Pesanggrahan Soekarno, Jejak Pendiri Bangsa Pertahankan Kemerdekaan

Foto Aerial: Pesanggrahan Soekarno di Parapat. (Dok. Genpi Sumut)

Penulis dan Fotografer: Damai Mendrofa

Sang Merah Putih berkibar di tiang pagar balkon lantai dua

Bangunan itu masih terlihat gagah meski sudah tua

Menantang Danau Toba,

Berisi sejarah jejak pendiri bangsa

 

—–

Di penghujung Oktober, saya berkesempatan menyambangi Pesanggrahan Founding Father Indonesia, Soekarno. Lokasinya di Tiga Raja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ketika itu sudah petang. Di arah Barat, awan sedikit kelabu dipapar matahari, cahayanya menembus dan langsung menghujam Danau Toba.

 

Tempat pengasingan Soekarno dan dua tokoh bangsa: Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim ini, terletak di bukit kecil menjorok ke Danau. Berdiri kokoh sekitar 20 hingga 25 meter dari permukaan danau. Sepintas, Pesanggrahan ini terlihat berada di pulau kecil dikelilingi air.

Meski tak terlalu tinggi, dari sini lanskap Danau Toba terhampar apik. Itu sebab, mengapa selalu saja ramai orang yang datang. Selain berswafoto dengan latar kompleks destinasi sejarah bangsa, selebihnya dapat duduk-duduk bercengkerama sembari menikmati pemandangan yang memesona.

Akses menuju Pesanggrahan ini tak sulit. Jika memulai perjalanan dari Bandara Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, perjalanan berkendara dalam kecepatan normal dapat ditempuh sekitar tiga jam. Tiba di Parapat, arahkan kendaraan di pertigaan Jalan Kolonel TPR Sinaga. Ikuti jalan satu arah hingga pertigaan dengan jalan Talun Sungkit, namun tetap di jalan Kolonel TPR Sinaga yang mengarah ke kanan pertigaan.

Tetap ikuti jalan tersebut hingga pertigaan kedua dan masuk ke jalan Marihat yang searah dengan jalan Kolonel TPR Sinaga. Sekitar tiga menit, akan bertemu pertigaan selanjutnya, lalu ambil jalan ke kiri ke arah Darma Agung Beach. Dari situ, akan bertemu gapura menuju komplek Pesanggrahan. Di sini, Pemerintah Provinsi Sumut juga menyediakan mess.

Masuk ke dalam komplek, terdapat aspal hotmix mengelilingi pesanggrahan. Jalan ini, dimanfaatkan pula oleh para pengunjung memarkirkan kendaraannya.

Pesanggrahan Soekarno di Parapat. (Damai Mendrofa)

Saat saya tiba, pengunjung di pesanggrahan sedang ramai. Beberapa di antaranya hendak masuk lebih dekat dengan bangunan yang dicat dengan paduan warna hitam putih itu. Sayang, masyarakat memang tidak dibolehkan masuk oleh penjaga mess yang bertugas merawat Pesanggrahan.

“Cuma boleh melihat dari luar ya pak, maaf, begitu aturannya,” kata Izam, penjaga mess kepada seorang pengunjung.

17 Tangga, 8 Cemara Dan 45 Pinus Simbol Kemerdekaan

Luas lokasi bersejarah ini sekitar 1.400 meter persegi ini. Pohon-pohon Cemara dan Pinus jadi kanopinya. Pantas saja udaranya sejuk.

Pepohonan tua itu besar, rindang dan menjulang tinggi. Akar-akarnya menyembul sebagai bukti, dari sini jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia akan selalu abadi.

