Sipoholon, Aek Rangat Fenomenal yang Antik

Penulis dan Fotografer: Damai Mendrofa

Foto: Wisatawan menikmati bentang alam Aek Rangat Sipoholon. (Damai Mendrofa)

Situs air panas di perbukitan ini adalah hasil rangkaian keajaiban aktivitas vulkanik dan tektonik yang kini masih terjadi. Tak salah, banyak yang menyandingkannya dengan pemandian air panas Pamukkale, di Denizli, Turki

————

JALAN Lintas Sumatera di Kelurahan Situmeang Habinsaran, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara  tampak lengang. Hanya satu dua kendaraan melindas aspal hotmix. Wabah Covid-19 memang berpengaruh besar terhadap aktivitas perjalanan orang.

Tidak hanya di jalanan, suasana sepi juga terlihat di warung-warung milik warga setempat. Ada dua usaha dominan di sepanjang jalan ini, kios penjual kacang Sihobuk yang tersohor dan pemandian Aek Rangat atau air panas yang dikelola kakak beradik marga Situmeang, masuk marga tertua di daerah itu.

Berhenti di salah satu lokasi pemandian air panas, kita akan diminta membayar Rp 5.000 sebagai uang pintu. Berjalan sedikit ke belakang rumah, kita akan menemukan kolam dan petak-petak kamar mandi. Berjalan lagi lebih masuk ke dalam, ada bukit rendah bertangga-tangga tempat mata air berada.

Samar-samar terdengar suara seperti gelembung air mendidih dan desis uap dari lubang-lubang mata air di tebing-tebing bukit. Suhu panas begitu terasa menerpa kulit.

Foto: Parit-parit kecil yang mengalirkan air panas mengandung belerang menuju kolam-kolam pemandian air panas di Aek Rangat Sipoholon. (Damai Mendrofa)

Banyak mata air panas di perbukitan ini, namun yang berukuran besar cuma empat. Semua air menembus tuff lalu mengalir dan ditampung di kolam-kolam pemandian. Cara mengalirkannya sederhana, cukup dengan membentuk parit sebagai jalur air dan mengular sepanjang bukit.

Situs air panas di perbukitan ini memang fenomenal. Hasil rangkaian keajaiban aktivitas vulkanik dan tektonik yang kini masih terjadi. Tak salah, banyak yang menyandingkannya dengan pemandian air panas Pamukkale, di Denizli, Turki. Slogan: ngapain jauh-jauh ke Turki? Di Indonesia juga ada yaitu Air Panas Sipoholon sepertinya tepat.

Bahkan jika dibandingkan dengan Pamukkale, suhu air di Sipoholon tiga kali lebih panas, hampir 100 derajat. Saking panasnya, banyak pengunjung merebus telur di atas mata air. Ajaib, telur matang.

Foto: Gelembung-gelembung air mendidih di salah satu titik sumber mata air panas mengandung belerang di perbukitan Aek Rangat Sipoholon. (Damai Mendrofa)

Mengelilingi kompleks perbukitan jadi pilihan menarik dan menantang, pasalnya, harus melintasi jalur-jalur parit air panas dengan melompat-lompat. Sembari berjalan, di beberapa petak akan terlihat lantai atau dinding bukit yang memutih bak kapas karena endapan belerang.

Ada pula pengelola kolam yang membentuk jalur air antara kolam dan bukit menjadi dinding travertine kecokelatan. Di sisi jalur, air mengalir menuju kolam lewat talang bambu. Melintasi jalur-jalur ini tentu memicu sensasi tersendiri.

Saat ini, perbukitan sumber air panas Sipoholon secara garis besar terdiri dua tingkat. Tingkat pertama merupakan dataran yang terdapat tiga titik mata air dan dua gundukan. Titik mata air panas pertama berada tak jauh dari gundukan travertine kehitaman.

Sementara dua titik lainnya terdapat di kaki gundukan kedua berketinggian tiga meter, memiliki cerukan di tengahnya. Dari gundukan ini dahulunya sumber mata air panas terbesar di bukit itu, sebelum gempa dahysat pada 1987 berskala 6,6 skala richter mengguncang Tapanuli Utara.

Pasca gempa, air panas berhenti mengalir dari dalam cerukan namun memunculkan mata air panas di titik lain di perbukitan. Kini cerukan yang dapat dimasuki itu kosong. Di beberapa sisi bibirnya tertinggal retakan sisa gempa dahsyat.

