Tunggal Panaluan, Tongkat Sakti Datu-datu yang Jadi Incaran

Penulis: Dinda Marley

Patung seorang datu yang sedang memegang Tungkot Tunggal Panaluan di Museum Batak TB Silalahi Center, Kabupaten Toba. (Dinda Marley)

 

Tunggal Panaluan, selalu dibawa untuk melipur lara Guru Hatia Bulan dan Nan Sindak Panaluan. Dianggap layaknya masih hidup, diupacarai dan di-tortor. Roh-roh yang berdiam menjadikan tongkat sakti mandraguna, tak terkalahkan. Sepeninggal Guru Hatia, Tunggal Panaluan jatuh ke tangan datu-datu, lalu hilang saat Belanda menyerang

Orang Batak Toba mengenal tongkat sakti bernama Tunggal Panaluan, panjangnya sekitar 150 sampai 200 meter, diberi ukiran menyerupai manusia dan naga yang merupakan kisah masa lalu. Tunggal artinya satu, Panaluan bermakna selalu mengalahkan.

Tunggal Panaluan mengambarkan hubungan banua toru, banua tonga dan banua ginjang. Tiga wilayah tersebut tergambar dalam pahatan pohon yang disebut sibaran, nasib manusia. Keterkaitan ketiganya mencerminkan kosmologi Batak.

Tongkat sakti yang hanya dimiliki datu-datu ini dipercaya tempat bersemayam roh leluhur yang bisa memanggil hujan, menyembuhkan orang dan mengusir wabah penyakit, mendatangkan berkah, menjaga rumah dan kampung dari serangan musuh.

Saat mengunjungi Museum Batak TB Silalah Center di Balige, Kabupaten Toba, didapat informasi kalau Tunggal Panaluan terbuat dari kayu tada-tada. Pengerjaannya tidak sembarangan, ada ritual seperti sesajian, pangurason dan berpuasa.

Masih banyak yang memburunya, percaya bahwa siapa saja yang memiliki akan punya kekuatan, kekuasaan dan ditakuti lawan. Sekarang, duplikat tongkat banyak dijual, semuanya mengaku asli. Harganya mulai puluhan ribu sampai jutaan, toko-toko online gamlang memajangnya. Pilihan kembali kepada kita, menjadikannya cenderamata, kenang-kenangan, kepentingan seni atau koleksi pribadi.

Cerita turun-temurun perkawinan sedarah di Tano Batak menjadi muasal Tunggal Panaluan. Tersebutlah sepasang suami istri yang bertahun-tahun belum dikaruniai keturunan, namanya Guru Hatia Bulan atau Datu Arak Pane dan Nan Sindak Panaluan.

Keyakinan dan doa membuahkan hasil, setelah hampir delapan tahun menunggu, Nan Sindak Panaluan akhirnya hamil. Selama istrinya mengandung, Guru Hatia selalu dihantui mimpi buruk. Bertepatan pula dengan hari buruk dalam mitologi Batak (Ari Sirangga Pudi), Nan Sindak melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan, diberi nama Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan Tapi Nauasan Siboru Panaluan atau Si Tapi Omas.

Usai upacara pemberian nama, para tetua kampung meminta Guru Hatia Bulan memisahkan kedua anaknya agar tidak terjadi bencana di kemudian hari. Mungkin karena lama menantikan kehadiran anak-anaknya, Guru Hatia tak mengindahkan nasihat tersebut. Dia membesarkan si kembar dengan penuh kasih sayang hingga beranjak dewasa. Orang kampung memandang kedua anak itu bak sepasang kekasih.

Suatu hari, kemarau melanda, hampir tiga bulan hujan tidak turun. Tumbuhan meranggas, sawah tak ada air, mata air mengering, kehidupan seakan menuju mati. Para tetua kampung dan adat berunding lalu memanggil datu untuk mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Menurut penerawangan sang datu, penyebabnya karena ada hubungan terlarang yang dilakukan saudara sekandung.

