Rumah Abadi Bangso Batak

Ansori Sinaga, perajin abal-abal di Kabupaten Toba, Sumatra Utara. (Narendra)

Author: Narendra
Photographer: Narendra

Peradaban Bangso Batak lekat dengan berbagai ritual
Dari kelahiran hingga kematian punya makna sakral
Kematian punya nilai tersendiri
Disertai peradatan sarat filosofi

….

Ansori Sinaga tampak sibuk dengan peralatannya. Mendempul tempahan peti mati yang sudah dikerjakannya beberapa hari. Tinggal mendempul beberapa sisi yang sedikit berpori untuk kemudian dicat.

Sesekali dia memoles dempulan dengan tangannya. Memastikan permukaan kayu sudah rata dan halus. Sambil kembali mengaduk dempul yang diletakkan di tatakan.

“Ini dari kayu ungil bang. Pesanan orang kemarin. Sudah tiga hari ini dikerjakan,” ujar Ansori saat ditemui di meubelnya di Desa Aek Natolu, Pasar Lumban Julu, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatra Utara.

Kayu ungil memang sudah dikenal sejak era nenek moyang Batak. Sering digunakan untuk bahan membuat kapal. Lantaran ungil punya sifat yang kuat. Tahan terhadap sinar matahari langsung dan terpaan air hujan. Tidak cepat rusak atau pun lapuk. Para perajin kayu di kawasan Danau Toba pun mengenal betul kayu ungil.

Peti mati yang sedang digarap Ansori berbeda dengan yang sering terlihat pada umumnya. Bentuk penutupnya tidak datar. Etnis Batak menyebutnya dengan abal-abal.

“Kalau pembuatnya disebut parabal-abal,” kata laki-laki 27 tahun itu, dengan logat Batak yang kental.

Berbekal kemampuan pertukangan, Ansori menjadi perajin abal-abal sejak dia menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Toba.

Abal-abal yang dikerjakan oleh Ansori bentuknya menyerupai rumah adat Batak. Ujung atapnya lebih tinggi untuk bagian kepala. Ukurannya sekitar 2 x 0,8 meter. Bisa juga disesuaikan dengan ukuran orang yang akan disemayamkan.

Dua buah abal-abal hau sada yang menjadi koleksi Museum Nasional Sumatra Utara

Selain yang dikerjakan Ansori, ada yang berjenis hau sada. Dibuat menggunakan satu batang pohon utuh. Bentuknya seperti perahu. Menurut kepercayaan adat Batak, perahu tersebut yang akan membawa roh leluhur ke nirwana.

Bukanlah sederhana untuk membuat abal-abal. Bahkan Ansori yang sudah lama jadi perajin, hanya mendengar ceritanya saja. Abal-abal tidak menggunakan paku dalam pembuatannya. Antara penutup dan bilik jenazah hanya diikat menggunakan rotan.

Penelusuran soal abal-abal hau sada berlanjut ke gerai milik TH Gurning yang masih berada di Kabupaten Toba. Puluhan tahun menjadi perajin, bahkan Gurning sendiri tidak pernah membuatnya. Abal-abal yang dikerjakannya sama dengan yang dikerjakan oleh Ansori.

Hau sada memang sudah langka. Gurning dan Ansori pun kompak mengatakan jika hau Sada hanya pernah muncul sekali dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Tepatnya saat pengusaha asal Sumut, Sutan Raja Derianus Lungguk (DL) Sitorus meninggal dunia, 3 Agustus 2017. Ayah dari Sihar Sitorus itu meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Kota Medan.

Pengusaha perkebunan itu memang sudah menyiapkan rumah abadinya jauh hari. Dibuat dari satu kayu utuh dan dipenuhi gorga di setiap sisinya. Sangat mewah, karena memang harganya yang yang mencapai puluhan juta rupiah.

“Amang DL Sitorus yang terakhir pakai hau sada itu. Karena memang mencari kayunya saja sudah susah itu. Harus besar kayunya, supaya bisa jadi satu peti,” ujar Gurning.

Abal-abal yang tersusun di gerai milik Guning, Kabupaten Toba. (Narendra)

Dalam mitologi Batak, soal tukang menukang pun juga punya cerita sendiri. Alkisah Datu Gambut Nabolon dan istrinya Siboru Jongjong Anian Siboru Tibal Tudoson dianugerahi anak- anak kembar. Di antaranya bernama Sirat dan Uhir. Mereka berdua memiliki keahlian dalam bidang tenun kain ulos.

Kemudian, kembar lainnya adalah Si Aji Donda Hatahutan dan Siboru Sopak Panaluan. Aji Donda Hatahutan belajar menjadi seorang pande. Berkat kekuatan roh, dia punya keahlian untuk menghasilkan beragam jenis karya. Mulai dari membuat rumah bolon, gorga atau kerajinan lainnya.

Karena hal itulah, setiap masyarakat yang membutuhkan jasanya, selalu membuat ritual memohon pande. Ritual ini diadakan di atas tikar pandan dan kemudian disiapkan cawan berisi air bersih dan jeruk purut. Ditambah dupa kemenyan, tungku dan sesajian lainnya.

