Rumah Bolon Purba, Istana Para Raja

Penulis dan Fotografer: Damai Mendrofa

 

Rumah Bolon di Istana Pematang Purba di Desa Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. (Damai Mendrofa)

 

“Selamat Datang di Desa Adat Rumah Bolon Pematang Purba”

Begitu tertulis atas gerban.  Gerbang ini sekaligus membawa orang yang datang seperti masuk ke era kerajaan. Kejayaan Rumah Bolon masih terlihat dengan peninggalannya.

Gerbang itu dibangun 10 meter dari pertigaan masuk yang terletak di Desa Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Dari gerbang itu sejarak 150 meter melintasi rumah penduduk yang sedikit, terdapat sarana parkir yang cukup luas. Di situlah pintu masuk menuju istana itu.

Tempat ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di sini terdapat Rumah Bolon, istananya para Raja-raja Purba. Sudah dibangun sarana pendukung. Di bagian depan, terdapat tembok setinggi 1,5 meter dengan lukisan timbul, pintu  dari besi, rumah jaga, kios, toilet dan gerbang di sisi kiri tembok yang dapat dilintasi kendaraan seukuran roda empat.

Sarma Halim Purba, pria berusia 31 tahun, penanggungjawab sekaligus pemandu tinggal di rumah jaga yang dibangun di bagian depan kompleks istana. Ia juga keturunan Raja Purba di garis keturunan Ke-16. Ketika ditemui, ia berjaga-jaga dekat pintu. Berkenalan lalu menyilakan masuk. Jalan bermaterial beton jadi penuntun menuju tangga menurun. Di kiri-kanan jalan beragam pohon tumbuh rimbun.

Istana Pematang Purba memang layak disebut tempatnya para raja. Kesan kompleksitas istana dalam nuansa klasik terdapat di dalamnya, bahkan sebelum memasuki kompleks. Ada terowongan dengan panjang sekitar 10 meter, tinggi 2 meter, lebar 1,8 meter. Dinding terowongan memiliki ketebalan variatif antara 50 centimeter hingga 80 centimeter. Bagian atasnya melingkar berbentuk kubah.

 

Dahulu ketika raja-raja berkuasa, terowongan ini satu-satunya akses menuju Istana. Saat ini, terowongan sudah dipoles dengan plester semen dan di sisi bagian dalam di cat dengan warna putih

Rumah Bolon di Istana Pematang Purba di Desa Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. (Damai Mendrofa)

 

Tak ada lampu di terowongan ini. Sumber penerangan hanya berasal dari cahaya di dua sisi pintu. Di tengah terowongan terdapat patung terbuat dari semen dan menjorok ke dalam dinding. Karena gelap, patung di tengah terowongan sepintas tak akan terlihat.

Patung itu berjenggot dan duduk bersila. Di lengannya terdapat gelang. Mengenakan Gotong atau penutup kepala pria dalam adat Simalungun, serta mengenakan ulos yang terselempang ke sisi kiri.

“Ini patung penjaga pintu bermarga Purba. Disebut Pangulu Pittu. Dulunya di terowongan ini ada penjaga yang bergantian,” kata Sarma.

 

Delapan Bangunan

Keluar dari terowongan, kesan istana kerajaan kembali terhampar. Terletak di areal seluas 20 ribu meter persegi. Di kelilingi jurang dan lembah. Di sekeliling jurang tumbuh rumpun-rumpun bambu. Batangnya menjulang bergesekan seirama angin.

Di kompleks istana terdapat 8 koleksi bangunan yang berdiri secara terpisah. Setiap bangunan memiliki penamaan dan fungsi yang berbeda. Bangunan itu, yakni Rumah Bolon, Balei Bolon, Pattangan Raja, Pattangan Permaisuri, Jambur, Balei Buttu, Jabu Jingga dan Losung.

