Romantisme Kelana Alam The Kaldera Toba Nomadic Escape

Authors: Narendra

Senja romantis. Menatap Danau Toba dari ketinggian 1.300 mdpl. Sambil menyeruput kopi yang diseduh sendiri pastinya. Kenikmatan yang hakiki.

Sesekali menarik nafas panjang. Menyesapi udara segar dan aroma pohon pinus yang menjulang tinggi. Kabut pun menyelimuti perbukitan yag ada di sekitar The Kaldera Toba Nomadic Escape. Destinasi wisata kembara yang dikembangkan Kementerian Pariwisata. Letaknya di Desa Sibisia, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (dulu Toba Samosir).

Dari kejauhan, beberapa kapal penumpang berlayar di danau. Ukurannya sangat kecil.

“Tuhan menghamparkan Danau Toba untuk dinikmati,” gumamku dalam hati.

Ungkapan itu sangat pantas disematkan untuk Danau Toba yang setiap sudutnya membuat mata terbelalak. Alam nan indah, spiritualitas dan kebudayaan yang sarat makna terhampar di tempat peradaban etnis Batak itu.

The Kaldera Toba Nomadic Escape menjadi salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar tujuan para traveller. Khususnya yang gandrung dengan aktifitas luar ruangan.

Destinasi ini mengusung konsep Glamping atau glamour camping. Konsep wisata kembara yang belakangan semakin populer dan akrab di kalangan traveler.

Tempat ini menjadi salah satu progres pembangunan kawasan wisata di Toba yang paling terlihat. Diusung oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT). Sudah rampung dan terus dikembangkan fasilitasnya.

Lokasi The Kaldera juga sangat strategis. Berada di bibir tebing dan langsung mengarah pada ngarai yang diujungnya terdapat Desa Sigapiton. Pemandangannya begitu aduhai.

Sesuai namanya, Desa Sigapiton diapit oeh dua bukit tinggi di kanan kirinya. Desa ini juga merupakan desa wisata yang digagas oleh Kementerian Pariwisata. Pengembangannya juga masif dilakukan.

Presiden Joko Widodo bersama sejumlah menteri yang berkunjung ke sana Juli 2019 lalu sempat terperangah melihat kondisi asrinya alam Toba. Saat itu, Jokowi juga ditemani Ibu Negara Iriana.

Jokowi dan Iriana pun sempat menunjukkan keromantisan mereka. Keduanya berdiri ditepian tebing. Menatap ke arah Sigapiton dan Danau Toba. Siang yang romantis antara Jokowi dan Iriana.

Suara shutter kamera pewarta foto pun beradu. Menjepret pose terbaik.

“Wisata (Danau Toba) komplit. Wisata air ada, alam ada, religi ada, kebudayaan ada.” Ujar Jokowi.

Saat itu juga, Jokowi menyampaikan, pembangunan kawasan Toba harus dikebut dari berbagai lini. Apalagi sudah banyak investor yang sangat berminat berinvestasi di Toba.

The Kaldera Toba Nomadic Escape menjadi tempat yang begitu eksotis. Tak kalah dengan keindahan beberapa destinasi wisata kembara di Indonesia. Diresmikan langsung oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata sebelum Wishnutama Kusubandio pada 4 April 2019.

Destinasi ini berdiri di atas lahan Zona Otorita Pariwisata Danau Toba seluas lebih dari dua hektare.

Sejuk. Itu kesan pertama yang dirasakan jika datang ke sana. Selama proses pembangunannya, lokasi ini tidak merusak hutan. Sangat sedikit pohon yang ditebang. Pinus-pinus yang menjulang tinggi dibiarkan tetap ada. Supaya tetap mempertahankan nuansa alam khas Toba. Bahkan ladang kopi yang ada di bagian tengah juga jadi pesona tersendiri. Tempat ini menjadi destinasi wisata kembara pertama di Sumatera Utara.

Pemandangan terbaik di The Kaldera Toba adalah saat cuaca sedang bening. Gugusan bukit dengan indahnya terpampang. Berpayung awan dan dibatasi Danau Toba yang indah.

Saat masuk ke dalam kawasan The Kaldera Toba Nomadic Escape kita merasakan betul bagaimana berada di alam liar yang dihiasi fasilitas mewah. Udara segar masih begitu terasa. Kicauan burung terdengar bersahutan dari pohon-pohon pinus.

Di dekat pintu masuk, tepatnya di bibir jurang, berdiri dua nomadic cabin yang disulap menjadi penginapan. Meskipun berukuran kecil, kabin tersebut tetap menyajikan sisi romantisnya. Dinding kacanya langsung menghadap ke arah danau. Terbayang jika kita terbangun di dalam kabin dan langsung menatap keindahan Toba.

Konsep Glamping memang sengaja dipilih. Lantaran, proses pembangunannya lebih cepat daripada membangun infrastruktur permanen. Misalnya seperti membangun amenitas sekelas hotel berbintang.

“Butuh waktu sampai 25 tahun untuk menjadikan Nusa Dua (Bali) sebagai tempat wisata internasional seperti sekarang. Kalau pakai cara lama, lima tahun pun saya yakin belum tentu terbangun,” kata Arief Yahya yang menjabat sebagai Menteri Pariwisata saat itu.a

Konsep wisata kembara juga dinilai sangat efektif untuk memikat wisatawan. Apalagi targetnya, Danau Toba harus menyedot 1 juta wisatawan mancanegara.

Selain fasilitas nomadic cabin, di tempat ini juga tersemat fasilitas yang tak kalah molek. Seperti 12 omadic bell tent (tenda besar berbentuk lonceng) dengan interior yang ciamik. Jadi konsep outdoor tetap terasa meski dengan fasilitas ala hotel berbintang.

Di sana juga terdapat satu buah nomadic bubble tent transparan. Bentuknya menyerupai bola besar. Dari tenda berbentuk bola itu, wisatawan bisa merasakan sensasi bermalam yang romantis. Menyaksikan gugusan bintang saat cuaca cerah. Selain itu ada nomadic ecopod yang terpacak di sisi kanan atas kawasan.

Suasana juga semakin keren dengan fasilitas lainnya. Ada amphitheater, kaldera plaza, kaldera stage dan kaldera hill, nomadic caravan park. Ditambah lagi camping ground yang disediakan untuk para backpacker. Mereka bisa membawa tenda sendiri.

The Kaldera Toba Nomadic Escape Tourism juga sangat cocok sebagai spot foto. Paling tidak menambah kerennay akun media sosial para traveller.

Akses menuju The Kaldera sangatlah mudah. Jaraknya hanya 20 menit berkendara dari Kota Wisata Parapat, Kabupaten Simalungun. Meskipun harus melintasi jalan berkelok khas perbukitan. Namun jalanannya sudah mulus.

Pemerintah juga sedang membangun kembali Bandara Sibisa. Lokasinya tak jauh dari The Kaldera Toba Nomadic. Hanya sekitar lima menit. Kelak bandara itu bisa didarati pesawat dan menjadi salah satu pintu masuk baru wisatwan ke Toba. Pembangunannya hingga kini terus digenjot. Mulai dari terminal hingga landasan yang diperpanjang jaraknya, sehingga bisa didarati oleh pesawat penumpang besar. Sedangkan dari Bandara Silangit wisatawan hanya menempuh sekitar dua jam perjalanan.

Tinggalkan Balasan