. Lokasinya berbatasan dengan Humbahas Hasundutan dan Pulau Samosir. Gonting merupakan salah satu puncak tertinggi di Bakkara.

Dari atas  Gonting Danau Toba terhampar luas. Dari kejauhan Kabutapen Simalungun dan Samosir kelihatan. Lalu di tengah Danau Toba juga terlihat Pulau Sibandang, Simamora, dan Nainggolan.

Berada di atas sana seperti merasakan spot terbaik dari letusan toba 74.000 tahun lalu. Tampak pula Bakkara sebagai etalase taman alam. Berdindingkan Kaldera, yang berbentuk bukit, beratapkan awan dan bertamankan Danau Toba.

“Batuan dasar ini usianya 250 juta tahun. Batuan dasar Pulau Sumatera itu,” ujar Vice General Manager Toba Caldera Geopark, Gagarin Sembiring.

Panorama Danau Toba dari atas Puncak Gonting. (Parada Al Muqtadir)

Menurutnya lokasi Bakkara terbentuk dari, gunung toba. Garis besarnya, ada tiga letusan yang membentuk danau toba. Letusan 800 ribu tahun, 500 ribu dan 74.000 tahun lalu. Di Bakkara sendiri banyak ditemukan produk letusan 800 ribu tahun lalu.

Usia batu tersebut bukan sekadar angka. Namun menjadi bukti sekaligus saksi bisu betapa kayanya histori di Sumatra Utara.

Tinggalkan Balasan