Tak pelak lagi, tudingan tertuju kepada si kembar. Pimpinan desa dan datu menemui Guru Hatia Bulan, menjelaskan penyebab bencana akibat ulah anak kembarnya. Aji Donda dan adik perempuannya dipanggil, disidang, ditanyai macam-macam, keduanya hanya diam dan ketakutan. Guru Hatia yang tak bisa membela anaknya pasrah menerima keputusan suara terbanyak, kedua anaknya diusir dari kampung.

Ilustrasi: Para remaja etnis Batak saat mengikuti festival Gondang Naposo di Samosir 2018 lalu. (Narendra)

Dia lalu membangunkan sopo di dalam hutan untuk si kembar, sebagai penjaga, ditinggalkannya seekor anjing hitam yang setia. Beberapa hari sekali, pasangan suami istri ini sambil menahan kesedihan karena tak tega melihat nasib anaknya datang membawakan makanan. Entah mujarab atau kebetulan, sejak Aji Donda dan Tapi Nauasan tak lagi tinggal di kampung, kemarau pun berlalu.

Tak jauh dari sopo, tumbuh pohon yang batangnya dipenuhi duri. Buahnya hijau dan kalau sudah masak berwarna merah, lama-kelamaan akan menjadi merah tua. Bentuknya bulat seperti anggur, rasanya sepat, asam, namun setelah dipijat-pijat berubah menjadi asam-manis yang segar. Orang menyebutnya piu-piu tanggule, sejenis pohon tada-tada.

Suatu hari, Tapi Nauasan melihat pohon ini berbuah lebat, merah dan ranum-ranum. Dia meminta abangnya untuk memanjat dan memetikkan untuknya. Aji Donda menuruti, saat di atas pohon, dia memetik dan memakan beberapa buah. Tiba-tiba, tubuhnya tenggelam ke dalam pohon, tinggal kepalanya saja.

Tapi Nauasan yang sudah lama menunggu memanggil-manggil abangnya, tak ada jawaban. Dia lalu mendatangi pohon bersama anjingnya. Dilihatnya tubuh Aji Donda menyatu dengan batang pohon, sedangkan kepalanya masih menyembul. Semua pertanyaan tak dijawab oleh Aji Donda, akhirnya Tapi Nauasan memutuskan untuk memanjat pohon untuk menyelamatkan abangnya. Malang, dia pun mengalami nasib yang sama dengan Aji Donda.

Saat memanjat pohon, selendang Tapi Nauasan terjatuh. Anjing peliharaan mereka yang terus menggonggong membawa selendang itu kepada Guru Hatia dan istrinya. Tanda bahwa selendang itu milik anaknya, bergegas Guru Hatia menuju hutan untuk melihat anak-anaknya. Dia menemukan si kembar sudah menyatu dengan pohon dan hanya bisa terdiam.

Koleksi Tongkat Tunggal Panaluan di Museum TB Silalahi, Kabupaten Toba. (Dinda Marley)

Guru Hatia kembali ke kampung mencari pertolongan, hatinya hancur memikirkan nasib anak-anaknya, apalagi istrinya tak berhenti menangis. Sampailah dia ke Datu Parmanuk Holing yang begitu mendengar cerita Guru Hatia langsung beranjak ke hutan untuk menolong dengan kesaktiannya. Namun, ilmunya kalah, dia malah ikut dimakan pohon.

Kembali dicari datu-datu sakti yang bisa menyelamatkan sang buah hati. Datu Mallatang Malliting, Datu Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung dan Datu Jolma So Begu yang sudah mengerahkan semua kesaktiannya, bernasib serupa, badannya lenyap di dalam batang pohon. Tujuh kepala sudah bertengger, Guru Hatia hampir putus asa.