Pepohonan yang semakin menambah kesejukan di sekitar pesanggrahan. (Damai Mendrofa)

Namun menariknya, belum banyak yang tahu ternyata jumlah pohon-pohon itu menyimbolkan kemerdekaan. Termasuk tangga menuju pesanggrahan. Anak tangga jumlahnya 17, cemara 8 batang dan Pinus 45 batang. Jika digabungkan, angka-angka ini persis tanggal hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bertemulah saya dengan Mangasi Sinaga. Kepala Mess Pora-pora Pemprov Sumut sekaligus yang dipercaya merawat Pesanggrahan. Ia merupakan generasi ketiga dari Bukka Sinaga, salah satu dari tiga pegawai yang dipekerjakan Belanda saat Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim diasingkan di pesanggrahan ini sejak 4 Januari hingga Maret 1949. Bukka Sinaga wafat tahun 2004 lalu di usia 84 tahun.

Kisah Langsung yang Sedikit

Selain rumah pesanggrahan, sejumlah sarana pendukung sudah dibangun di komplek tersebut, diantaranya Mess Pemprov Sumut yang berada di sisi kanan Pesanggrahan berjarak 100 meter. Di sisi kanan, di dataran lebih rendah dan berdekatan dengan pesanggrahan terdapat kolam. Kemudian, terdapat dua joglo bergaya khas Batak yang dibangun berdekatan. Kedua jolgo tersebut dimanfaatkan sebagai tempat makan atau sekedar duduk ngopi dan bersantai. Di joglo itu juga, Mangasi mengisahkan apa yang ia ketahui tentang sejarah Soekarno kepada saya sembari duduk beralas tikar berteman dua gelas kopi.

“Para pegawai di masa pendudukan Belanda, dijaga ketat untuk tidak berinteraksi banyak dengan Soekarno, Sutan Syahrir dan H Agus Salim. Bahkan jika hendak duduk-duduk di dua joglo yang berada di komplek Pesanggrahan,” ucap Mangasi.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mangasi  sering bermain-main di pesanggrahan. Namun sayangnya, tak begitu banyak kisah yang diceritakan sang kakek kepadanya tentang Soekarno. Termasuk soal kisah yang menyebut cara Soekarno yang memanfaatkan tulang ayam dan sayur kangkung sebagai media berkomunikasi dengan para pejuang kemerdekaan di Parapat.

“Bukan cerita langsung dari Oppung, karena mereka ada bertiga sebagai pegawai di masa itu. Ini bukan cerita di tahun 1949, mungkin diceritakan setelah peristiwa itu, lalu diceritakan secara turun temurun,” kata Mangasi.

Pesanggrahan Bung Karno di Parapat. (Damai Mendrofa)

Sambil menyeruput kopi, Mangasi pun lebih banyak bercerita soal harapan-harapannya terhadap upaya menjaga pesanggrahan agar tetap eksis. Perawatan bangunan harus menjadi prioritas.

“Kayu kan akan dimakan rayap, kondisi sekarang memang masih bagus, tapi kan patut diingat bangunan ini sudah sejak 1980-an. Alangkah lebih baik jika pembangunan Tugu Soekarno dan perpustakaan yang pernah jadi wacana dapat direalisasikan,” kata Mangasi.

 

Rangkaian Perjalanan Soekarno Sebelum Diasingkan di Parapat

Sembari menghabiskan kopi yang tinggal sekali seruput, saya menunggu Zamzami, petugas lain yang juga menjadi penjaga mess sekaligus merawat Pesanggrahan. Kata Mangasi, dia lebih banyak tahu soal sejarah Soekarno saat diasingkan di Parapat. Zamzami masih tampak sibuk ke sana kemari menyelesaikan pekerjaannya. Ia terlihat telaten dan menghayati pekerjaan. Pria 45 tahunan ini dikenal fasih menarasikan sejarah keberadaan Soekarno, bahkan sebelum ia diasingkan di Parapat.

Zamzami, ayah dari dua putri dan seorang putra ini menghuni ruangan lantai bawah di belakang Pesanggrahan. Dari sana ia setiap hari mengawali tugasnya menjaga dan merawat rumah bergaya eropa yang dibangun tahun 1820 oleh Belanda.

Tak lama, pria berdarah Minang yang akrab disapa Izam itu akhirnya menemui kami. Ngobrol sejenak, Izam mengajak masuk ke pesanggrahan.