Pande dan pemohon jasa duduk di atas tikar. Mereka meminta berkah dari Mulajadi Na Bolon (sebutan untuk Sang Pencipta dalam kepercayaan Batak). Setelah ritual, mereka kemudian mulai melakukan pekerjaannya. Mulai dari memilih bahan dan membuatnya  hingga rampung.

Begitu juga saat membuat abal-abal, ritual yang dilakukan merujuk pada mitologi tersebut. Setelah bersepakat, pande akan diberangkatkan dengan ritual untuk mencari kayu di hutan. Ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada para pande yang punya berbagai macam keahlian.

Biasanya dipakai kayu dari pohon keras yang bergetah untuk membuat abal-abal. Seperti nangka, hariara atau beringin, jati dan lainnya. Bukan tanpa alasan kayu-kayu bergetah seperti nangka yang dipilih untuk membuat abal-abal. Pohon ini punya makna sendiri di kehidupan orang Batak.

Karena berbahan kayu keras, proses pembuatan hau sada memakan waktu lama. Kayu harus direndam di dalam air yang sudah dilarutkan pengawet. Supaya hau sada tidak lekas dimakan rayap.

Setelah abal-abal itu jadi, orangtua yang akan menempatinya sering masuk ke dalamnya. Kemudian diadakan ritual andung-andung. Ini adalah tradisi bertutur dengan mendendang.

Andung-andung itu kan cerita yang disampaikan dengan mendendang. Jadi ekspresi kesedihan ada di sana. Jadi dia menuturkan itu susah hatinya meninggalkan keluarga. Jadi dia coba masuk ke abal-abal itu, disuruhnya sanak keluarga, kerabat itu mangandungi dia,” ujar Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas Nomensen Manguji Nababan.

Dalam kepercayaan Batak, andung-andung itu nantinya akan abadi dibawa ke alam baka. Jadi satu pesan pengingat untuk almarhum kelak di akhirat.

Andung-andung tidak seperti berbicara biasa. Ada istilah hatani andung yang menjadi bahasa khasnya. Biasanya memakai bahasa yang lebih santun. Bahkan untuk menyebut sesuatu sering menggunakan perumpamaan.

Kata Manguji, jika abal-abal terus dilestarikan maka akan menghidupi tradisi lainnya. Salah satunya andung-andung tersebut. Memang diakui, tradisi andung-andung ini mulai pudar.

“Makna andung-andung itu mendalam. Ritual ini menghidupi tradisi,” ujarnya.

Dua buah abal-abal hau sada yang menjadi koleksi Museum Nasional Sumatra Utara. (Fit Hartoyo)

Tokoh Adat Batak Monang Naipospos menjelaskan, sejatinya abal-abal tidak memiliki ukiran yang banyak. Hanya disematkan ukiran berbentuk wajah, di bagian kepala peti.

“Di bagian kepalanya itu namanya ulu gurdong,” ujar Monang.

Tidak hanya abal-abal, kata Monang, rumah abadi bagi Bangso Batak ada beberapa jenis. Ada yang disebut batang, yang bentuknya sangat sederhana. Biasanya dibuat dari pohon enau. Kemudian ada parmualmualon yang biasanya disiapkan beberapa hari sebelum meninggal.

Masing-masing jenisnya pun butuh persyaratan berbeda untuk orang yang akan disemayamkan. Abal-abal hau sada sudah sangat jarang saat ini. Selain mahal harga pembuatannya, bahan baku berupa satu pohon besar yang utuh juga sudah sangat susah.

Tidak hanya abal-abal, rumah abadi yang derajatnya paling tinggi adalah keranda batu (kuburan batu) atau batu napir. “Sarkofagus itu orang dulu yang pakai. Jumlahnya bisa dihitung,” ujar Monang yang juga tokoh Parmalim.

.Sarkofagus Etnis Batak. (Sumber: Monang Naipospos)

Bisa dimakamkan dalam batu napir adalah kehormatan tertinggi bagi orang Batak. Semasa hidup, batu tersebut sudah dibangun dan disaksikan sebelum meninggal dunia. Schereiner (1994) melaporkan bahwa peti mayat batu sebagian besar tersebar di pulau Samosir bagian Selatan dan Pantai Barat Danau Toba.

 

**

Sakralnya kematian bagi orang Batak

Kematian punya makna penting bagi orang Batak. Selalu ada ritual yang menyertainya. Dalam adat, kematian seseorang juga ditentukan dengan status. Ini juga menentukan bagaimana ritual yang dilakukan untuk melepas kepergian orang yang meninggal.

Dari berbagai literasi, Batak membagi banyak sebutan untuk kematian. Pembagiannya ke dalam status saat meninggal. Kategorinya, meninggal sebelum menikah dan sesudah menikah.