Balei Buttu merupakan bangunan pertama yang ditemui usai melintasi terowongan. Bangunan ini sebagai tempat prajurit atau pasukan pengawal kerajaan sekaligus sebagai pos penjagaan. Berbentuk persegi empat dengan atap dari ijuk, berukuran panjang 4,85 meter, lebar 4,13 meter dan tinggi 4,5 meter.

“Di sinilah para penjaga tinggal sembari memantau,” kata Sarma.

Di sisi kanan, terpisah dari istana terdapat Jabu Jungga yang merupakan tempat tinggal keluarga panglima kerajaan. Bangunan berukuran panjang 4,4 meter, lebar 4,2 meter dan tinggi 4,5 meter. Pada tahun 2018 bangunan ini pernah terbakar. Oleh Pemkab Simalungun, pada tahun 2019 lalu bangunan ini kembali diperbaiki, termasuk ruang atau kamar tempat panglima.

Di bagian depan istana terdapat juga bangunan bernama Losung. Bangunan ini berbentuk panggung dan tidak berdinding dengan panjang 8,5 meter, lebar 4,85 meter dan tinggi 5 meter. Losung merupakan tempat menumbuk padi yang biasanya dilakukan para gadis. Terdapat dua Losung masing-masing dengan 12 lubang untuk menumbuk padi. Sementara terdapat 24 kayu panjang sebagai alat penumbuk.

Pattangan Raja

Bangunan kecil berukuran panjang 2 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 3 meter itu terletak tepat di depan Rumah Bolon, menjadi tempat peristirahatan para Raja. Bangunan ini berlantai dua, dinding ruangan lantai atas terbuat dari anyaman bambu.

Ornamen Bohi-bohi. (Damai Mendrofa)

Di kanan Rumah Bolon terdapat Pattangan Puang Bolon, yang mirip dengan Pattangan Raja. Bangunan ini berukuran panjang 2,5 meter, lebar 1,67 meter dan tinggi 3,5 meter. Pattangan Puang Bolon memiliki kombinasi warna hitam dan putih berselang seling.

Di bagian atas terdapat ruangan terbuka yang digunakan sebagai tempat permaisuri menyimpan alat-alat tenunnya.

“Dulu, Puang Bolon selalu menyuruh anak-anak untuk mengambil alat tenunnya, jadi waktu itu tidak ada orang yang tahu, apa isi dari ruangan di lantai dua itu,” kata Sarma.

 

Hukuman Menjilat Tiang

Di masa kejayaan, Kerajaan Purba memiliki aturan yang tegas, termasuk pemberian hukuman. Itulah alasan didirikan sebuah bangunan bernama Balei Bolon. Bangunan ini berfungsi sebagai ruangan rapat dan tempat pengadilan. Berdiri sepanjang 13,32 meter, lebar 6 meter dan tinggi 5 meter.

Seperti peruntukannya, bangunan ini terdiri dari sejumlah sarana. Di antaranya tiang utama di ruang tengah yang disebut nagger atau basiha bolon. Tiang ini berfungsi sebagai tiang pengadilan atau tiang hukuman bagi masyarakat yang melakukan kesalahan. Pengadilan dilakukan dengan memerintahkan orang yang bersalah menjilat tiang nagger.

Balei Bolon memang unik dan sarat ornamen. Di antaranya di bagian atap terdapat miniatur bangunan yang disebut Urung Manik yang dihias dengan Pinar Uluni Horbou, menyerupai kepala kerbau yang dibentuk dari ijuk dengan tanduk kerbau asli.

Bangunan lainnya yakni Jambur. Bangunan ini terletak berdekatan dengan Pattangan Raja. Jambur berfungsi sebagai tempat tamu para raja yang tidak sempat pulang. Selain tempat tamu, Jambur juga berfungsi sebagai tempat kuda dan tempat tinggal para penjaganya.