Tiba di lantai dua Pesanggrahan, Izam mengawali penuturannya. Dia menyebut, tiga tokoh bangsa, Soekarno, KH Agus Salim dan Sutan Sjahrir diasingkan bersama di Pesanggrahan tersebut.

Dokumentasi yang menunjukkan Bung Karno dan Kh Agus Salim selama di pengasingan. (Damai Mendrofa)

Sebulan sebelum pengasingan di Parapat, Soekarno diberangkatkan dari Bandara Maguwo di Jogja tanggal 22 Desember 1948 usai digencarkan Agresi Belanda ke II. Sang Proklamator diberangkatkan menuju Sumatera Utara, tepatnya ke Bandara Polonia. Ia lantas dibawa ke berastagi di Bukit Kubu selama 12 hari.

“Setelah menyampaikan tujuannya untuk memutuskan komunikasi antara Soekarno dan para pemimpin lain dan tujuan kedua agar Soekarno menggagalkan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 27 Desember, Soekarno disodorkan selembar surat, dibaca bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir. Disana Soekarno menegaskan tidak akan pernah menandatangani,” kata Izam.

Karena tidak mau menandatangani, Soekarno dibujuk akan diberi hadiah satu peti uang golden dan satu peti pakaian mewah. Tapi Soekarno tetap dengan pendiriannya. Belanda tak menyerah dan kembali menyatakan akan memberikan apapun permintaan Soekarno.

“Disitu Soekarno memberikan jawaban yang luar biasa yang tidak disangka oleh pemimpin tentara Belanda, dia bilang, tunggu dulu saya tanya sama anak saya, kalau anak saya mau menandatangani surat ini, baru nanti saya tandatangani, disitu timbul pertanyaan Belanda siapa anaknya? Soekarno menjawab anak saya dari Sabang sampai Merauke,” tutur Izam.

Karena Soekarno tidak mau menandatangani, timbullah niat tentara Belanda untuk meracuni Soekarno. Itu dilakukan keesokan harinya pada 29 Desember 1948 pagi. Seorang pelayan di pengasingan di Bukit Kubu bernama Karno Subiran diberikan satu botol kecil berisi cairan. Ia diminta mencampurkan cairan itu ke makanan Soekarno, dengan alasan vitamin untuk mereka bertiga.

Beruntung Karno Subiran tidak percaya. Ia lalu mencampurnya dengan roti atau makanan yang biasa dimakan Soekarno. Semenit kemudian roti itu berubah warna menjadi hitam.

“Disitu Karno melawan, katanya, gila kau, masa pemimpinmu sendiri mau kau racuni sendiri. Racun itu dibuang Karno Subiran. Karena membuang racun itu, dia pun jadi sasaran, dipukul, diseret dan dijadikan tahanan rumah di daerah Berastagi dan ingin dieksekusi oleh tentara Belanda, tapi dengan lantang Karno menjawab siap mati demi pemimpin bangsa, dan disitulah Belanda mundur,” ujar Izam.

Tak ada pilihan, tentara Belanda akhirnya menjebloskan Karno Subiran ke dalam Penjara. Dan sejak pagi sampai sore hari, Soekarno tidak berjumpa dengan Karno Subiran. Ia pun mempertanyakan keberdaaan Karno dan akhirnya mengetahui bahwa dia di dalam penjara. Soekarno marah dan meminta tentara Belanda mengeluarkan Karno.

“Dia (Karno) dikeluarkan malam setelah salat Isya, lalu mereka bertemu berempat. Soekarno bertanya kepada Karno mengapa dimasukkan ke penjara, Karno menjawab karena ia menolak permintaan tentara belanda untuk meracuni Soekarno. Dan disitulah Soekarno bertanya, mengapa kamu tolak, Karno menjawab karena bapak adalah pemimpin saya. Disitu mereka menangis, dan Soekarno memeluk Karno,” urai Izam.

Usai pembicaraan itu, Soekarno pun menyampaikan amanah kepada Karno. Agar jika mereka bertiga meninggal di tanah Karo, amanah itu disampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Amanah itu, yakni agar menjalankan perintah dan amanah Allah, agar jangan mengambil hak orang lain.