Untuk yang belum menikah ada lima status kematian. Dimulai dari mate di bortian yang berarti meninggal di dalam kandungan. Kemudian mate poso-poso yang berarti meninggal saat masih bayi. Lalu mate dakdanak yang artinya meninggal saat anak-anak, mate bulung yang berarti meninggal masih remaja dan mate ponggol yang berarti meninggal ketika sudah dianggap dewasa namun belum menikah sehingga garis keturunannya terputus.

Sedangkan untuk orang yang sudah menikah, Batak membaginya ke dalam tujuh klasifikasi. Mulai dari mate punu atau meninggal ketika sudah berkeluarga tetapi belum memiliki keturunan. Lalu mate mangkar yang artinya meninggal setelah memiliki anak yang belum berumah tangga, mate hatungganeon yang berarti meninggal dan belum memiliki cucu meskipun anaknya sudah menikah.

Kemudian mate sari matua, berarti meninggal sudah memiliki anak yang sudah menikah baik sudah memberikan cucu atau belum. Ada lagi meninggal saur matua. Status kematian yang paling didambakan oleh etnis Batak. Lantaran meninggal dalam keadaan sudah memiliki pahompu atau cucu dari seluruh anaknya.

Lalu meninggal dalam keadaan saur matua bulung. Mirip dengan saur matua. Namun dalam status ini seluruh cucu yang sudah punya keturunan juga alias sudah punya cicit. Dalam istilah Batak dikenal dengan marnini marnono.

Terakhir dikenal dengan status saur matua mauli bulung. Status yang paling kompleks karena mengisyaratkan sudah marnini-marnono dan belum ada keturunannya yang meninggal mendahuluinya. Ini adalah status kematian yang dianggap paling tinggi, paling mulia dan sekaligus langka ditemukan di masa sekarang.

Lantas siapa yang bisa menggunakan hau sada sebagai rumah abadinya? Hanya yang berstatus saur matua atau yang lebih tinggi yang bisa disemayamkan ke dalamnya. Apalagi yang sudah memenuhi falsafah 3H. Hamoraon, hagabeon dan hasangapon.

Hamoraon secara sederhana diartikan dengan seseorang yang sejahtera atau memiliki kekayaan harta. Hasangapon didefinisikan dengan seseorang yang terhormat, punya status sosial yang tinggi. Terakhir, hagabeon yang diartikan sudah beranak cucu. Tidak sedikit orang Batak yang bekerja keras untuk mencapai 3H. Falsafah 3H ini sampai sekarang masih diturunkan kepada anak-anak sebagai motifasi dan cita-cita kehidupan.

Prasyarat ini juga yang membuat tidak semua orang Batak bisa memakai abal-abal. Selain karena proses pembuatannya sulit dan harganya yang mahal.

Seorang perajin tengah mengerjakan abal-abal di gerai milik TH Gurning. (Narendra)

Setiap status kematian punya ritual adat yang berbeda. Bahkan, ada juga yang tidak diadati. Salah satunya jika orang yang meninggal dengan cara bunuh diri.

Dalam kebudayaan Batak, juga tidak sembarangan menempatkan makam orang yang meninggal. Jika masih berusia muda dan belum memiliki keturunan, biasa letak makam berada di pinggir. Jika yang meninggal memiliki anak, makamnya akan dimuliakan kelak. Dibangun dengan megah.

“Diwaktu muda dia meninggal dan anak-anaknya masih kecil, pelayanan penguburannya itu sederhana. Kuburanya pun sederhana. Tapi dia nanti anaknya ini sudah menikah dan punya anak Jadi dia punya cucu, kuburannya dinaikkan dan ditingkatkan. Dibuatlah acara adat Manuan Oppu oppu. Dalam acara itu, bisa dibikin ritual lebih besar. Seperti halnya adat sari matua. Jadi ada yang memuliakan dia,” ujar Monang.

Jika orang yang meninggal sudah mememenuhi syarat saur matua dan sudah memilliki abal-abal, bakal diberangkatkan dengan ritual yang panjang. Bahkan bisa sampai berhari-hari hingga akhirnya dimakamkan. Upacara adatnya dibikin penuh.

Dalam rangkaian upacara itu terselip harapan ritual penguburan mendapat restu dari Debata Mulajadi Na Bolon dan leluhur. Termasuk untuk keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini juga bermakna sebagai media silaturahmi antar keluarga yang selama ini terpisah karena tinggal di perantauan.

“Adat itu juga merupakan pengakuan bahwa keturunannya sudah memperlakukan orangtua dengan baik. Jadi dia pantas mendapat berkah dari Tuhan karena sudah menghormati orangtuanya. Pesannya itu sederhana. Bagaimana kita memuliakan orangtua,” pungkasnya.

Tradisi kematian yang sarat makna ini hanya bagian kecil kebudayaan yang dimiliki Bangso Batak. Membahas soal makna kematian bagi etnis Batak dari berbagai perspektif menghasilkan diskursus menarik. Tidak juga harus menjadi hal yang harus dipertentangkan. Setiap etnis punya adat. Biarlah menjadi kearifan bagi kemajemukan budaya saat ini. Harus dijaga dan dilestarikan supaya tidak punah dimakan zaman.

 

Tinggalkan Balasan