Bangunan utama di kompleks ini adalah Rumah Bolon tempat raja bernaung. Bangunan ini berukuran panjang 29,44 meter, lebar 7 meter dan tinggi 5 meter. Bangunan didominasi warna cokelat dan divariasi warna putih. Rumah Bolon tidak memiliki jendela, namun dilengkapi jeruji-jeruji kayu sebagai sirkulasi udara keluar.

Terdapat dua ruangan di Rumah Bolon. Ruang depan sebagai ruangan Raja yang disebut Lopo. Ruangan ini ditopang tiang-tiang penyangga dengan balok-balok besar.

Ruangan kedua berada di belakang. Ruangan ini tempat permaisuri dan keluarganya, karenanya berukuran lebih besar dibanding ruangan depan. Ruangan ini ditopang sebanyak 20 tiang besar.

Di bagian depan rumah terdapat beranda dua tingkat. Beranda ini sebagai tempat para pengawal raja. Masuk ke Rumah Bolon harus melalui Sembilan anak tangga. Terdapat rotan panjang yang digantung di tengah anak tangga. Rotan itu untuk membantu menaiki tangga.

Pinar Uluni Horbou, hiasan menyerupai kepala kerbau yang dibentuk dari ijuk dengan tanduk kerbau asli di atap depan Rumah Bolon. (Damai Mendrofa)

Setiap sudut Rumah Bolon terdapat Bohi-bohi atau bentuk wajah manusia, yang melambangkan keramah-tamanahan, kewaspadaan dan penangkal roh jahat. Pada bubungan terdapat Pinar Uluni Horbou yang melambangkan kebesaran, keberanian serta menangkal roh jahat. Sementara di bagian belakang ditutup dengan Halipkip yaitu motif hias bunga bongbong yang melambangkan kerapian dan ketentraman.

Saat dikunjungi, Rumah Bolon sedang terkunci, dan kondisi di dalam hanya bisa disaksikan dari antara jeruji-jeruji kayu. Sarma menyebutkan, di dalam masih terdapat 14 kepala kerbau yang melambangkan ke-14 raja. Terdapat pula Ogung dan Gondang serta 12 tataring atau tempat masak.

Ornamen-ornamen memenuhi Rumah Bolon dengan beragam motif yang didominasi bentuk binatang dan tumbuhan. Beragam ornamen itu sarat makna dan pesan dalam kehidupan.

Di istana ini, semua bangunan didirikan terinspirasi dari bentuk kerbau. Hewan yang dilambangkan sebagai kekuatan, kokoh dan pekerja keras, bisa membantu dan tahan di segala medan. “Nah di dalam rumah bolon itu ada 14 tanduk kerbau, satu tanduk melambangkan satu raja,” kata Umar.

 

Empat Belas Raja

Rumah Bolon Purba menjadi singgasana 14 raja turun temurun. Raja pertama Tuan Pangultop-ultop berkuasa sejak 1624-1648, Kedua Tuan Radjinman berkuasa 1648-1669, , Ketiga Tuan Nanggaraja berkuasa 1670-1692, Keempat Tuan Batiran berkuasa 1692-1717, Kelima Tuan Bakkaradja berkuasa 1718-1738, Keenam Tuan Baringin berkuasa 1738-1769, Ketujuh Tuan Bona Batu berkuasa antara 1769-1780.

Berlanjut raja Kedelapan Tuan Radja Ulan yang berkuasa 1781-1796, Kesembilan Tuan Atian berkuasa 1800-1825, Kesepuluh Tuan Horma Bulan berkuasa 1826-1856, Kesebelas Tuan Raondop berkuasa 1856-1886, Kedua Belas Tuan Rahalim berkuasa 1886-1921, Ketiga Belas Tuan Karel Tandjung berkuasa 1921-1931 dan Keempat Belas Tuan Mogang tahun 1933 hingga 1947.

“Raja yang dikubur di istana ini hanya lima, raja pertama, kesembilan, ke-10, ke-11 dan ke-12, kalau raja ke-14 hanya berbentuk patung,” ujar Umar.