“Kalau itu bukan milik kita sendiri, karena kemerdekaan bangsa Indonesia itu bukan karena harta, tapi karena berkat rahmat dan hidayah Allah dan itu sudah dicantumkan dalam UUD 1945. Dari kejujuran Karno Subiran inilah, Soekarno bisa berkomunikasi kembali kepada gerilyawan dan TNI,” imbuh Izam.

Dari sana, disusunlah rencana oleh para gerilyawan dan TNI untuk merebut Soekarno pada Januari 1949, tapi rencana itu diketahui tentara Belanda, Soekarno pun dibawa pindah ke Parapat pada 4 Januari 1949.

“Dan di rumah inilah Soekarno ditempatkan selama 2 bulan bersama kedua tokoh. Selama dua bulan aktifitas Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim dikawal ketat oleh tentara Belanda, tetapi setelah satu bulan, disitulah baru bisa berkomunikasi dengan gerilyawan Indonesia dengan tiga pelayan,” pungkas Izam.

Tulang Ayam dan Sayur Kangkung Menjadi Media Berkomunikasi

Tiga pelayan yang dipekerjakan di rumah di mana Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim diasingkan di Parapat, yakni Luddin Tindaon, Bukka Sinaga dan Hayat. Luddin Tindaon bertugas di dalam rumah, di luar rumah ada Bukka Sinaga dan Hayat sebagai juru masak.


Kursi rotan di lantai dua Pesanggrahan digunakan Soekarno untuk beristirahat sepanjang diasingkan. (Damai Mendrofa)

Izam yang mulai bertugas sejak 2013 di pesanggarahan itu menyebut, dari ketiga orang pekerja tersebutlah Soekarno akhirnya berhasil berkomunikasi dengan para gerilyawan. Media yang digunakan Soekarno, dengan memanfaatkan makanan yang ada, yakni tulang ayam dan sayur kangkung.

Diceritakan, setiap kali makan, Soekarno meminta agar Luddin Tindaon membawakannya daging paha ayam. Selesai makan, sisa tulang ayam itu dibersihkan dan dikeringkan. Di tulang tersebutlah, Soekarno menyisipkan surat untuk dibawa kepada para gerilyawan.

Begitu juga ketika Soekarno jalan-jalan diluar rumah. Ia meminta agar dibawakan sayur kangkung. Dari batang kangkung tersebutlah Soekarno menyisipkan surat untuk para pejuang.

“Dan disampaikan ke Bukka Sinaga, bahwa dari batang kangkung itu ada isinya surat. Itulah cara beliau berkomunikasi dengan gerilyawan di sini,” ucap Izam.

Hasil dari komunikasi antara para Soekarno dan pejuang, diutuslah pasukan Siliwangi untuk merebut Soekarno dan kedua tokoh bangsa pada Maret 1949.  Pasukan pun mengepung Parapat baik dari darat dan danau. Namun rencana penyerangan pun dibatalkan oleh Sutan Sjahrir yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Pembatalan, menyusul rencana pemindahan Soekarno ke Bangka.

“Kata Sutan Sjahrir, jangan bergerak dulu, karena kami mau dibawa pindah ke Bangka, akhirnya Soekarno dan kedua tokoh dibawa pindah, dan disitulah dijumpakan lagi dengan Hatta di Bunto. Beberapa bulan disana, barulah terjadi konferensi meja bundar di Denhag. Dari Indonesia diutus Bung Hatta dan dari Belanda Ratu Belanda, barulah disitu Belanda mengakui kedaulatan Indonesia,” pungkas Izam.

 

Arsitektur Pesanggrahan yang Unik dan Antik

Dibangun sejak 1820, rumah bergaya eropa yang menjadi tempat pengasihan Soekarno masih cukup terawat. Izam menyebut, untuk komponen bangunan rumah, 90 persen masih terjaga.

“Kalau bangunan, masih utuh 90 persen, kecuali di bagian luar yang dikeramik, di samping juga. Kalau meubel di dalam terbuat dari kayu jati dan kayu ulin,” kata Izam.

