Menghidupkan Budaya Dari Pesta Oang-Oang

Penulis dan Fotografer: Dinda Marley

DAIRI – Selepas subuh, saya bersama seorang teman di Medan menuju stasiun bus yang berada di Jalan Padang Bulan. Saya bahkan belum sempat sarapan, syukurnya sudah membawa seduhan kopi di termos kecil. Ditemani biskuit keju yang dibeli saat menunggu bus, kami membelah pagi menuju Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Sayup-sayup, dendang artis Tanah Karo mengiringi perjalanan saat melintasi Berastagi, Kabanjahe, Merek dan Sumbul. Tak lama, terlihat gapura selamat datang di Sidikalang. Ada tugu yang unik di dekat gapura itu, sayang catnya sudah luntur. Kami minta diturunkan di Stadion Baru Panji Sibura-bura, Kecamatan Sidikalang.

Rupanya, sudah ramai orang dan rombongan memadati lokasi. Berpakaian kebaya warna-warni dan bersanggul, para kaum hawa terlihat cantik dan glowing. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian adat suku Pakpak. Berpasang-pasangan, nyaris serba hitam-hitam. Mereka menjunjung hasil bumi dari kebun dan ladang: durian, petai, rambutan, beras, tebu merah, jeruk, nenas, manggis sampai ayam.

Memasuki halaman stadion, kendaraan yang parkir dikepung papan bunga ucapan selamat. Di pintu masuk, kami disambut Veryanto Sitohang, tokoh pemuda setempat yang sekarang menjabat Sub Komisi Partisipasi Masyarakat Komisi Nasional (Komnas ) Perempuan di Jakarta. Dia mengenakan kemeja batik merah marun dengan motif etnik.

Bang Very, begitu biasa dipanggil, langsung mengajak masuk dan mengambil tempat duduk. Untuk ukuran kabupaten, stadion ini menurut saya cukup baik dan kapasitasnya besar. Panggung berada di sejurusan mata memandang, kanan-kirinya tenda aneka warna berbaris bak punggawa. Di bawahnya duduk para tamu undangan dan para jemaat Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) seluruh Indonesia. Hari itu adalah Jubelium ke-25 GKPPD. Orang Pakpak merayakannya dengan menyebut Pesta Oang-oang.

Sebanyak 7.000 kursi yang disediakan panitia ludes, sampai dipesan 1.000 kursi lagi, begitu juga dengan makanan. Pukul 10.00 WIB, acara dimulai dengan ibadah. Baru beberapa menit berlangsung, tersiar kabar, ibadah di Gereja Khatolik Santo Yosep di Jalan Dr Mansyur Medan batal dilanjutkan akibat bom bunuh diri yang dilakukan seorang anak pemuda kepada pastor.

Panitia Pesta Oang-oang sempat panik kalau kabar tersebut akan membuat jemaat yang hadir ketakutan. Syukurlah, itu tidak terjadi. Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan defile, makan bersama, penyerahan cenderamata, lapihen simbadia oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LIA) dan launching penambahan buku ende GKPPD.

Bupati Dairi saat itu, KRA Johnni Sitohang Adinegoro dalam sambutannya mengatakan sangat senang atas terselenggaranya acara yang mengingatkan semua orang tentang beratnya perjuangan GKPPD awal berdiri. Dia bilang, ini semua berkat kasih Tuhan dan kuatnya persatuan jemaat, maka harus dirayakan.

“Hari ini kita harus bergembira merayakannya, menikmati semua sajian pesta dalam kebersamaan,” katanya bersemangat.

Bishop GKPPD Pendeta Elson Lingga berharap warga jemaatnya di mana pun berada bisa menikmati kesempatan ini. Supaya bersuka cita sebab selama 25 tahun Tuhan masih bersama mereka. Ke depan, semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan jemaat yang masih panjang.

Ketua Umum Panitia Depriwanto Sitohang mengatakan, Pesta Oang-oang Jubileum ke-25 GKPPD artinya pesta suka cita, pesta kegembiraan mencapai usia yang cukup. Tapi tidak sekadar pesta yang identik menjadi ajang pemborosan dan tak bermanfaat. Tujuan utamanya memuliakan nama Tuhan dan harus menjadi berkat bagi orang lain.

Makanya, rangkaian acara sudah dimulai sejak Mei lalu. Mulai dari pengobatan gratis, donor darah, kebersihan massal, jalan santai, festival koor dan lomba cipta lagu Phakpak. Dimeriahkan paduan suara dan penampilan artis-artis Pakpak.