“Inilah bekas gempa yang sangat kuat, air panas sempat berhenti sebentar, gak lama muncul mata air panas di sekitar perbukitan. Dari sini gak ada lagi air panas keluar,” kata Daniel Situmeang, 44 tahun, pengelola Kolam Air Panas Edelweis saat diajak berbincang di kaki gundukan.

Foto: Seorang wisatawan mengamati dinding-dinding travertine eksotis berpadu warna putih kapas, hijau dan kecoklatan di perbukitan Aek Rangat Sipoholon.(Damai Mendrofa)

Bukit kedua merupakan bukit tertinggi dan cocok dijadikan tempat bersantai sembari menyeruput kopi berteman roti karena dari bukit ini terlihat view kompleks sumber air panas Sipoholon. Jalur parit air mengular berkelok-kelok. Kolam-kolam penampungan dan barisan rumah di tepian jalan, apik. Di kejauhan terlihat panorama bukit barisan yang menghijau kebiru-biruan.

“Di sini dulu bukit sampai ke belakang hotel itu. Dulu penghasilan orang ambil belerang dan batu, dijual ke Medan. Dijadikan kosmetik, dempul, obat kulit. Ini sudah diambili makanya makin rendah,” ucap Daniel.

Di tebing bukit kedua, terdapat satu sumber mata air panas berdebit besar yang keluar tebing dan satu lagi mata air di dataran bukit yang diprediksi sudah mengecil. Air panas dari tebing ini menimbulkan desis-an menyerupai suara air mendidih yang dimasak di katel. Di sisi tebing lain, tergurat sisa aliran air panas membentuk dinding eksotis dengan perpaduan warna putih kapas dan hijau lumut. Aliran air panas dari dinding ini tersisa sedikit saja.

Bentuk bukit di Sipoholon selalu berubah, misalnya ketinggian yang semakin rendah. Gara-garanya, pengambilan belerang dan travertine yang dilakukan terus menerus. Pengambilan belerang dan travertine dianggap sebagai upaya menjaga agar tidak terjadi gundukan-gundukan akibat endapan belerang.

“Memang harus diambil, kalau gak diambil ya jadi bukit lagi, jadi tinggilah,” kata Daniel.

Dikelola Sejak 1900-an

Air belerang di Sipoholon dipercaya berkhasiat menyembuhkan beragam penyakit kulit dan menyehatkan. Itu pula mengapa pengunjung yang datang wajib mandi, tidak saja berasal dari luar daerah, juga masyarakat sekitar.

Sementara bagi para pengelola, air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mencuci pakaian. Sejak 1900-an, pemandian air panas dijadikan usaha oleh keluarga besar Situmeang.

“Orang oppung sudah buka warung, dulu dibuka untuk para penjajahlah mungkin, tapi kita di warung ini sejak 1960-an. Dulu belum pakai kolam, masih kamar mandi, airnya dialirkan ke kamar mandi. Bukitnya masih tinggi. Sudah dari dulu air panas ini ada, tidak ada cerita dari leluhur kapan,” urai Daniel.

Foto: Cerukan bekas sumber mata air panas besar di perbukitan Aek Rangat Sipoholon.(Damai Mendrofa)

Penuturan pria yang juga berbakat melukis serta mengukir batu ini, para leluhurnya menggunakan air yang keluar dari bukit sebagai air minum. Zaman dulu, perbukitan Sipoholon merupakan areal pertanian. Untuk menjadikannya air minum, biasanya dengan mendiamkan air beberapa lama agar belerang mengendap di dasar air.

Soal asal muasal sumber air, Daniel angkat bahu. Cerita turun-temurun, katanya, air panas berhubungan erat dengan gunung Dolok Martimbang. Jaraknya sekitar belasan kilometer dari Sipoholon.

“Ada gunung merapi di situ, gunung Dolok Martimbang namanya, mungkin ini pecahannya. Tapi belum ada fakta dan penelitian. Cuma itu, hanya Dolok Martimbang yang belerangnya sama dengan di sini,” ucap dia.

Ragam Mitologi

Tak jauh beda dengan tempat kebanyakan di tanah Toba, perbukitan air panas Sipoholon juga menyimpan kisah-kisah mitos, bahkan dengan beragam cerita kemunculan hewan-hewan di tempat yang tak lazim.

Misalnya kemunculan seekor ikan mas di genangan air panas. Kemunculan itu diceritakan para pengunjung beberapa kali, dan itu terjadi pasca gempa 1987.

“Yang lihat ya orangtua dulu, marga Situmeang yang datang ke sini, waktu itu banjir, di situ dilihatnya. Dulu di jalur ini kan ada kayak danau, ada juga beberapa pengunjung lain yang melihat. Kami juga jadi yakin, kalau saya sih belum pernah melihat,” tutur Daniel.