Tinggal dukun terakhir, Datu Parpansa Ginjang. Datu ini, tidak seperti rekan-rekannya yang langsung memanjat pohon sehingga badannya dimakan oleh pohon ajaib. Dia terlebih dahulu berdoa, meminta persembahan dan manortor. Seekor kerbau dipotong, pohon ditebang, dibawa ke kampung.

Untuk menghentikan tangisan Nan Sindak Panaluan yang kehilangan anaknya, batang dipahat menyerupai rupa anak-anaknya. Ikut pula lima datu yang menolong, anjing peliharaan, binatang lain yang ikut lengket seperti cicak dan ular. Bagian paling atas adalah ukiran si Aji Donda, lengkap dengan rambut yang dililit benang tiga warna yaitu putih, hitam dan merah (bonang manalu).

Tunggal Panaluan, selalu dibawa untuk melipur lara Guru Hatia Bulan dan Nan Sindak Panaluan. Dianggap layaknya masih hidup, diupacarai dan di-tortor. Roh-roh yang berdiam menjadikan tongkat sakti mandraguna, tak terkalahkan. Sepeninggal Guru Hatia, Tunggal Panaluan jatuh ke tangan datu-datu, lalu hilang saat Belanda menyerang.

—–

Penerima Kalpataru 2005 sekaligus pemilik Taman Eden 100, Marandus Sirait mengaku dirinya sedang mengembangkan pohon piu-piu tanggule, tada-tada, ruham atau  rukam menjadi buah khas dari Toba. Laki-laki ramah ini menyakini, akan cepat laku karena punya nilai historis.

“Orang penasaran, buahnya mirip seperti anggur, rasanya manis. Kalau di hutan, buah ini menjadi makanan burung, kera, tupai, tikus. Kelelawar suka sekali memakannya, makanya susah mendapatkan buahnya. Dulu waktu mau mengambil bibitnya, saya kelambuin semua…” kata Marandus kepada penulis yang menemuinya awal November 2020 lalu.

Pohon Tada-ada atau Piu-piu berumur 15 tahun yang tumbuh di Taman Eden. (Dinda Marley)

Disebut sipiu-piutang gule karena kalau buahnya kurang masak, sebelum dimakan, diputar-putar dulu di telapak tangan biar manis. Piu artinya putar-putar, tang artinya semakin, gule itu artinya gula atau manis. Selain lunak akibat diputar-putar, menurut Marandus, terjadi persenyawaan yang membuat rasa kelat menjadi manis.

“Itulah makanya disebut piu-piu tanggule, itu arti bahasa Bataknya, biar manis…” saya tertawa mendengarnya.

Sambil memetik buah yang berada di pucuk dahan, Marandus bercerita tentang Tunggal Panaluan. Katanya, saat berada di hutan, Tunggal Panaluan lapar lalu memanjat dan memetik buah kemudian badannya tak bisa lepas dengan batang pohon. Istrinya yang datang menolong juga melekat di pohon. Anjing setia milik si Tunggal Panaluan memberitahu ke kampung, ditarik-tariknya orangtua si Tunggal Panaluan agar masuk kehutan.

“Begitu didapati, sudah pada lengket semua di pohon. Ada tikus, cicak, ular, lengket di pohon itu. Dipanggillah dukun untuk menolong, ternyata dukun ikutan lengket. Makanya seram tongkat itu, ada berbagai binatang-binatang,” ucapnya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Dipanggillah dukun yang paling sakti, lanjut dia, diambillah pohon itu dan dibuatlah peringatan tidak boleh lagi ada perkawinan dua individu yang terkait erat secara genetik atau garis keluarga alias incest.

Kan, saudara kandungnya ini si Aji Donda dan si Tapi Nauasan. Waktu lahir kembar, satu cewek, satu cowok, biasanya jarang itu, kan? Kalo di orang Batak dulu, kalau kembar sepasang begini, satu harus dipisahkan sejak kecil supaya tidak saling kenal, supaya tidak saling jatuh cinta. Entah bagaimana dulu ceritanya, keduanya bertemu kembali dan saling jatuh cinta, kawin. Setelah orang tahu bahwa mereka saudara kandung, hukum adat bicara, harus diusir dari kampung. Nah, itulah ceritanya mereka ke hutan…” tuturnya.