Tugu yang berdiri di makam Tuan Pangultop-ultop, raja pertama di Istana Pematang Purba. (Damai Mendrofa)

Para raja yang sering menjadi kisah cerita dari Istana ini di antaranya, yakni Raja Pertama Tuan Pangultop-ultop yang menjadi ihwal awal berdirinya kerajaan.

Raja ke-12 Tuan Rahalim yang terkenal karena memiliki 24 istri dan raja ke-14 Tuan Mogang Purba, yang diketahui mati dibunuh rakyat semasa berlangsungnya revolusi sosial dan hingga kini tidak diketahui makamnya.

Magis, Ilmu dan Mitologi

Kini kompleks istana lebih sering sepi. Yang sering datang hanya anak-anak muda lokal atau keluarga yang ingin berziarah. Jika sore menjelang malam tiba, tidak akan ada lagi yang berani masuk.

“Kalau aku ya berani. Gimana ya, aneh saja perasaan, kalau sendiri siang hari, istirahat, tidur-tidur, sering terdengar ada suara dari rumah bolon, seperti orang jalan. Kalau malam sering juga terdengar seperti orang berjalan, kadang tercium aroma wangi-wangi bunga,” ujar Sarma.

Urung Manik, miniatur bangunan yang terdapat di atap Balei Bolon. (Damai Mendrofa)

Nuansa magis yang dirasakan dan mitos di kompleks istana juga diceritakan tokoh muda Simalungun Sarmuliadin Sinaga ketika ditemui di Tiga Runggu. Ketua HIMAPSI periode 2011-2014 menuturkan mitos keberadaan tempat mandi raja yang terletak tak jauh dari kompleks istana. Sayang saat ini pemandian itu sudah tertutup hutan.

“Tempat pemaindian raja berupa air pancur dan airnya dipercaya bisa dijadikan sebagai obat,” ujar Sarmuliadin.

Mitologi lain, sambung Sekretaris Humas dan Informasi Partuha Maujana Simalungun (PMS) ini yakni keberadaan kera di hutan yang mengelilingi kompleks istana. Saat tertentu, termasuk jika berlangsung acara di dalam kompleks, kera-kera itu akan berdatangan.

“Monyet itu jadi-jadian, dari para penjaganya. Sering kalau bikin acara, mereka datang atau kalau bulan purnama, monyet-monyet itu berdatangan,” ucapnya.

Tokoh PMS lainnya, J Usdek Purba menuturkan, hal-hal gaib memang dipercaya sejak lama di tanah Purba. Termasuk ihwal awal berdirinya Kerajaan Purba di masa Tuan Raja Pangultop-ultop. Yakni, kisah tanah satu genggam dan air dalam satu kendi yang dibawa Pangultop-ultop dari Pakpak Dairi ke tanah purba.

“Beliau sudah menguasai teknologi pertanian dan bercocok tanam di masanya. Masyarakat akhirnya kagum, dan pada satu titik masa, diadakanlah pemilihan dan diajukanlah dia sebagai raja,” kata Usdek.

Padahal, masyarakat pribumi saat itu menyebut dia sebagai pendatang: Purba dari Pakpak. Berangkat dari kebiasaan masyarakat yang akrab dengan Marbija atau sumpah untuk menguji kebohongan, akhirnya Pangultop-ultop pun diminta mengangkat sumpah bahwa tanah dan air di situ adalah tanah airnya.

“Kalau dia berbohong ini tanah airnya, dia akan mati dan air yang diminumnya bukan airnya, dia akan mati. Tapi dia bersumpah bahwa tanah yang ia duduki adalah tanahnya, dibikinlah tanah itu di bawah pantatnya, dan air yang dia bawa dia minum, dia tidak terkena sumpah, maka sahlah dia diangkat jadi Raja, dan itu Purba Pakpak, padahal sebelumnya di sini tidak ada Purba Pakpak,” urai Usdek.