Rumah tersebut merupakan bangunan panggung. Bagian kolong dimanfaatkan sebagai tempat sirkulasi udara untuk mempertahankan suasana sejuk di dalam rumah. Kolong itu tidak tertutup sepenuhnya. Terdapat lobang berbentuk kotak dan ditutup dengan kawat.

Di pelataran rumah terdapat dua gajebo berukuran 4×4 meter. Satu di sisi kanan depan rumah dan satu lagi di sisi kiri rumah. Bertembok beton setinggi pinggang orang dewasa. Dari kedua gajebo, menyaksikan pemandangan danau yang memukau menjadi pilihan tepat.

Pesanggrahan terdiri dari dua lantai. Di lantai satu terdapat ruangan tamu berukuran sekitar 6×4 meter. Sementara terdapat tiga kamar di lantai ini. Sebelah kiri, merupakan kamar Soekarno. Di sisi kanan terdapat dua kamar lain, kamar pertama di bagian depan sebagai tempat Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim dan kamar bagian belakang ditempati tentara Belanda.

Untuk ke lantai dua kita menaiki tangga yang berputar. Di lantai dua terdapat ruangan tempat Soekarno beristirahat. Di ruangan tersebut terdapat satu set kursi dan meja dari Rotan. Sofa tersebut sering digunakan Soekarno.

Di ruangan itu juga terdapat lemari kaca yang juga disebut sudah ada sejak lama. Di dinding ruangan, dipajang sejumlah foto yang mengabadikan keberadaan Soekarno, Sutan Sjahrir dan KH Agus Salim selama pengasingan.

Di sana terdapat juga satu kamar panjang dimana terdapat 3 tempat tidur. Saat pengasingan Soekarno dan kedua tokoh, kamar itu digunakan sebagai tempat dokter dan tentara Belanda.

“Semua furniture di ruangan memang sudah diganti, tapi peletakannya tetap sama,” ungkap Izam.

Suasana pesanggrahan Soekarno malam hari. (Damai Mendrofa)

Meski banyak furnitur di dalam rumah berukuran 15×20 meter itu sudah berganti, sebagian diantaranya masih bertahan. Di antaranya kaca-kaca rumah baik di bagian pintu dan jendela. Kemudian lemari dan buffet duduk di belakang rumah yang masih utuh dan digunakan sampai hari ini. Tidak itu saja, instalasi listrik di rumah tersebut juga masih menggunakan yang lama.

Sejumlah sarana tambahan lain juga sudah dibangun. Yakni ruang makan di bagian belakang rumah, berlanjut musala dan toilet di sisi kiri belakang rumah, serta kanopi dari tiang besi di kanan rumah.

Pesanggrahan Diminta Sajikan Papan Informasi

Pesanggarahan Soekarno di Parapat bukan kabar baru bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Para pengunjung ke Pesanggrahan ini berasal dari berbagai daerah. Namun, untuk memasukinya tidak diberikan akses kepada sembarangan orang. Karenanya muncul harapan agar di Pesanggrahan tersebut pengunjung mendapatkan informasi lebih.

“Ya tentu ingin tahu juga apa-apa saja yang dilakukan Soekarno selama di Parapat, sebagai warga Indonesia, ini sejarah yang tinggi dan harus diketahui, apalagi generasi bangsa,” kata Juna Simanjuntak, warga asal Tarutung.

Juna mengaku tak keberatan jika tidak diperkenankan memasuki pesanggrahan. Karena itu ia berharap, ada fasilitas pendukung lain yang memberikan informasi kepada para pengunjung terkait sejarah di lokasi tersebut.

“Ya misalnya ada papan informasi di luar rumah, atau ada foto-foto suasana di dalam rumah, jadi kita yang berkunjung bisa membaca dan mengetahui, apalagi kan anak-anak muda sekarang, biar tahu mereka bagaimana dulu Soekarno ada di sini,” harap Juna.

 

Tinggalkan Balasan