Marandus menunjukkan pohon tada-tada yang ditanamnya, berumur sekitar 15 tahun. Tidak terlalu besar dan tinggi, sudah layak dibuat tongkat karena kokoh dan batangnya sudah keras. Dia pernah menemukan pohon ini di hutan sewaktu orangtuanya masih hidup, menurutnya umur pohon sekitar 70 tahun namun posturnya tidak besar seperti hariara atau tualang, hanya sebesar paha orang dewasa.

“Pohon ini, saat berumur tujuh tahun ke bawah banyak ditumbuhi duri. Semakin tua, duri-durinya hilang. Tikus, kelelawar dan tupai suka memakan buah ini, menurut saya, itu berarti gizinya tinggi. Ada buah pohon, jenis burung tertentu yang makan. Ini semua yang makan,” ujar dia.

Marandus bilang, kalau bukan dari kayu tada-tada, tongkat Tunggal Panaluan tidak bisa sakti. Pemilik tongkat akan terlihat gagah saat memegangnya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sejarah tongkat adalah aib, tapi dia tidak bisa menjelaskan lagi bagaimana ceritanya tongkat bisa memiliki kesaktian.

“Memang si Tunggal Panaluan yang lengket di pohon ini. Makanya tongkat itu sebenarnya seram, ada rambut yang terurai, ada cicak, ada ular, ada anjing… Tongkat sakti ini hanya bisa digunakan oleh orang yang sakti juga. Dia bisa bertanya ke tongkat, apa yang akan terjadi besok dan tongkat akan memberitahukan kejadian yang akan dihadapi. Misalnya Belanda atau musuh mau datang sehingga dipersiapkan segala sesuatunya,” katanya lagi.

Ditanya apakah Sisingamangaraja juga memakai tongkat ini, Marandus mengiyakan. Beberapa ratus tahun sebelum ada Sisingamangaraja, tongkat Tunggal Panaluan sudah ada. Beberapa tokoh adat dan masyarakat Batak yang terkenal juga diketahuinya memiliki tongkat ini, salah satunya Almarhum Gerhard Mulia Panggaben atau GM Panggabean.

“Asli yang dia punya, asli yang ada mistisnya. Menurut saya pasti ada itu, dan beberapa orang-orang zaman dulu, generasinya, pejabat-pejabat teras zaman dulu. Atau sebesar Suharto, pasti ada itu karena pernah dia datang ke sini di 1975, pasti tongkat itu dikasi dan bukan imitasi. Ada beberapa di Belanda, diambil dari raja-raja Batak dulu,” ucap Marandus dengan mimik mengingat-ingat.

“Jadi, kayu apapun dia, itu hanya tongkat biasa. Tunggal Panaluan, tapi tidak sakti… Harus kayu ini karena punya sejarah. Maka kayu sebesar ini, sejengkal harganya sekarang satu sampai dua juta,” katanya sambil mengatakan, sampai saat ini, tidak ada fungsi lain dari pohon piu-piu tanggule selain kayunya dibuat tongkat.

“Tapi kayu ini sulit dicari, ini kan karena saya budi dayakan, saya bibitkan. Selama ini tidak ada yang tahu membibitkannya, harus mencari ke hutan. Ini ditanam dari biji,” katanya.

Selama ini orang sulit membibitkan karena sulit mendapatkan biji. Sepengetahuan Marandus, pohon tada-tada hanya satu varietas.

“Saya belum pernah menemukan buah yang mungkin agak beda warna dan rasanya. Saya tanya di daerah lain, sama semua. Sebutannya aja yang berbeda, kalau di Tapsel disebut ruham,” ucapnya sambil mengajak saya berjalan memasuki areal taman yang dipenuhi pohon-pohon langka.