Kisah lain, sambung Usdek, tentang Purba Siboro yang disebut memiliki ilmu dan karenanya diangkat menjadi Raja Gora di Istana Purba. Kesaktian Siboro ini disebut luar biasa karena mampu menghilang dan menyumpit dengan jitu.

“Maka oppung kami ditempatkanlah dia sebagai raja Gora, raja sekaligus berilmu, panglima perang dan mampu membentengi. Di situ lah Purba Pakpak sebagai Raja dan Purba Gora sebagai Raja pendamping dan itulah kerajaan Purba itu meluas dan menjalin kerjasama dengan raja-raja yang lain,” ungkapnya.

Losung, bangunan tempat menumbuk padi di Istana Pematang Purba. (Damai Mendrofa)

Soal mitos Kera-kera yang menjadi penjaga istana, tak dibantah Usdek. Menurut dia, itu bisa saja terjadi karena kemampuan leluhurnya yang memang sakti. Diceritakan Usdek, ia memiliki oppung di Purba Tonga, yang semasa hidup mampu mengusir ayam dengan tongkol jagung.

“Kalau jagung dia bisa buat begitu, konon kera, bisa diatur. Jadi kalau ada cerita rakyat seperti itu, ya bisa, dan banyak cerita rakyat lain tentang Istana Rumah Bolon,” kata Usdek.

 

Saat Ini Kondisi Rumah Bolon Memprihatinkan

Sarma yang bekerja sebagai honorer di Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun menuturkan, Rumah Bolon sudah lama tidak digunakan, meskipun untuk acara-acara adat atau perkumpulan marga Purba. Kondisi bangunan itu kini memprihatinkan, terlihat dari hampir keseluruhan komponen bangunan. Rumah itu saat ini juga dikunci.

Atap ditumbuhi rumput, dinding dari bambu yang sudah mulai lapuk. Di sisi tiang penyangga ruang belakang juga dimakan usia, meski sudah pernah diganti. Saat ini terdapat besi baja yang digunakan sementara untuk menopang rumah.

“Renovasi terakhir dilakukan tahun 2019, terhadap bangunan Losung dan Balei Buttu. Kalau Rumah Bolon, membuat besinya (penyangga rumah). Rencana (renovasi) selalu ada, terlaksananya belum tahu kapan,” ungkap Sarma.

Padahal kunjungan wisatawan mancanegara ke rumah bolon disebutkan cukup tinggi, tentu sebelum pandemik COVID-19. Sarma menuturkan, setiap hari ada saja wisatawan yang datang. Jumlahnya mencapai 30 hingga 50 orang.

“Ini termasuk rute wajib wisatawan mancanegara, Belanda, Jerman dan Prancis, ya kebanyakan dari Eropa,” imbuhnya.

Tiang-tiang penyangga Rumah Bolon yang sudah lapuk dan kini sementara diganti dengan penyangga besi. (Damai Mendrofa)

Keprihatinan ditimpali Sarmuliadin yang menyebut upaya menjaga Rumah Bolon harus dilakukan sesegera mungkin. Dia bahkan memprediksi, jika perbaikan tidak dilakukan, paling lama 10 tahun mendatang rumah itu akan rubuh.

“ Jadi butuh kerja sama dan negara kita minta agar hadir,” ujarnya.

Seingat Sarmuliadin yang sejak masa kecilnya berada di Kecamatan Purba, rumah adat itu pernah menjadi pusat berbagai kegiatan, mulai dari pameran adat budaya atau pesta-pesta adat. Sayangnya itu kini tidak lagi terjadi. Sarmuliadin mengibaratkan Rumah Bolon seibarat gudang.

“Jadi kami berharap dapat dikembalikan fungsinya, rumah bolon itu kan rumah besar, semua bisa berparitisipasi, manortor, kuliner. Tidak bisa diberikan kepada ahli waris, karena ada ribuan ahli waris, jadi hanya negara (pemerintah) yang bisa hadir,” katanya.