Foto: Seorang pengunjung saat menikmati pemandian air panas di Sipoholon. (Damai Mendrofa)

Mitos lain yang merupakan pertanda pasca gempa yang menutup mata air utama dan memunculkan sumber mata air lain. Menurut Daniel, pertanda usaha pemandian air panas tidak lagi dikelola cuma satu orang saja, yakni oppung-nya.

“Dulu kan yang buka warung di sini cuma satu, cuma kami aja, sama oppugn ku. Sekarang sudah pecah, jadi mata airnya pecah-pecah, melebar,” katanya.

Dia juga menyebut di perbukitan itu di masa ia kecil terdapat beragam jenis ular, ada yang berwarna putih. Ular-ular itu tidak mengganggu, malah jadi mainan anak-anak. Seiring waktu pengambilan belerang terjadi, ular-ular menghilang.

Berlanjut dengan mitos keberadaan kuda-kuda di perbukitan dan ada juga api terbang. Daniel mengaku, dirinya sudah pernah melihat api tersebut secara langsung.

“Kalau menurut ku roh halus, tapi gak tahu juga, tapi itulah keanehan di sekitar sini. Sering juga terdengar suara-suara percakapan dalam bahasa Batak,” katanya.

Meski terkesan dongeng belaka, Daniel mengingatkan agar saat berada di kawasan tersebut tetap menjaga perilaku dan selalu berniat baik. Sebab, tidak jarang para pengunjung mengalami pingsan dan kesurupan.

“Kalau gak sopan, mau pingsan. Kemarin berapa kali kami angkat orang dari atas ke bawah, setelah ku kasi air putih baru sadar. Gak ada baca sesuatu, mungkin karena saya pemilik di sini, jadi kalau saya yang kasi makanya sembuh,” tukas Daniel.

 

Unik

Timbul Raya Manurung, akademisi dari Institut Teknologi Medan (ITM) menyebut air panas Sipoholon dengan kandungan belerangnya sebagai kekayaan alam yang unik dan berbeda dengan air panas lainnya seperti di Sibayak.

Foto: Seorang pengunjung mengamati travertine di jalur setapak menuju perbukitan Aek Rangat Sipoholon.(Damai Mendrofa)

Keunikan itu disebabkan travertine di Sipoholon merupakan hasil peleburan air panas mengandung sulfur dan batu gamping. Menurut Timbul, travertine bisa saja memicu kemunculan mineral berharga lainnya.

“Menariknya, air panas itu melebur dan mengkristal kembali menjadi travertine, jadi batu gampingnya beda. Menarik memang kalau air melewati batu gamping. Kalau ada sumber air panas kena gamping, ada peluang emas juga itu,” ungkap Timbul.

Soal keyakinan warga adanya korelasi antara air panas Sipoholon dengan gunung api Dolok Martimbang, Timbul tak menyanggahnya. Bawah bumi di Tapanuli Utara, selain memiliki potensi tektonik disebabkan sesar bumi, juga memiliki aktivitas vulkanologi yang aktif.

“Sarulla, Pahae, Martimbang sampai Pusuk Buhit itu semua jalur vulkanik. Artinya magma itu ada, magma geothermal. Dolok Martimbang memang yang terdekat, jadi tidak ada yang salah,” katanya.

Sesar bumi yang melingkupi Tapanuli Utara, lanjut Timbul, memiliki karakteristik yang sama dengan jalur di seluruh dunia. Pergerakan lempeng akan selalu memungkinkan terjadinya aktivitas tektonik, berpotensi memicu pergerakan magma dan mengaktifkan kembali gunung-gunung api yang selama ini tidur.

“Nah, sekarang, apakah gempa itu memicu gempa lain? Misalnya memicu gempa maqma dan mengaktifkan kembali gunung merapi lainnya? Saya pernah memprediksi pasca gempa 2004 di Aceh dan 2005 di Nias, yang paling lama itu Gunung Sinabung, mati ratusan tahun tiba-tiba aktif kembali,” tutur dia.

Meski, Timbul lantas menegaskan, aktifnya kembali Gunung Sinabung dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir mengartikan sesuatu yang bagus bagi kawah di dasar Danau Kaldera Toba. Magma itu akan terkendali karena memiliki jalur pelepasan.

“Di Danau Toba itu ada kawah Gunung Toba. Jadi dia (magma) keluar dari Sinabung, ya bagus… yang tersumbat yang berbahaya,” pungkas Timbul.

 

Tinggalkan Balasan