Alasan sangat menjanjikan sebab nilai jualnya mahal, Marandus membibitkan dengan cara stek pucuk atau cangkok karena kalau dari biji harus menunggu tujuh tahun baru bisa menikmati buahnya.

“Kalo cangkok atu stek pucuknya, mungkin setahun sudah berbuah untuk mendukung Danau Toba ini. Entah manis, entah kurang manis buahnya nanti, tapi nilai jualnya ada, khas.. Kalau asam, tinggal diolah, bikin jus, tambahkan gula sikit atau dicampur buah lain, segala macam,” kata ketua asosiasi UMKM Sumut wilayah kawasan Danau Toba ini.

Di Taman Eden 100, ada sekitar 30-an batang yang ditanam. Kalau bibit, lebih banyak lagi, dijual mulai harga Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per batang. Pembelinya kebanyakan orang-orang tertentu dan mengerti saja. Pohon ini bisa hidup di mana saja namun tetap Tano Batak habitatnya.

“Saya lihat ada tumbuh di Medan dan berbuah, tapi pohonnya kecil, tidak sebesar di Toba. Ada orang kerja di kehutanan dulu, dia bawa bibitnya ke Medan,” pungkas penggiat lingkungan yang terkenal kritis ini.

Sewaktu penulis masih duduk di sekolah dasar, sekitar 40-an tahun lalu, sebatang pohon rukam tumbuh di halaman rumah opung di Kota Binjai. Buah ini juga masih gampang ditemui, apalagi di pajak-pajak (pasar) dan harganya murah. Banyak teman-teman sanggup memakan buah yang menurut penulis rasanya terlalu asam ini. Bahkan saat dicicipi dengan gula, bagi penulis tetap asam. Sebelum dimakan, biasanya buah merah sebesar kelereng ini dipijat-pijat dulu supaya lembek dan rasa sepatnya berubah manis.

Kini, pohon rukam teramat susah ditemui, kelestariannya terancam. Ternyata, manfaatnya banyak, tidak cuma untuk manisan dan bumbu. Rukam berkhasiat sebagai obat diare dan gangguan pencernaan. Untuk itulah, sejak 2018, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aeknauli di Pematangsiantar sesuai siaran pers yang dilansir dari menlhk.go.id mulai membudi dayakan kembali rukam bersama sembilan jenis pohon buah hutan khas Batak lainnya di Taman Etnobotani di Arboretum Aeknauli.

Seorang peneliti di BP2LHK Aeknauli, Aswandi mengatakan, di kawasan Danau Toba, rukam jarang dibudidayakan dan kurang mendapat perhatian masyarakat. Buah-buah impor yang beredar bebas menggerus keberadaan buah-buah lokal. Konservasi dan pengembangan adalah upaya pelestariannya, diperbanyak secara generatif dan vegetatif.

Rukam memiliki nama ilmiah Flacourtia rukam, Zoll dan Moritzi, dengan nama sinonim Flacourtia euphlebia. Tinggi pohon dapat mencapai 20-an meter, pada batangnya terdapat duri-duri yang panjangnya bisa mencapai 10 centimeter. Termasuk jenis tanaman yang cepat tumbuh semainya namun lambat pertumbuhannya. Kayunya keras dan kuat, dapat digunakan untuk perabot rumah tangga seperti alu dan mebel.

Rukam dapat dijumpai di kawasan tropis Asia Tenggara dan India. Di daerah penyebarannya, rukam dikenal dengan banyak nama lokal seperti ta khop thai (Thailand), rukam manis, rukam gajah, rukem (Malaysia), jawa rukamu (Jepang) dan rukam di Filipina. Di Indonesia disebut rukem, ganda rukem, gerendang (Jawa), klang tatah kutang (Kalimantan). Orang Inggris menyebutnya indian prune.

Tinggalkan Balasan