 

Pengelana yang Menjadi Raja

Sejarawan Universitas Negeri Medan Erond Litno Damanik menyebutkan, di masyarakat saat ini sejarah Kerajaan Purba erat dengan kisah rakyat dan mitos-mitos. Efeknya memang akan memunculkan beragam pendapat subjektif.

“Itu efek dari belum adanya tulisan terstandar tentang Kerajaan Purba itu,” kata Erond.

Di kacamata akademi, Erond mengaku melakukan kajian dengan beragam pendekatan, sejarah, folklore dan arkeologi. Dari ketiga pendekatan itu, ia menyimpulkan raja pertama di Pematang Purba bergelar Pangultop-ultop, seorang pengelana yang pekerjaannya berburu dan berasal dari Pakpak.

Pangultop-ultop berburu dengan menggunakan sumpit. Biasanya dia berjalan ke hutan dan jauh, dan kadang tidak pulang karena berburu. Suatu waktu dia mendapatkan buruan seekor burung yang di temboloknya terdapat padi. Sang pemburu pun membakar burung itu, makanan di temboloknya pun dibuang.

“Lama-lama kotoran yang dibuang jadi tumbuh padi dan dalam jangka waktu lama dia pulang dan pergi, dan padi itu semakin besar dan berbuah. Di situ lah pada awalnya, di desa dimana ada Rumah Bolon itu awalnya sebagai salah satu tempat beristirahat. Lama kelamaan dia menjadi orang besar, dan menonjol di masyarakat, muncul dia menjadi kepala marga dan memimpin masyarakat tradisional, itu yang sebenarnya,” kata Erond.

Pangultop-ultop akhirnya memiliki empat keturunan, masing-masing mendirikan kerajaan. Yakni Girsang di Silimakuta, Tambak di Dolok Silau, Dasuha di Panei Tongah, dan Pakpak di Pematang Purba yang berkuasa hingga 14 raja.

Tuan Mogang, Raja Terakhir Berpendidikan Tinggi

Kerajaan Purba bernasib sama dengan kerajaan-kerajaan lain di berbagai wilayah Indonesia. Gejolak sosial yang mulai terjadi di masa peralihan pendudukan Belanda ke Jepang sejak 1942 dan puncaknya terjadi revolusi sosial pada tanggal 4 Maret tahun 1946 menyetop kekuasaan para raja dan bangsawan.

Kemarahan masyarakat terhadap para raja dipicu agitasi dan propaganda atas keinginan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sementara, para raja dan bangsawan mendapatkan hak-hak istimewa dari Belanda. Para raja menolak proklamasi karena terancam akan kehilangan hak-hak istimewanya. Ini yang memicu kemarahan masyarakat.

“Di Melayu, Sultan itu sebagai pembesar Belanda, dibangunkan istana, diberi gaji, baju, dan kemewahan. Di Simalungun juga seperti itu, hanya keturunan raja yang bisa bersekolah,” ungkap Erond.

Di kerajaan Purba sendiri, era revolusi sosial itu terjadi ketika raja keempat belas berkuasa, yakni Tuan Mogang Purba. Satu-satunya raja yang diketahui berpendidikan tinggi dan lulusan sekolah di Belanda. Namun Tuan Mogang tidak tertangkap saat berlangsungnya revolusi 4 Maret, melainkan tertangkap di Bulan Juli.

“Kalau gak salah di Bulan Juli ditangkap, dia ditangkap di Haranggaol,” ungkap Erond.

Ditargetkan Menjadi Cagar Budaya Tingkat Provinsi

Erond mengaku ikut prihatin dengan kondisi Rumah Bolon di Pematang Purba. Padahal Rumah Bolon tersebutlah yang masih bertahan di antara 7 kerajaan eksis di Simalungun. Karena itu ia menegaskan dibutuhkan kepedulian bersama lintas pihak, baik pemerintah, swasta dan para tokoh.