“Kami ingin bersuka cita dan berbagi dalam banyak hal, bagaimana GKPPD menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada daerah sehingga nama Tuhan dimuliakan,” kata Sitohang.

Matahari makin tinggi, daerah yang terkenal sebagai penghasil kopi ini menjadi gerah. Waktunya makan siang, semua peserta yang hadir makan gratis, panitia memotong satu kerbau besar untuk disantap.

Veryanto menambahkan, pesta ini dihadiri hampir 10.000-an jemaat GKPPD se-Indonesia, tokoh-tokoh Dairi dan Sumut. Berbagai kegiatan budaya dan agama ditampilkan. Peserta yang hadir mengenakan pakaian adat Pakpak dan suku-suku lain sehingga Pesta Oang-oang menjadi karnaval budaya religius.

“Terima kasih buat semua pendukung, pesta ini sukses, semua orang tahu kita punya potensi dan banyak yang harus dibanggakan. Ayo terus bersama untuk lebih baik dan bermanfaat,” kata Very.

Sebelum pulang, kami diajak menyantap durian Sidikalang sambil minum kopi. Sebuahnya dihargai Rp 30.000. Isinya mantap tanpa busuk, hanya sedikit kurang masak. Saya mencari durian kancing, durian yang bijinya gepeng sebesar kancing dan rasanya agak pahit, ternyata sulit mendapatkannya.

Kekenyangan makan durian, acara ngopi langsung dibatalkan. Saya minta diantarkan ke Stasiun Datra, pulang ke Medan. Jadinya kopi dibawa buat oleh-oleh, ditambah seikat petai yang menggiurkan kalau dijadikan campuran sambal udang. Very mengajak kami berdua datang kembali karena ada pesta Njuah-Njuah.

“Ini pun mantap pestanya. Datanglah kalian nanti ya, biar tahu kalian budaya Pakpak. Biar makan durian sama ngopi lagi kita,” kata Very tersenyum.

Tiga tahun berlalu, saya hanya mendapat kabar Pesta Oang-oang terus dirayakan setiap tahun. Pada September 2019, dilansir dari situs pakpakbharatkab.go.id, Sekretaris Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Sahat Banurea yang membuka Pesta Budaya Oang-oang 2019 di Lapangan Napasengkut, Salak.

Sahat berharap, pesta ini membangun semangat dan antusias masyarakat. Dia mengajak seluruh elemen untuk berpartisipasi dan mendukung berbagai event budaya seperti Pesta Budaya Oang-oang. Disinggungnya nilai budaya daerah Pakpak yang berkompetisi di ajang nasional yaitu pelleng yang sedang dilombakan dalam kontes Ajang Pesona Indonesia(API).

“Mari kita dukung agar budaya kita dikenal sampai tingkat nasional,” ucap Sahat.

Seperti biasa, acara pesta diisi berbagai perlombaan di antaranya bela diri khas Pakpak ‘Moccak Pakpak’ dan memasak ‘pelleng’ yang merupakan makanan khas suku di ujung wilayah Sumut ini.

Tokoh masyarakat Jamida Banurea meminta di tahun-tahun selanjutnya, masyarakat dilibatkan dalam kepanitiaan.

“Pasti banyak yang datang… Tapi kami tetap mengucapkan terima kasih kepada pemerintah telah melaksanakan Pesta Oang-oang karena ini sebenarnya pesta rakyat,” katanya.

Pelaksana Tugas Bupati Pakpak Bharat saat itu, Asren Nasution mengatakan, pesta mampu memotivasi masyarakat khususnya para seniman, budayawan dan organisasi kesenian. Event ini merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pelestarian budaya daerah.

“Budaya sangat penting dalam memperkenalkan jati diri bangsa, khususnya jati diri etnis agar tidak tergerus globalisasi dan modernisasi. Melalui pesta budaya Oang-oang ini, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai wadah dari setiap perilaku kehidupan, khususnya bagi suku Pakpak kapan pun dan di mana pun berada,” kata Asren.

Dalam Calender of Event Danau Toba 2019 yang diluncurkan Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah di gedung Sapta Pesona pada 25 Februari 2019, menampilkan 17 acara, salah satunya adalah Pesta Budaya Oang-oang.

Tinggalkan Balasan