“Itu lah leaving monument dari orang Simalungun tentang rumah adatnya,” ucap Erond.

Saat ini Erond mengaku masih memperjuangkan Rumah Bolon tersebut agar menjadi cagar budaya tingkat provinsi, berdasarkan Undang-undang Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010. Dia menargetkan, penetapan cagar budaya itu dapat dilakukan tahun 2021.

“Sedang berjalan. Rumit, karena tidak bisa sendiri, dan bekerjasama dengan tim ahli cagar budaya yang sudah bersertifikat,” pungkas Erond.

 

Perbaikan Rumah Bolon Butuh Dana Miliaran

Pamong Budaya BPCB Aceh, Totok Harianto mengatakan perbaikan Rumah Bolon di Pematang Purba memang harus segera dilakukan. Kondisinya semakin memprihatinkan. Saat ini ruangan di bagian belakang ditopang besi agar dapat tetap berdiri.

Meski dia mengaku memperbaikinya bukan pekerjaan mudah. Dari studi teknis yang sudah dilakukan termasuk penghitungan biaya, ditaksir untuk memperbaiki rumah adat itu dibutuhkan dana Rp2,5 miliar.

“Hanya untuk Rumah Bolon saja. Itu perhitungan tahun 2017, sudah sempat diajukan ke Dirjen Kebudayaan, padahal kalau kita ikuti perkembangan saat ini, pergerakan kebutuhannya meningkat tentunya,” kata Totok.

Tiang-tiang penyangga Rumah Bolon yang sudah lapuk dan kini sementara diganti dengan penyangga besi. (Damai Mendrofa)

Di sisi teknis, pengerjaan Rumah Bolon juga tidak gampang. Dimana untuk mempertahankan aspek keasliannya membutuhkan sumber kayu, yang hanya ada di kawasan hutan lindung.

“Soal kayu, memang susah, dan kita harus koordinasi juga dengan LHK, dengan provinsi dan kabupaten, karena kayunya itu ada, tapi di hutan lindung. Kita diperbolehkan secara arkeolog, dengan kualitas yang sama walau nama kayu berbeda,” kata Totok.

Dikatakannya, tahun 2020 sempat diusulkan program fisik di Rumah Bolon tersebut. Program itu hasil dari perjuangan bersama para tokoh marga Purba. Sayangnya, program tersebut akhirnya batal disebabkan COVID-19.

Sementara itu di sisi penjagaan, kendala lain juga muncul. Juru pelihara yang selama ini dipekerjakan bernama Jaipir Purba meninggal. Kini, tinggal seorang juru pelihara atas nama Deknan Purba. Itupun tidak bekerja dengan maksimal.

“Jadi kita akan pikirkan penambahannya, karena untuk seluas itu, satu orang juga tidak mungkin, jadi kedepan kita mau kembalikan status juru pelihara. Karena dialah yang melakukan pembersihan lokasi dan hal-hal lain seperti penjagaan, pengawasan, misalnya jangan sampai vandalisme. Juru pelihara ini sebagai ujung tombak pelestarian, dengan kondisi dia di lapangan, dia yang melaporkan secara bulanan dan berkala,” urai Totok.

Dia mengaku pihaknya berbagi tugas dan waktu mengerjakan berbagai hal menyangkut pelestarian asset-aset cagar budaya di dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara. Keterbatasan sumber daya manusia, menjadi persoalan klasik.

Karena itu Totok berharap peran serta dari multipihak, agar Rumah Bolon di Pematang Purba dapat dilestarikan sangat dibutuhkan. Termasuk dari keluarga besar Purba yang diminta dapat menjadikan rumah itu sebagai pemersatu.

“Kita berharap agar Rumah Bolon ini bisa jadi pemersatu keluarga, dijaga bersama dan dilestarikan bersama,” ujarnya mengakhiri.

Tinggalkan Balasan